Kekhawatiran tentang hantavirus belakangan ikut naik karena virus ini kembali ramai dibahas di tingkat internasional. Meski begitu, risiko untuk masyarakat umum di Indonesia tetap dinilai rendah selama sumber paparan utamanya tidak sering ditemui.
IDAI mengingatkan bahwa hantavirus bukan hal baru di tanah air. Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga, dr Dominicus Husada, meminta masyarakat tidak bereaksi berlebihan terhadap isu ini.
Sumber penularan yang perlu dikenali
Hantavirus umumnya berkaitan dengan hewan pengerat, terutama tikus. Penularan dapat terjadi ketika partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus terhirup manusia, terutama di ruang tertutup yang sudah terkontaminasi.
Dominicus menjelaskan bahwa virus ini bisa bertahan lama pada hewan pengerat tanpa menimbulkan gejala. Kondisi itu membuat tikus tetap berpotensi menjadi sumber penularan bila manusia terpapar langsung lingkungan yang tercemar.
Jejak kasus di Indonesia tidak menunjukkan penyebaran luas
Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia telah menemukan 23 kasus hantavirus sejak 2015. Kasus itu tersebar di sembilan provinsi, dengan jumlah terbanyak berada di Jakarta dan Yogyakarta, masing-masing enam kasus.
Wilayah lain yang juga tercatat meliputi Jawa Barat, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Dari pola yang terlihat, Dominicus menilai hantavirus memang sudah lama ada di Indonesia, tetapi tidak menyebar luas seperti penyakit yang mudah berpindah antarmanusia.
Karena itu, risiko terhadap publik dinilai tetap rendah selama paparan terhadap sumber utamanya tidak sering terjadi. Polanya juga disebut lebih sporadis, bukan menyebar cepat dalam populasi.
Paparan juga pernah ditemukan di beberapa kota besar
Selain data kasus resmi, penelitian AFIRE pada 2013–2016 menunjukkan adanya paparan hantavirus di sejumlah kota besar. Dari 327 sampel yang diuji, 38 sampel atau 11,6 persen tercatat positif.
Angka tertinggi muncul di Denpasar dengan 16,3 persen. Setelah itu, Surabaya mencatat 13,6 persen, Makassar 13,5 persen, dan Semarang 13,4 persen.
Paparan juga terdeteksi di Jakarta sebesar 11,1 persen, Bandung 6,7 persen, dan Yogyakarta 3,2 persen. Temuan tersebut menunjukkan hantavirus memang pernah terdeteksi di beberapa wilayah perkotaan Indonesia.
Kelompok yang lebih banyak terpapar
Hasil penelitian yang sama memperlihatkan paparan lebih sering ditemukan pada orang dewasa dibanding anak-anak. Tingkat positivitas pada kelompok dewasa mencapai 13,5 persen, sedangkan pada anak-anak 6 persen.
Dari sisi jenis kelamin, laki-laki juga tercatat memiliki angka paparan lebih tinggi. Positivitas pada laki-laki mencapai 15,6 persen, sementara perempuan 6,9 persen.
Situasi global dan langkah yang disarankan
Secara global, Kemenkes mencatat kasus hantavirus sempat tinggi sebelum pandemi COVID-19. Puncaknya terjadi pada 2017 dengan 4.362 kasus, lalu 2019 sebanyak 4.194 kasus, sebelum turun tajam pada tahun-tahun berikutnya.
Pada 2021 tercatat 67 kasus, kemudian 116 kasus pada 2022, 100 kasus pada 2023, 72 kasus pada 2024, dan 328 kasus sepanjang 2025. Sampai minggu ke-16 2026, jumlah kasus global tercatat 59 kasus dengan total 387 kasus terkonfirmasi di 10 negara dalam periode 2025 hingga minggu ke-16 2026.
Negara-negara tersebut meliputi Argentina, Chile, Bolivia, Brazil, Panama, Paraguay, Uruguay, Amerika Serikat, Taiwan, dan Indonesia. Faktor risiko utama tetap sama, yakni kontak dengan rodensia yang terinfeksi.
IDAI mengimbau masyarakat tetap waspada tanpa panik. Langkah yang disarankan adalah menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus atau kotorannya, serta memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila muncul keluhan setelah terpapar faktor risiko.
Source: lifestyle.bisnis.com




