Pelantar.id – Kontroversi yang menghinggapi Facebook serta skeptis publik tentang cara Facebook mengangani kontroversi Pilpres AS 2016 yang ditengarai mendapatkan campur tangan dari Rusia ternyata membawa pengaruh pada kondisi saham facebook.

Diberitakan dalam liputan6.com, (19/11/2018) bahwa Bos Facebook Mark Zukerberg kembali mengalami penurunan kekayaan senilai US$ 17,3 miliar atau sekitar Rp 252,7 miliar. Laman Fox Business yang Tekno Liputan6.com kutip, Senin (19/11/2018), juga menyebut Zuckerberg menggeser posisinya sebagai orang kaya di dunia.

Menurut Bloomberg Billionaire Index, kini Zuckerberg jadi orang terkaya nomor enam. Padahal tadinya posisinya di bawah Jeff Bezos dan Bill Gates yang merupakan orang terkaya nomor satu dan dua di dunia.

Baca Juga :   Google Matikan Aplikasi Inbox April 2019

Seperti yang diberitakan Jumat kemarin, nilai saham Facebook turun 3 persen menjadi US$ 139,53 (setara Rp 2 jutaan) per lembarnya. Nilai saham Facebook tersebut terendah sejak April 2017.

Kabar ini menyusul banyaknya kabar tak sedap yang menyerang media sosial tersebut. The New York Times pada Rabu lalu menerbitkan laporan mengejutkan terkait dugaan bahwa Facebook menunda, membelokkan, dan menyangkal tiap pemeriksaan atas disinformasi Rusia yang tersebar luas dan meningkatkan ujaran kebencian di platform tersebut.

Facebook pun membantah tudingan yang menyebut kepemimpinan perusahaan tidak cepat mengatasi berita palsu yang terus berkembang.

Tampaknya Zukerberg sedang mengalami kepelikan selain anjloknya kekayaanya tersebut. Apalagi posisinya sebagai CEO mulai digoyang yang dilayangkan oleh para investor.

Baca Juga :   Diduga Monopoli, Facebook Digugat Federal Trade Commision Amerika Serikat

Desakan ini timbul setelah Facebook Global Head of Policy and Communication Nick Clegg yang baru bergabung bulan lalu diminta melakukan peninjauan atas kinerja Facebook.

Misalnya datang dari salah satu investor, Jonas Kron, yang berinvestasi 8,5 juta pound sterling di Facebook meminta Zuck untuk hengkang dari posisinya.

“Facebook berlaku layaknya perusahaan spesial. Padahal tidak. Facebook adalah perusahaan, dan perusahaan perlu memisahkan jabatan chairman dan CEO,” kata Kron.

======

sumber: liputan6.com

foto: marketwatch