Indonesia menjadi salah satu peserta dalam latihan tempur Rim of Pacific tahun 2018. Tidak seperti latihan sejenis sebelumnya, kali ini TNI AL mengirimkan KRI Makassar dan KRI RE Martadinata ke Hawaii, Amerika. Selain berlatih untuk meningkatkan keterampilan tempur, kontingen sekaligus menjadi duta promosi wisata Indonesia.

Ratusan pria dan wanita berseragam Angkatan Laut dari berbagai negara memenuhi geladak helikopter KRI Makassar – 590 yang bersandar di Joint Base Pearl Harbor Hickam di Honolulu, Amerika Serikat. Riuh rendah suara akapela meningkahi musik bertempo cepat. Bebunyian dari alat musik logam berpadu dengan alunan seruling menyajikan nada ritmis, khas Pulau Dewata.

Kopda Mar Yusuf merapikan ornamen hias di kepalanya yang menyerupai mahkota dan tersambung ke ekor dari bahan kain. Dari bagian dalam hanggar helikopter berukuran sebesar lapangan bulutangkis, Yusuf muncul bersama puluhan pria bertelanjang dada, berkain motif papan catur yang dalam tradisi Bali dikenal sebagai poleng.

Yusuf masih sempat membenahi letak asesoris gigi bawah dan taring yang dipasang di dagunya. Seiring naiknya tempo dan volume musik, puluhan pria bertelanjang dada itu berbaris memasuki geladak terbuka, dari sudut hanggar yang disekat menggunakan kain merah putih. Ekspresi kaku, mata membuka lebar dan pandangan yang disapukan patah-patah para pria itu secara magis kontan membius beratus pasang mata. Tetamu kapal perang jenis Landing Platform Deck milik TNI AL itu sontak mengikuti gerak para penari dengan sapuan ekor mata, seraya bertepuk tangan berulang-ulang.

“Cak cak cak kecak cak cak cak,” demikian bunyi yang keluar dari mulut para penari secara sporadis dengan volume suara yang turun naik.

Mereka kemudian menampilkan berbagai gerak dan formasi yang berpadu apik dan terus mengundang tepuk tangan para pengunjung. Yusuf adalah tokoh utama dalam sajian itu, memerankan tokoh Hanoman, kera putih dalam epos Ramayana. Hanoman bergerak lebih bebas dan tidak seragam dengan para penari. Dia meningkahi tempo ritmis suara kecak, musik gamelan dan gerak para penari secara serampangan.

Setelah menampilkan berbagai gerakan, para pria bertelanjang dada itu kemudian duduk melingkar, mengankat tangan menyerupai bentuk lambaian ke atas kepala. Hanoman menari mengelilingi mereka, sesekali masuk dalam barisan membelah lingkaran. DIa berinteraksi dengan dua penari lain yang mucul ke panggung sebagai pembawa jalan cerita.

Kecak mencapai puncaknya saat tempo meninggi dan tiba-tiba berhenti. Tepuk tangan meriah dari ratusan pengunjung yang berdiri menyebar di geladak terbuka berderai. Bahkan sesekali, para pengunjung yang sebagian besar berpangkat perwira itu bersiul, tanda puas atas pertunjukan yang disajikan.

Baca Juga :   5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Kartu Nikah

Baca Juga : Marinir Indonesia Berbagi Ilmu Survival di Amerika

Cuaca Hawaii sedang hangat, geladak terbuka KRI Makassar yang dapat menampung dua helikopter besar itu dipasangi tenda sebagai tabir untuk para tetamu. Indonesia menggelar open ship dan luncheon, atau undangan makan siang untuk seluruh perwakilan negara-negara peserta latihan perang, Rim of Pacific (Rimpac).

Seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, luncheon Indonesia selalu mendapatkan animo luar biasa, karena selalu menyajikan atraksi etnik, tari sosial dan kehangatan sambutan, juga karena faktor kuliner. Mie goreng, gado-gado, lotek, sate, nasi goreng, siomay, bakso dan berbagai jenis menu masakan tradisional selalu mendapatkan respon positif dari para tamu.

Prajurit TNI AL yang berkostum pakaian tradisional Indonesia menjaga deretan meja saji, untuk memberi informasi kepada para tamu. Biasanya, para tamu akan menanyakan apa bahan dan nama makanan sebelum mengambil porsinya. Mereka mengantre dalam barisan memanjang, sambil bercakap-cakap. Sesekali mereka menyapa para penjaga gerai.

Setelah mengambil makanan, para tamu menikmati sajian itu di kursi-kursi yang disediakan di sekeliling geladak terbuka. Mereka duduk dan berdiri menyebar, mengakrabi sesama ksatria laut dari belahan bumi lainnya. Tak jarang mereka kembali ke meja saji, untuk menambah makanan atau sekedar mengambil kudapan seperti lumpia, es krim dan minuman tradisional semisal dawet yang dimasak oleh tim departemen logistik kapal.

Yusuf tidak serta merta dapat beristirahat. Para bule yang kebannyakan sudah pernah menonton pementasan kecak saat mengunjungi Indonesia itu masih antusias dan bergantian mengajak swafoto. Prajurit Marinir itu melayani dengan ramah, meski dengan bahasa Inggris yang sekadarnya. Dari sebuah sudut di dekat hanggar helikopter, Letda Mar Jonathan tidak dapat menyembunyikan mimik bangga dan bahagia. Menyajikan pertunjukan tari kecak yang merupakan tugas tak biasa dari atasannya telah berhasil diselesaikannya dengan baik.

Pemandangan di seantero geladak menjadi nyaris seragam. Ksatria samudera dari berbagai penjuru dunia itu terlihat asyik dengan gawai, berswafoto. Para perwira tamu maupun istri dan pasangannya mengungkapkan keinginannya mengabadikan dandanan dan kostum para penampil kecak, tari saman, hingga kostum para penjaga sajian makan siang. Suasana kembali meriah saat panitia luncheon menyuguhkan sejumlah mata acara.

Baca Juga :   Sepi Wisman, Pekerja Perhotelan di Bali Beralih Bertani untuk Hidupi Keluarga

Baca Juga : Marinir Indonesia-Amerika Sinkronisasi Teknik Evakuasi Kendaraan Tempur

Letda Laut (P) Grace Simamora, Letda Laut (E) Natia, Serda Bah/W Hilda dan Serda EDE/W Riska Riski bertugas memandu para tamu untuk menari bersama. Ketiga anggota Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) menghipnotis para tamu dengan lagu Gemu Famire. Dari kerumunan belakang panggung, prajurit TNI AL baik yang berseragam maupun mengenakan kostum tradisional menyeruak masuk ke tengah-tengah geladak. Mereka bertugas mengajak para tamu untuk menari, dengan iringan lagu Maumere itu.

Tari sosial itu beroleh sambutan. Para tamu kemudian sejenak melupakan sekat kepangkatan dan membaur dalam gerak bersama, mengikuti irama dan aba-aba dari ketiga Kowal itu. Gemu Famire sebetunya dirancang untuk menutup acara yang berlangsung sejak sebelum jam makan siang hingga beranjak sore. Namun sudah menjadi kelaziman, sebuah pesta yang menyenangkan akan berlarut.

Lagu dan tarian mirip gerakan poco-poco itu terpaksa diulang hingga beberapa kali, untuk memuaskan para tamu menari bersama. Pesta baru berakhir menjelang sore, saat matahari sudah mulai condong ke Barat. Para tamu satu-persatu berpamitan kepada kolega dan kenalan serta pejabat TNI AL yang hadir. Mereka berbincang ringan sebelum berpisah, bersalaman, kemudian menghormat kepada Sang Merah Putih di buritan kapal sebelum menuruni tangga.

Sebagai kenangan, banyak dari para tamu yang membawa pulang berbagai cinderamata dari kenalannya di lingkungan TNI AL. Mereka secara pribadi kerap memberikan suvenir sebagai tanda persahabatan. Biasanya, mereka bertukar badge tanda kesatuan, lencana kecakapan, topi pet, bahkan rokok atau batu akik.

Keramahan khas Indonesia tampak jelas merupakan komoditas yang tak pernah surut peminat. Senyum yang mengembang di wajah para tamu yang menjauhi dermaga tempat KRI Makassar berlabuh menjadi bukti, Nusantara masih ramah dan menyenangkan. Tak hanya tetamu asing, luncheon yang juga dihadiri WNI yang tinggal di Amerika itu juga memberikan suasana “rumah” bagi mereka.

“Uenak mas, di sini gak ada bakso, rawon, soto yang rasanya istimewa begini. Sudah terasa mudik lah,” tutur seorang perempuan muda asal Surabaya yang telah beberapa tahun tidak menginjakkan kaki di kampungnya.

Teks dan Foto : Serka Mar Kuwadi
Editor : Joko Sulistyo

 

**Foto-foto dikirim langsung oleh Kontingen Indonesia di Hawaii, Amerika Serikat untuk pelantar.id akan meyiarkan materi keikutsertaan Indonesia dalam Latihan Multilateral Rim of Pacific secara berkala.