Perhatian Qualcomm kini tertuju pada pergeseran besar di cara orang berinteraksi dengan perangkat. Di tengah pembicaraan soal personal AI, perusahaan itu menilai suara akan menjadi antarmuka utama ketika kecerdasan buatan makin menyatu ke dalam perangkat sehari-hari.
Pandangan itu disampaikan Senior Vice President dan General Manager Wearables and Personal AI Qualcomm, Dino Bekis, yang melihat arah komputasi personal bergerak ke pengalaman yang lebih alami. Ia menilai bahasa berbasis ucapan jauh lebih minim hambatan bagi pengguna, terutama saat AI dirancang supaya terasa mudah dipakai dan tidak rumit.
Bekis menggambarkan evolusi antarmuka perangkat sebagai perjalanan panjang. Setelah era mouse komputer lalu layar sentuh, tahap berikutnya, menurut dia, semakin dekat ke suara sebagai cara pengendalian yang lebih dominan.
Ia bahkan menyebut suara sebagai antarmuka yang wajib untuk AI pada tahap sekarang. Menurut Bekis, itu menjadi penting setidaknya sampai suatu saat perangkat bisa dikendalikan hanya lewat pikiran.
Dari sudut pandangnya, AI baru akan benar-benar terasa kuat jika interaksinya dibuat sesederhana mungkin. Karena itu, suara dinilai sebagai cara komunikasi paling alami bagi manusia dan paling cocok untuk mengurangi friksi saat memakai teknologi.
India berubah dari pasar menjadi pusat inovasi
Di sisi lain, Qualcomm melihat India sedang mengalami perubahan besar dalam ekosistem teknologinya. Negara itu kini tidak lagi dipandang sekadar pasar besar, melainkan mulai naik kelas sebagai tempat lahirnya inovasi baru.
Bekis mengatakan pergeseran itu terasa sangat jelas jika dibandingkan dengan dua dekade lalu. Saat itu, fokus banyak pihak masih bertumpu pada infrastruktur dan proyek industri, sementara sekarang India dinilai lebih berani membangun teknologi baru yang bertaraf global.
Ia juga menilai India tidak hanya punya tenaga kerja terdidik, tetapi semakin aktif memanfaatkan kemampuan itu untuk memecahkan masalah besar di dalam negeri. Bagi Bekis, hal ini membuat India bergerak dari sekadar tempat konsumsi teknologi menjadi lokasi lahirnya inisiatif baru.
Dalam penilaiannya, ekosistem yang dulu didominasi perusahaan besar dan cenderung monolitik kini tampak lebih hidup. Suasana yang lebih berjiwa wirausaha itu, menurut dia, membuat India makin siap mengambil peluang di teknologi yang benar-benar baru di tingkat global.
Bekis bukan orang baru bagi tim Qualcomm di India. Ia mengatakan sudah sering datang ke negara itu selama hampir 20 tahun, sehingga menyaksikan langsung perubahan karakter industri teknologinya.
Pernyataan tersebut ia sampaikan di sela acara Snapdragon For India di Delhi. Dalam agenda itu, Qualcomm memperkenalkan prosesor Snapdragon baru dari Series 4 dan Series 6 yang disebut telah disetel khusus untuk menghadirkan pengalaman terbaik dalam kondisi penggunaan di India.
Dorongan ke perangkat AI-first
Selain membicarakan India, Bekis juga menyinggung arah pengembangan perangkat yang berpusat pada AI. Qualcomm, kata dia, sudah bekerja dengan sejumlah perusahaan untuk menghadirkan gadget yang sepenuhnya menjadikan AI sebagai inti pengalaman.
Ia menyebut perusahaan itu sangat aktif dalam rencana membawa perangkat AI-first ke pasar. Walau tidak mengonfirmasi atau membantah keterlibatan Qualcomm dalam proyek OpenAI yang belakangan dirumorkan, Bekis memberi sinyal bahwa Qualcomm terlibat luas dalam kategori perangkat seperti itu.
Dalam beberapa pekan terakhir, muncul laporan tentang OpenAI yang dikabarkan mengerjakan beberapa gadget AI-first, termasuk earphone augmented dan pendant dengan teknologi seperti ChatGPT. Bekis tidak membuka detail soal hubungan Qualcomm dengan proyek itu, tetapi ia mengatakan bahwa jika publik mendengar rumor industri tentang perangkat AI baru, besar kemungkinan ada teknologi Qualcomm di dalamnya.
Ia menyebut hal itu berlaku baik untuk upaya yang berlangsung di Silicon Valley maupun di China. Menurut Bekis, posisi Qualcomm tidak hanya ditopang kemampuan perangkat keras, tetapi juga investasi jangka panjang perusahaan di teknologi wearable.
Bekis menegaskan Qualcomm sudah berada di garis depan wearable bahkan sebelum kategori itu benar-benar populer. Fondasi itu, menurut dia, membuat perusahaan berada di posisi penting saat industri kini bergerak menuju perangkat yang dibangun dengan pendekatan AI sebagai inti.
Soal waktu peluncuran, belum ada perusahaan yang mengumumkan jadwal pasti untuk perangkat AI-first tersebut. Namun Bekis mengatakan pasar kemungkinan akan mulai melihat produk seperti itu dalam enam sampai 12 bulan ke depan, atau pada akhir tahun ini hingga awal tahun depan.
Di tengah perubahan itu, Qualcomm tampak membaca dua arah sekaligus: India yang makin menonjol sebagai pusat teknologi baru, dan industri perangkat yang bergerak ke era AI-first dengan suara sebagai jembatan utama antara manusia dan mesin.
Source: www.indiatoday.in