Penulis: H.M Chaniago

Gak sedikit orang-orang yang hidupnya berubah setelah menonton filmNicholas Saputra, Janji Joni (2005)

Pelantar.id – Narator berbicara, sementara orang-orang hilir mudik di dalam frame bersama segenap isi pikiran mereka. Perempuan dengan blazer, pria berambut pendek dengan setelan kemeja kantor. Ada yang berjalan sembari menelfon, ada yang menggerai rambutnya atau memang tertiup angin.

“Coba lihat di sekeliling lo, 7 dari 10 orang yang lo temuin akan mengaku sebagai pecinta film, dan kalau lo mendekat ke mereka lo akan bisa mendengar mereka berpikir tentang film” celoteh narator.

Detik kemudian, beberapa orang asing yang tidak kita kenal itu bersuara di dalam pikiran, sementara kita dibawa untuk menguping pembicaraan lebih dalam ketika persoalan film menjadi pembahasan.

“Gak sedikit orang-orang yang hidupnya berubah setelah menonton film” nyinyiran narator kembali terdengar.

Bisa jadi kalimat itu membawa pernyataan yang cukup benar. Bruce Bridgeman pernah mengalaminya. Pria yang saat itu berusia 67 tahun ini mendapati kembali hidupnya berubah pasca menonton Hugo karya Martin Scorsese, bersama istrinya di kota Santa Cruz, Amerika.

Penyakit stereo-blindness yang ia derita, perlahan mulai tersembuhkan. Sebelumnya, menonton film bagi Bruce merupakan hal yang tidak menyenangkan karena sistem akseptasi inderanya berbeda dengan manusia normal, segala hal baginya hanya terlihat pepat.

Akan tetapi pengalamannya menonton Hugo dalam format 3D membuat dia perlahan-lahan mampu melihat dan mencecap banyak hal di sekitarnya secara galib. Tak ada lagi kebingungan kala membedakan jarak benda yang satu dengan benda yang lainnya.

Begitu juga pada shawarma, jenis makanan khas Arab berbahan daging dan dibumbui itu menjadi kayun seketika post-credit lucu muncul di akhir film The Avengers.

Baca Juga :   Facebook Curi Pesan Audio dari Messenger Pengguna

Post-credit itu menampilkan para anggota Avengers merayakan keberhasilan mempertahankan dunia dari invansi Chitauri. Mereka terlihat sedang menyantap makanan khas Arab tersebut hingga menjadi dikenal banyak fans berat Marvell Universe.

Lalu bagaimana dengan film Janji Joni?

Janji Joni adalah debut Joko Anwar dalam layar sinema perak, dan Nicholas Saputra kembali menampilkan sisi lainnya menghapus image Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta.

Mungkin impact ke penonton tak sekuat beberapa film lainnya, akan tetapi beberapa hal bisa menjadi pertimbangan. Mulai dari soundtrack yang ditampilkan hingga kesadaran untuk memahami bahwa setiap pekerjaan memiliki resiko dan nilai manfaat bagi orang kebanyakan (beberapa film lain menampilkan).

Benang merahnya berkutat tentang pekerjaan Joni sebagai pengantar roll film dari satu studio ke studio lainnya. Akurasi waktu selalu menjadi pertimbangan, namun kenyataan kadang mempengaruhi.

Bagi saya pribadi, film ini cukup kuat membawa perubahan pada playlist lagu yang saya dengarkan. Teriakan Sir Dandy bersama Teenage Death Star dalam lagu “I’ve Got Johnny in My Head” seketika selalu terngiang. Tak ayal sembari berangkat kerja saban hari di atas motor lagu dikumandangkan.

Memang selepas menontonnya saya tidak langsung berkeinginan hijrah ke Jakarta lalu bekerja sebagai pengantar roll film, atau seperti Michael Jackson tiba-tiba berkunjung ke kantor Stanley Media untuk berkonsultasi perihal keinginannya membeli studio Marvel, seharga USD 180 juta. Alasan utama legenda hidup pop star itu hanyalah ingin memerankan karakter Spider-Man.

Janji Joni juga membawa arus pemikiran yang luas perihal pekerjaan, apa pun pekerjaan jika dilakukan dengan senang hati dan juga bisa kita nikmati, maka hanya satu hal, kebahagiaan mudah menghampiri atau rasa tanggungjawab yang kuat akan melekat. Seperti Joni ketika tas berisi roll filmnya dicuri anak band yang kebingungan.

Baca Juga :   KPU: Debat Pilkada Kepri Hanya Dilakukan 1 Kali karena Pertimbangan Covid-19

Pekerjaan yang paling baik adalah di mana kamu bisa menikmati pekerjaan itu

Persoalan soundtrack dalam film, Jane Knowles Marshall dalam An Introduction to Film Sound, menuliskan, bahwa film adalah bentuk dari pengalaman visual yang tidak bisa dipisahkan dari suara yang mendukung film itu sendiri. Memilih soundtrack bisa jadi sama rumitnya dengan membuat film.

Nilai lebih Janji Joni bagi saya di sini, selain kisahnya yang memang menarik untuk terus diikuti hingga film berakhir. Soundtrack yang dipilih David Tarigan, produser OST Janji Joni turut berpengaruh dalam list lagu yang sering saya dengarkan.

Selain diisi Teenage Death Star, lagu latar juga menampilkan Goodnight Electric, Sore, Stephanus Citra Pramadi & Filiberto Tobing, Ape On The Roof, The Adams, Zeke and the Popo, Media Distorsi, The Jonis, Sajama Cut, White Shoes & The Couples Company, Salvatore Mamadou, bahkan country ala Tantowi Yahya.

Menariknya lagi, salah seorang teman saya yang pada dasarnya kaku dan tidak terlalu memiliki keberanian untuk berkenalan dengan perempuan, pernah suatu waktu mendadak kesurupan.

Petang itu, beberapa tahun yang lampau, setelah menonton film Janji Joni. Kami jalan-jalan ke pusat taman kota. Kala melihat seorang perempuan yang Ia suka, sahabat saya langsung mendekat, mengajak ngobrol. Selang dua minggu mereka pun jadian, meski dikemudian hari berakhir dengan keputusasaan. Setidaknya film ini ada pengaruhkan?