pelantar.id – Kedekatan Pulau Batam dengan negara Singapura akan dimaksimalkan oleh pemerintah dengan mengembangkan kembali zona bisnis. Pemerintah Indonesia bertekad menarik investasi hingga US$60 miliar dari negara-negara tetangga.

Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Edy Putra Irawady mengatakan, pemerintah ingin memposisikan Pulau Batam sebagai alternatif pengiriman dan pusat produksi menuju Singapura. Sejak dipromosikan sebagai kawasan industri di era 1970-an, pemerintah sudah menarik nilai investasi sekitar US$20 miliar.

Pada tahun 2007, pemerintah menetapkan Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (Free Trade Zone/FTZ). Sejak itu, Batam tumbuh menjadi rumah bagi ribuan perusahaan lokal dan asing yang memproduksi berbagai macam barang mulai dari komputer hingga rig minyak.

Edy mengatakan, pemerintah saat ini ingin memperluas manfaat bagi bisnis dengan mereklamasi sekitar 8.000 hektare lahan kosong atau sitaan untuk ditawarkan kepada eksportir atau produsen barang pengganti impor. Ke depan, pemerintah akan melakukan pengembangan kantong-kantong zona ekonomi khusus di Batam, dengan kluster khusus untuk pariwisata dan logistik.

“Berdasarkan perhitungan kasar, investasi potensial termasuk yang ada dalam pipeline bernilai sekitar US$60 miliar,” ungkap Edy, Jumat (1/2/19).

Baca Juga :   Dubes Inggris Jajaki Kerja Sama Usaha di Batam

Kawasan FTZ Batam terdiri dari delapan pulau berukuran 71.500 hektare. Wilayah ini semakin penting sebagai tujuan investasi bagi perusahaan asing, terutama perusahaan Singapura. Hal itu tak lepas dari lokasi Batam yang berada di salah satu jalur pengiriman tersibuk, dengan tenaga kerja murah, dan keringanan pajak.

Perusahaan yang beroperasi di kawasan perdagangan bebas dibebaskan dari pajak pertambahan nilai (PPN) dan PPNBM, serta bea impor.

Menteri Perindustrian Indonesia, Airlangga Hartarto mengatakan, pulau-pulau di Batam tersebut cocok dengan perusahaan-perusahaan yang ingin merelokasi pabrik-pabrik mereka ketika perang perdagangan AS-China mengganggu rantai pasokan global.

Kementerian Perindustrian menyatakan perusahaan asal Taiwan, Pegatron Corp. telah mengumumkan kemitraan investasi dengan produsen elektronik lokal PT Sat Nusapersada, sementara Apple Inc. berencana untuk membuka akademi pengembang baru di Batam.

Kesepakatan Asean

Edy mengatakan, sejumlah perusahaan juga tertarik untuk berinvestasi dalam pariwisata, barang elektronik, serta industri galangan kapal. Di bawah kelompok ekonomi khusus, perusahaan tersebut akan menikmati insentif pajak dan tunjangan yang ditetapkan berdasarkan perjanjian perdagangan bebas Asean.

Baca Juga :   Sea-Doo Safarai Menambah Daftar Wisata Bahari Batam


Edy Putra Irawady

Perpanjangan manfaat perdagangan bebas Asean dapat memacu perusahaan-perusahaan di Batam untuk secara langsung memasok barang-barang ke wilayah lain di Indonesia daripada mengarahkannya ke Singapura.

Edy melanjutkan, pemerintah juga tengah berupaya memperluas kapasitas bandara internasional Batam, yang bersama dengan tujuan wisata populer Nongsa akan diubah menjadi zona ekonomi khusus pertama di pulau yang didedikasikan untuk pariwisata dalam dua tahun ke depan.

Lokasi strategis Batam di sepanjang Selat Malaka, yang menghubungkan rute pelayaran internasional antara Samudra Hindia dan Pasifik, adalah keuntungan utama yang ingin dipromosikan lebih lanjut.

“Singapura sudah terlalu ramai. Bicara soal layanan pengiriman minyak mentah, misalnya, beberapa kapal sudah pindah dari Singapura ke Batam,” katanya.

“Pengirim barang dari daerah seperti Jakarta dan Semarang juga mengandalkan layanan panggilan langsung di Singapura untuk mengirimkan barang mereka ke luar negeri. Kami ingin memindahkan semuanya ke Batam nanti,” lanjutnya.

*****

Sumber: Bisnis.com