Insiden Tendangan Kungfu di EPA U-20, PSSI Minta Komdis Turun Tangan Cepat

PSSI menaruh perhatian besar pada insiden dugaan kekerasan yang terjadi di laga Elite Pro Academy U-20. Kasus yang disebut sebagai tendangan kungfu dalam duel Dewa United U-20 melawan Bhayangkara FC U-20 di Stadion Citarum, Semarang, itu langsung masuk ke ranah disiplin federasi.

Bagi PSSI, peristiwa tersebut bukan sekadar pelanggaran biasa di lapangan. Federasi menilai kejadian itu menyangkut pembinaan pemain muda dan harus ditangani cepat agar tidak memberi contoh buruk bagi kompetisi kelompok umur.

Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi mengatakan laporan resmi sudah diterima dan telah diteruskan ke Komite Disiplin. Ia menegaskan pimpinan PSSI mengecam keras tindakan tersebut dan meminta proses penanganannya tidak ditunda.

“PSSI sudah menerima laporan tentang kejadian antara pertandingan Dewa United dan Bhayangkara di Elite Pro Academy. Dan Ketua Umum sangat mengutuk keras atas kejadian ini,” ujar Yunus Nusi.

PSSI juga mendorong agar sidang Komdis menjadi prioritas. Federasi ingin ada putusan yang jelas dan tegas, karena kasus ini dinilai berkaitan langsung dengan etika bertanding di level usia muda.

“Dan PSSI segera menyampaikan hal ini kepada Komite Disiplin untuk diambil tindakan seberat-beratnya. Dan diminta ini menjadi prioritas sidang Komdis untuk segera dilaksanakan dan diputuskan,” kata Yunus Nusi.

Sorotan ke pemain Bhayangkara FC U-20

Berdasarkan laporan yang beredar, aksi yang memicu perhatian itu diduga melibatkan pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto. Nama pemain yang pernah memperkuat Timnas Indonesia U-17 pada Piala Dunia U-17 2025 itu kini ikut berada dalam proses disiplin.

PSSI melihat tindakan seperti itu tidak sejalan dengan tujuan pembinaan. Di ajang usia muda, pemain diharapkan bisa menjaga emosi, menghormati lawan, dan tetap bermain dengan sikap sportif meski pertandingan berlangsung panas.

Yunus juga menyayangkan masih munculnya kejadian serupa dalam kompetisi pembinaan. Menurut dia, pemain semestinya sudah memahami batas perilaku saat berada di lapangan, sehingga tindakan emosional justru merugikan diri sendiri.

“Sekali lagi kami prihatin dengan kejadian hal ini, masih ada peristiwa-peristiwa seperti ini yang terjadi di pemain,” tutur Yunus Nusi.

Dampak yang tidak hanya soal hukuman

PSSI mengingatkan bahwa tindakan buruk di pertandingan bisa berdampak lebih jauh dari sekadar sanksi individu. Reputasi pemain bisa ikut tercoreng, sementara klub juga ikut menanggung akibat dari perilaku yang tidak disiplin.

Federasi meminta pemain lebih waspada dalam menghadapi situasi apa pun di atas lapangan. Tekanan pertandingan, emosi, dan tensi tinggi tidak boleh membuat pemain kehilangan kendali.

“Waspada kepada pemain, apapun yang terjadi di lapangan, tetap selalu bersikap jangan emosional, sabar. Dan tentu ini juga akan merugikan pemain itu sendiri termasuk merugikan klub,” ucap Yunus Nusi.

Dengan begitu, federasi ingin pesan disiplin benar-benar tersampaikan ke seluruh pemain muda. PSSI berharap insiden seperti ini tidak dianggap sepele, karena pembinaan usia muda justru menjadi tempat membentuk karakter dan kebiasaan bermain yang benar.

Perangkat pertandingan ikut jadi perhatian

Selain fokus pada pemain yang diduga melakukan tindakan kekerasan, PSSI juga menyoroti kemungkinan ada hal yang perlu dievaluasi dari perangkat pertandingan. Komite Wasit di bawah arahan Yoshimi Ogawa diminta menelaah jalannya laga jika memang ditemukan unsur pengawasan yang kurang maksimal.

Langkah itu menunjukkan bahwa federasi tidak hanya melihat persoalan dari sisi pelaku. Penyelenggaraan pertandingan juga menjadi bagian penting dalam menjaga integritas kompetisi, terutama ketika yang bertanding adalah kelompok umur.

Karena itu, laporan yang sudah diterima PSSI kini menunggu tindak lanjut dari Komite Disiplin. Sidang yang diminta segera digelar akan menentukan seperti apa sanksi yang dijatuhkan, sekaligus menjadi ujian bagi ketegasan penegakan aturan di Elite Pro Academy U-20.

Baca Juga

Back to top button