Pelantar.id – Kabar ditutupnya jejaring sosial Path ternyata bukan lagi sekedar isu. Path sempat populer pada 2013 hingga 2017, layanan ini mulai ditinggal penggunanya dan harus menerima kenyataan akan tutup.

Pengguna yang semakin minim diduga menjadi penyebab kuat tutupnya aplikasi Path. Apalagi, Path juga sulit mencari pemasukan dari aplikasinya karena hanya bisa mengandalkan iklan di beberapa tempat saja. Ditambah persaingan jejaring sosial yang semakin sengit.

Sang pengelola sudah mengumumkan aplikasi berbagi pesan dan gambar ini akan resmi ditutup pada Oktober mendatang. Proses penutupan tersebut akan dilakukan bertahap. Sehingga pengguna Path dapat mempersiapkan diri dan dapat menyimpan data-data yang pernah di share di Path sebelum ditutup.

Diperkirakan pada 1 Oktober 2018 pengguna tak bisa lagi mengunduh atau memperbarui aplikasi Path mereka di Android maupun iOS. Tepat Tanggal 18 Oktober 2018, barulah Path akan menghentikan akses ke platform mereka. Kemudian di tanggal 11 November 2018, customer service Path bakal ditutup.

Sebelumnya kebenaran berita tersebut juga diumumkan di laman Path.com dan di aplikasi Path kepada pengguna. Dikutip dari Path.com, Senin (17/9/2018), Path dengan berat hati mengumumkan informasi tersebut.

“Dengan berat hati, kami mengumumkan bahwa kami akan berhenti menyediakan layanan yang kami cintai, Path,” demikian bunyi pengumuman Path.

Sejarah Path

jejaring sosial Path

Seperti yang diketahui bahwa Path sudah 8 tahun berbagi aplikasi ini dengan pengguna. Pihak Path mengatakan untuk membangun jejaring sosial tersebut mereka hanya memulai dari tim kecil pada tahun 2010.

Baca Juga :   Tambah Gedung Baru, SMP Maitreyawira Siap Cetak Lulusan Andal

Jejaring sosial Path didirikan oleh Dave Morin, Shawn Fanning, dan Dustin Mieraudi San Francisco, California, AS. Morin sendiri lantas didapuk menjadi CEO karena namanya yang lebih menonjol ketimbang dua rekannya.

Di kota San Francisco Path dikembangkan hingga mendapatkan sambutan yang cukup baik di sejumlah negara, walaupun Path hanya populer di negara berkembang.

Awalnya, Path hanya dihadirkan untuk perangkat iOS dan menjadi situs web saja. Namun, animo masyarakat yang positif membuat aplikasi turut hadir di platform Android.

Ketika pertama kali dirilis, Path membatasi jumlah pertemanan hanya 50 orang, kemudian 150 orang. Namun, belakangan Path mengubah kebijakan itu, dan menambah jumlah pertemanan jadi 500.

Perkembangan Path berlangsung cepat. sekitar setahun lebih, tepatnya November 2012, Path telah memiliki dua juta pengguna di seluruh dunia. Nilai tambah Path adalah karena jumlah teman dan layanannya yang bersifat lebih intim. Beda dengan jejaring sosial lain yang jumlah temannya bisa mencapai ribuan.

Pada 19 Agustus 2013, Morin selaku CEO mengungkap bahwa layanan ini sudah dibuka 1 miliar kali oleh lebih dari 12 juta pengguna di seluruh dunia.

Dari situ, Path pun mulai berbenah. Pertengahan 2014, jumlah teman yang bisa terhubung pun dibuat lebih banyak. Dari sebelumnya 150 orang menjadi 500 orang.

Baca Juga :   Sempat Dirahasiakan, Film Suzanna Terkuak dengan Pemeran Luna Maya

Lantas, pada 2015, Daum Kakao Corp. selaku perusahaan dibalik KakaoTalk resmi mengakuisi Path. Akuisisi ini merupakan bentuk ekspansi global dari masing-masing perusahaan.

Dari situ, Path terus menggulirkan fitur pembaruan yang mempermudah penggunanya. Salah satu pembaruan cukup besar rilis pada awal 2016 dengan meluncurkan fitur chat dalam aplikasi. Sebelumnya, fitur ini hadir terpisah lewat aplikasi Path Talk.

Fitur ini membantu pengguna agar tidak lagi memasang aplikasi terpisah untuk berbincang dengan temannya. Tidak hanya membuat chat pribadi, pengguna juga dapat melakukan group chat dengan beberapa orang sekaligus.

Namun, kehadiran fitur anyar tersebut ternyata tidak mampu menyelamatkan Path.

Path di Indonesia

Di tahun 2015, Path membukan kantor di Jakarta karena di sini mereka memiliki banyak pengguna. Path sempat menunjuk William Tunggaldjaja sebagai Country Manager Path, walaupun akhirnya ia tak lagi duduk di posisi tersebut setelah Path diakuisisi Daum Kakao asal Korea Selatan pada Mei 2015.

Daum Kakao gagal mengembangkan fitur dan bisnis Path di Indonesia dan negara lain. Hingga akhirnya, mereka menyerah dan menutup layanan Path pada Oktober 2018 ini.

Bagi Path Indonesia masuk sebagai salah satu kontributor pengguna terbesar. Sekadar informasi, layanan ini memang sangat populer di Asia Tenggara. Morin pernah mengakui, pengguna internet di Indonesia merupakan pengguna media sosial terbaik di dunia.

Editor : Eliza Gusmeri
Sumber: Liputan6.com