Pelantar.id – Pantai-pantai di Indonesia memiliki ombak menantang. Sebut saja Mentawai, Sorake Nias, Krui Lampung, Simelue Aceh, Sengkokang Sumbawa Barat. Sehingga Indonesia menjadi negara yang berpotensi menyediakan spot surfing kelas dunia. Sementara, Pantai Keramas Bali baru masuk dalam seri kejuaraan dunia surfing.

Sejak tahun 2017 Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meggandeng World Surfing League (WSL) dan Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI). Tujuannya agar kejuaraan internasional surfing di Indonesia semakin semarak. Selain itu, penyenggelaran kejuaraan dapat memberikan dampak ekonomi yang luar biasa.

Contohnya di Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Di sana, masyarakat sudah sadar dan melakukan beragam usaha. Baik penginapan, restoran, guest house, dan lainnya. Hal ini impact dari semakin banyaknya surfer mancanegara yang hadir di Pesisir Barat.

Perwakilan WSL Indonesia, Tipi Jabrik di Sumbawa Barat, Senin (9/10) yang dilansir dari liputan6 cukup yakin menilai Indonesia sangat tepat bila dijadikan destinasi utama para surfer mancanegara. Karena Indonesia memiliki ombak yang konsisten dari Aceh hingga Papua dan itu sangat potensial di kembangkan. Bahkan di Sumbawa Barat sendiri ombaknya sudah terkenal sejak tahun 90-an oleh wisatawan mancanegara.

Baca Juga :   BPOM Buka Lowongan CPNS

“Kalo wonderful Indonesia berkibar di dunia dengan pariwisatanya. Cabangnya itu ada ‘Number one surfing destination in the world’. Alasannya Indonesia memiliki lautan yang paling konsisten menghasilkan ombak. Namun itu belum digarap secara serius. Saya harap semua stakeholder men-support itu,” ujarnya.

 

Banyak peminat surfing ke Indonesia

Tipi Jabrik yang dikenal sebagai surfer profesional, mengatakan, saat ini peminat surfing yang ke Indonesia itu sangat besar. Selain Australia yang paling baru adalah wisatawan asal China. Dan porsinya sangat besar. Saat gelaran event surfing lokal di sana viewersnya mencapai 20 juta orang. Makanya potensi banget pangsa pasar China untuk di datangkan.

“China jadi salah negara terkuat untuk olahraga. Terlebih surfing saat ini dilombakan di Olimpiade. Oleh karena itu, setiap olahraga yang mereka bisa terlibat, mereka akan mengembangkannya secara serius. Termasuk di pantai China. Mereka membuat tujan wisata surfing seperti di pulau Hainan, Hangzou, Shezhen itu ada ombaknya. Tapi kebutulan Indonesia ombak paling bagus di dunia. Saat off season mereka datang ke Indonesia,” katanya.

Baca Juga :   Kampung Wisata Terih, Buah Integrasi Masyarakat dan Alam

Sekretaris Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata Ratna Suranti menambahkan, potensi ini memang baru dikembangkan sejak 2017. Kejuaraan dunia surfing yang bekerja sama dengan WSL, 80 persen pesertanya adalah wisatawan mancanegara. Setiap kejuaraan selalu disiarkan di website www.worldsurfleague.com atau bisa di download dengan aplikasi baik di android ataupun Ios WSL.

“Olahraga surfing ini memiliki media valeu yang tinggi. Seperti di West Sumbawa Pro AMNT 2018. Pada pelaksanaan hari pertama saja event ini sudah disaksikan sekitar 10 ribu viewer dari seluruh dunia. Sehingga, mereka bisa lebih real melihat ombak di Sengkongkang. Dan diharapkan mereka saat event bisa datang dengan keluarga dan teman-temannya. Dan tidak hanya saat event ini saja mereka datang,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Bidang Pemasaran Area II Regional III Kemenpar, Hendry Noviardi mengatakan, event surfing dapat memacu semangat Pemprov NTB, Pemerintah Kabupaten, dan industri pariwisata. Serta, mempercepat program recovery destinasi pariwisata terdampak dan promosi pariwisata tidak terdampak di NTB.

Baca Juga :   Bright Tanam 200 Pohon Tabebuya di Sijantung Batam

“Gempa yang melanda Lombok dan NTB umumnya, telah membuat sejumlah infrastruktur rusak, tetapi sejumlah destinasi wisata masih terhindar dari gempa, sehingga masih aman untuk dikunjungi siapapun. Dengan adanya event ini kami berharap pariwisata Lombok dan NTB secara umum dapat segera bangkit,” ujarnya.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya, mengatakan bahwa ada tiga hal strategis terkait dukungan promosi Kemenpar di event ini. Pertama, penggemar surfing ini adalah wisatawan mancanegara (wisman) yang kebanyakan berasal dari Australia.

Mereka sudah menjadikan Bali sebagai the second home karena surfing. Mereka sudah familiar berselancar di ombak Kuta Bali.

“Market-nya sudah jelas, mereka sudah ke Bali. Sekarang tinggal diperkenalkan spot baru itu ke negaranya,” kata Arief.

Kedua, prinsip dalam sport tourism juga harus dipakai. Di event-nya sendiri, mungkin tidak besar direct impact-nya, tetapi dampak indirect-nya atau media value-nya pasti jauh lebih tinggi.

Sumber: liputan6