pelantar.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sektor jasa keuangan Indonesia hingga akhir 2018 menunjukkan kondisi yang stabil, dengan kinerja intermediasi berada pada level positif. Kondisi itu ditopang oleh fundamental ekonomi domestik yang masih terjaga, kinerja emiten yang relatif stabil, serta didukung berbagai kebijakan oleh Pemerintah, OJK, dan Bank Indonesia.

Berdasarkan pantauan OJK, meskipun diwarnai oleh peningkatan tekanan di pasar, profil risiko sektor jasa keuangan secara umum terkelola dengan baik. Kecukupan tingkat permodalan dan Likuiditas LJK domestik berkontribusi terhadap ketahanan LJK di tengah meningkatnya tekanan di pasar keuangan.

Dalam upaya menjaga stabilitas sistem keuangan, OJK memberikan perhatian pada penguatan surveillance dan protokol manajemen krisis, serta penguatan koordinasi dengan pihak-pihak terkait yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

“Kegiatan pemantauan (surveillance) dilaksanakan secara berkala dan komprehensif bersama dengan anggota KSSK agar dapat mengidentifikasi potensi risiko dan kerentanan di sektor jasa keuangan. Kami yakin dengan sinergi yang baik sesama anggota KSSK dapat mampu mengatasi berbagai macam tekanan global yang dihadapi saat ini,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso dikutip dari laman ojk.go.id, Senin (24/12/18),

Baca Juga :   KPU Batam Siapkan Rp294 Juta untuk Alat Peraga Kampanye

Kinerja fungsi intermediasi sektor jasa keuangan selama 2018 berjalan cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan kredit per november 2018 yang tumbuh 12,05 persen year-on-year.

Kinerja baik itu juga diiringi tingkat kesehatan yang cukup baik tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan sebesar 23,32 persen serta rasio Non-Performing Loan (NPL) gross dan net perbankan tercatat masing-masing 2,67 persen dan 1,14 persen.

Pada industri keuangan non-bank, OJK mencatat pembiayaan yang disalurkan perusahaan pembiayaan tumbuh sebesar 5,14 persen (yoy) dengan tingkat Non-Performing Financing (NPF) berada pada level 2,83 persen (gross) dan 0,79 persen(nett).

Pembiayaan yang disalurkan melalui bisnis jasa keuangan berbasis teknologi atau fintech juga menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan nilai outstanding pembiayaan sebesar Rp3,9 triliun serta rasio NPF yang rendah yaitu 1,2 persen. Pada industri pasar modal, penghimpunan dana di pasar modal masih cukup tinggi mencapai Rp162,3 triliun.

Baca Juga :   GoPlay Dapat Investor untuk Perkuat Produksi Film Lokal

“Jumlah ini cukup positif di tengah tekanan ekonomi global,” sebut Wimboh.

Jasa Keuangan Syariah

OJK pun mencatat industri jasa keuangan syariah tumbuh positif selama 2018. Hal itu tercermin dari pertumbuhan aset perbankan syariah dan pembiayaan syariah (BUS +UUS), serta aset IKNB syariah per oktober 2018 masing-masing tumbuh 7,09 persen, 9,52 persen, dan 0,59 persen.

Sementara itu, per 18 Desember 2018, NAB Reksa Dana Syariah, Sukuk Negara dan Sukuk Korporasi meningkat masing-masing 20,98 persen, 17,20 persen, dan 40,48 persen.

Wimboh Santoso

Kinerja sektor jasa keuangan yang cukup baik ini didukung oleh berbagai macam inisiatif yang diluncurkan OJK baik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi maupun menyediakan sumber dana pembiayaan jangka panjang.

Baca Juga :   Pemerintah Buka KEK Pendidikan, Asing Berpeluang Bangun Perguruan Tinggi

“Untuk mendorong peningkatan peran serta keuangan syariah dalam mendukung penyediaan sumber dana pembangunan, OJK memfasilitasi pendirian Bank Wakaf Mikro (LKM Syariah) dan pelaksanaan kegiatan sosialisasi terkait keuangan syariah bekerjasama dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS),” kata Wimboh Santoso.

Saat ini, terdapat 41 Bank Wakaf Mikro dengan nilai pembiayaan sebesar Rp9,72 milliar dan melibatkan 8.373 debitur. Kemudian, untuk mendukung pembiayaan pembangunan jangka panjang, OJK memberikan izin pendanaan melalui KIK-EBA terkait infrastruktur, dengan nilai sekuritisasi sebesar Rp7,44 triliun serta KIK-DIRE dengan nilai sekuritisasi sebesar Rp0,62 triliun.

OJK juga mendorong emiten infrastruktur untuk fund raising di Pasar Modal, di mana tercatat 24 penawaran umum yang dilakukan 22 Emiten sektor infrastuktur melakukan fund raising melalui Pasar Modal dengan total nilai emisi Rp28,05 triliun.

*****

Yuri B Trisna