Salah satu wajah penampakan dari berhasil-tidaknya dan berprestasi-tidaknya Polri terletak di satker Bareskrim Polri dan jajaran satuan reskrim. Konsolidasi dan reformasi sistem penegakan hukum dan keadilan yang sebelum ini dan selama ini relatif sudah tertata, dipastikan bahwa selanjutnya kualitasnya akan ditingkatkan oleh Arief Sulistyanto.
Oleh : Firman Jaya Daeli
Mantan Tim Perumus UU Polri, Mantan Anggota Komisi Politik & Hukum DPR-RI

Kapolri Tito Karnavian telah menunjuk dan mengangkat figur yang tepat untuk mengabdi di jabatan yang tepat dalam rangka mengawal dan menjalankan penegakan hukum dan keadilan.
Tito tentu sudah tahu persis dan hafal betul rekam jejak dan sepak terjang Arief Sulistyanto yang mumpuni untuk menjabat Kabareskrim Polri. Apalagi keduanya sama-sama Akpol 1987. Setidaknya ada tiga perwira tinggi Polri yang memiliki NRP muda (tahun kelahiran muda yaitu tahun 1965) lAkpol 1987, antara lain : Arief Sulistyanto, Agung Budi Maryoto (mantan Kapolda Sumsel, Kakor Lantas Polri, Kapolda Kalsel, kini menjabat Kapolda Jabar), Lucky Hermawan (kini Kapolda Jatim, sebelumnya menjabat Wakil Kepala Baintelkam Polri), dan lain-lain. Agung Budi Maryoto dan Lucky Hermawan dalam beberapa pertimbangan pada dasarnya termasuk the rising star lulusan Akpol tahun 1987 bersama Arief Sulistyanto.

Ada sejumlah jabatan Polri yang baru-baru ini mengalami pergantian dan pengisian. Ada beberapa kasatker (pejabat utama/staf mabes Polri) dan beberapa kasatwil (Kapolda) yang terkena mutasi dan promosi jabatan. Jiwa dan semangat pergantian dan pengisian ini pada dasarnya berbasis pada penguatan institusi Polri dan pemantapan kepemimpinan puncak Polri serta berorientasi pada peningkatan dan perluasan konsolidasi dan reformasi pemeliharaan keamanan nasional dan ketertiban umum; konsolidasi dan reformasi penegakan hukum dan keadilan yang profesional dan akuntabel; konsolidasi dan reformasi perlindungan publik dan pelayanan masyarakat. Di antaranya, antara lain: Brigjen Pol. Agus Andrianto (Akpol 1989) menjadi Kapolda Sumut (tipe A lama). Kombes Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto (Akpol 1993) menjadi Wakapolda Sumut untuk mendampingi dan membantu Agus Andrianto. Dalam sejarah kepolisian khususnya Polda Sumut, Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto memecahkan rekor dan mematahkan mitos mengenai jalur jabatan dan jenjang kepangkatan kepemimpinan Polda Sumut. Agus Andrianto masih dalam masa jabatan Wakapolda Sumut langsung dipromosikan menjadi Kapolda Sumut (bintang dua/Irjen). Mardiaz Kusin Dwihananto juga masih dalam posisi jabatan berpangkat Kombes mantap yang dipromosikan menjadi Wakapolda Sumut (bintang satu/Brigjen).

Biasanya Kapolda Sumut sejak bertipe A selalu dijabat oleh perwira tinggi yang sudah duluan sebelumnya menyandang bintang dua (Irjen) dan setidaknya pernah menjabat sebelumnya sebagai Kapolda tipe B. Hanya Edi Sunarno (Akpol 1974) yang masih dalam masa jabatan Wakapolda Metro Jaya saat itu dengan pangkat Brigjen, dan tidak pernah sebelumnya menjabat Kapolda, langsung dipromosikan ketika itu menjadi Kapolda Sumut, di sekitar tahun 2002 atau 2003. Demikian juga untuk jabatan Wakapolda Sumut, biasanya dijabat oleh perwira tinggi yang sebelumnya telah berbintang satu (Brigjen). Hanya Komjen Pol. Purn. Syafruddin yang saat itu masih berpangkat Kombes mantap (kini Menteri PAN-RB). Syafruddin setelah selesai menjadi ADC Wakil Presiden Jusuf Kalla, langsung dipromosikan menjadi Wakapolda Sumut. Tentu dan pasti ada pertimbangan taktis dan strategis dari pimpinan Polri (Kapolri) untuk menempatkan Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto menjadi Kapolda dan Wakapolda Sumut.

Penulis juga sudah kenal baik dan lama, bahkan sering berdiskusi hangat dan dinamis dengan Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto. Figur Agus Andrianto tergolong solider, berkomitmen, berani, tegas, keras, tertib, teguh, tidak kenal kompromi. Sesungguhnya masih ada lagi selain Agus Andrianto yang menjadi the rising star Akpol 1989. Ada Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Brigjen Pol. Ahmad Dofiri (peraih Adhi Makayasa Akpol 1989), dan sudah empat kali menempati jabatan bintang satu (Brigjen). Selanjutnya ada mantan Deputi Kepala BIN dan Kapolda Lampung Irjen Pol. Suntana (Wakabaintelkam Polri yang baru). Suntana adalah Akpol 1988 B/1989). Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto tergolong merah putih, loyal tegak lurus, memiliki program dan konsep yang melekat dan menyatu dengan pimpinan Polri dan Negara.

Baca Juga :   Midnight Clay Fokus Garap Full Album Baru

Keduanya sudah lama berkarir dan bertugas di wilayah hukum Polda Sumut sejak perwira pertama dengan spesialisasi reserse. Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti). Agus Andrianto dan Mardiaz Kusin Dwihananto sangat memahami dan menguasai situasi dan kondisi lapangan, permasalahan, dan tantangan wilayah Sumut, juga memiliki banyak relasi dan jaringan luas. Mardiaz Kusin Dwihananto yang lama bertugas di Polda Sumut dan pernah menjadi Kapolres Nias, Kapolres Madina, Kapolrestabes Medan, merupakan figur pertama Akpol 1993 yang menjadi Wakapolda apalagi bertipe A lama. Bahkan Mardiaz Kusin Dwihananto sudah sering mengikuti sekolah pendidikan, pelatihan, dan kursus di luar negeri (di beberapa negara sahabat).

Kapolda Kepulauan Riau (Kepri, tipe A baru) yang baru adalah Irjen Pol. Andap Budhi Revianto (Akpol 1988 B). Dengan promosi ini, Andap Budhi Revianto dinilai berhasil memimpin dan mengamankan Polda Sultra (tipe B) dan Polda Maluku (tipe A baru) sebagai Kapolda. Karakteristik kewilayahan Sultra apalagi Maluku secara geografi sama dengan Kepri yaitu wilayah perbatasan dan kepulauan. Andap Budhi telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan internal dan eksternal Polri (PTIK, Sespimmen, Lemhanas RI), dan meraih pangkat bintang satu (Brigjen) saat menjadi salah seorang pejabat struktural Mabes Polri dan Kapolda Sultra. Sedangkan bintang dua (Irjen) diraih saat menjabat Kapolda Maluku.

Kapolda Banten (tipe B) yang baru adalah Brigjen Pol. Teddy Minahasa Putra (Akpol 1993), dan lama berkarir di satuan lalulintas. Teddy Minahasa Putra merupakan Akpol 1993 yang pertama meraih bintang satu (Brigjen) dengan menjadi pejabat struktural di lingkungan sekretariat Wakil Presiden RI. Selanjutnya menjabat Kepala Biro Paminal Divisi Propam Polri, dan kini Kapolda Banten. Teddy Minahasa Putra yang juga mantan ADC Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menjadi Akpol 1993 yang pertama menjadi Kapolda. Wilayah Banten merupakan penyanggah dan penopang DKI Jakarta Raya sebagai ibukota RI. Teddy Minahasa Putra telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan internal dan eksternal Polri (PTIK, Sespimmen, Lemhanas RI). Andap Budi Revianto dan Teddy Minahasa Putra tergolong tipikal berani, bernyali, tegas, merah putih, memiliki jaringan kuat dan akses luas, serta loyal membangun institusi di satuan kerja dan satuan wilayah penugasan. Dan juga memiliki program dan konsep yang memperkuat basis kerja dan kepemimpinan.

Kapolda Jatim (tipe A lama) yang baru adalah Irjen Pol. Lucky Hermawan (Akpol tahun 1987). Polda Jatim merupakan wilayah hukum yang memiliki anggota Polri terbanyak di antara seluruh Polda di Indonesia. Leveling Polda Jatim selain merupakan tipe A lama, juga merupakan gugusan wilayah strategis dari segi keluasan wilayah, kepadatan penduduk, jumlah daerah otonom, perbatasan dan penyanggah antara Indonesia bagian tengah dengan Indonesia bagian Timur, dan strategis pula dari segi sosiologi politik dan sosiologi budaya. Meskipun biasanya Kapolda Jatim dijabat perwira tinggi berpangkat bintang dua (Irjen) dan sebelumnya pernah menjadi Kapolda. Walaupun juga Lucky Hermawan sebelum ini belum pernah menjadi Kapolda, namun pengalaman yang berlatarbelakang intelijen pada dasarnya merupakan modal dasar dan sisi potensial untuk menjadi Kapolda Jatim. Apalagi sebelum ini sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Keamanan (Wakabaintelkam) Polri, Lucky Hermawan tentu dan pasti memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai situasi kondisi lapangan, permasalahan, dan tantangan wilayah Jatim. Lucky Hermawan pada dasarnya memiliki perspektif dan intuisi intelijen dan keamanan yang utuh, memadai, dan menyeluruh untuk memimpin dan mengamankan Jatim.

Lucky Hermawan akan didampingi dan dibantu oleh Brigjen Pol. M. Iqbal yang diangkat menjadi Wakapolda Jatim. M. Iqbal (Akpol 1991) telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti). Penulis juga sudah kenal baik dan lama dengan M. Iqbal, dan jika berdiskusi maka M. Iqbal tergolong moderat, akomodatif, hangat, dan terbuka. Iqbal memiliki kemampuan membangun relasi dan jaringan yang luas serta menumbuhkan komunikasi dan sosialisasi yang mumpuni. Tipikal figur yang adaptif, cerdas, visioner, juga seorang konseptor. Iqbal yang pernah menjadi Kapolrestabes Surabaya tentu dan pasti dapat membantu kepemimpinan Lucky Hermawan. Keduanya merah putih, loyal tegak lurus, memiliki program dan konsep yang melekat dan menyatu dengan pimpinan Polri dan Negara.

Baca Juga :   Penjara di Indiana Jadikan Kucing Sebagai Terapi Depresi dan Anxiety Napi

Kapolda Riau (tipe A baru) yang baru adalah Brigjen Pol. Widodo Eko Prihastopo (sebelum ini Wakapolda Jatim, Akpol 1986). Widodo Eko Prihastopo menjadi perwira tinggi yang menyandang bintang dua (Irjen) dengan posisi Kapolda Riau. Promosi ini dipandang sebagai wujud kebijakan Pimpinan Polri yang menilai Eko Widodo Prihastopo berhasil dan berprestasi sebelum ini khususnya selama menjabat Wakapolda Jatim. Konsolidasi organisasi dan personalia Polri melalui kaderisasi dan regenerasi sedang berproses secara sistematis dan bertahap.

Ada ruang jabatan yang masih ditempati perwira tinggi Polri angkatan senior yaitu Akpol 1984, 1985, dan 1986. Sejumlah perwira tinggi Polri yang satu angkatan dengan Eko Widodo Prihastopo, Akpol 1986, ada yang menjadi Pejabat Polri terutama Kapolda, misalnya : Kapolda Sumbar Irjen Pol. Fakhrizal, Kapolda Kalbar Irjen Pol. Didi Haryono, Kapolda Bengkulu Brigjen Pol. Coki Manurung, Kapolda Gorontalo Brigjen Pol. Rachmad Fudail, Kapolda Sulbar Brigjen Pol. Baharuddin Djafar, dan Kapolda Kaltara Brigjen Pol. Indrajit. Bahkan Akpol 1984 ada yang menjabat Kapolda dalam rangka perkuatan institusi dan kepemimpinan Polri. Ada Kapolda Jateng Irjen Pol. Condro Kirono dan Kapolda Sulut Irjen Pol. Bambang Waskito. Kemudian Akpol 1985, yaitu Kapolda Sumsel Irjen Pol. Zukarnain Adinegara, Kapolda Sulsel Irjen Pol. Umar Septono, dan Kapolda NTT Irjen Pol. Raja Erizman. Penunjukkan dan pengangkatan Eko Widodo Prihastopo pada dasarnya tentu karena berdasarkan argumen matang dan pertimbangan strategis dalam rangka menjaga, mengawal, dan mengamankan wilayah Riau. Eko Widodo Prihastopo sebelumnya berkarir di bidang lalulintas dan logistik, dan telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti).

Kapolda Lampung (tipe A baru) yang baru adalah Brigjen Pol. Purwadi Arianto (sebelum ini Wakapolda Metro Jaya). Wilayah Lampung selain Polda dengan tipe A baru (dipimpin Kapolda dengan pangkat bintang dua/Irjen), juga merupakan wilayah perbatasan atau penyanggah antara Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa. Purwadi Arianto yang merupakan Akpol 1988 B adalah perwira reserse, dan telah lulus mengikuti semua sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti). Posisi sebagai Kapolda tipe A akan menyandang bintang dua (Irjen). Kapolda Kalsel (tipe A baru) yang baru adalah Irjen Pol. Yazid Fanani, yang sebelum ini pernah menjabat Kapolda Jambi dan menjadi Staf Ahli Kepala Badan Intelijen Negara (BIN)-RI dengan pangkat bintang dua (Irjen).

Kalsel merupakan wilayah yang berpenduduk banyak meski keluasan wilayahnya tidak seperti wilayah Provinsi Kaltim, Kalbar, dan Kaltim. Sehingga wilayahnya tergolong padat penduduk. Yazid Fanani adalah Akpol 1988 B, dan berkarir di bidang reserse dan intelijen. Yazid Fanani telah lulus mengikuti semua jalur dan jenjang sekolah pendidikan dan pelatihan di lingkungan Polri (PTIK, Sespimmen, Sespimti). Penulis juga kenal baik dan lama dengan Yazid Fanani dan Purwadi Arianto. Keduanya merupakan tipikal figur yang tidak mau menampilkan diri dan tidak terlalu suka menonjolkan pencitraan. Namun menjadi terasa dekat dan semakin terbuka, hangat, dinamis, dan komunikatif jika sudah bertemu dan berdiskusi secara mendalam.

Kapolda Papua (tipe A lama) yang baru adalah Irjen Pol. Martuani Sormin. Pernah menjadi Kapolda Papua Barat (tipe B) dengan pangkat Brigjen saat itu. Polda Papua yang merupakan tipe A membawahi wilayah Papua yang secara sosiologi politik, sosiologi ekonomi, sosiologi budaya memiliki posisi strategis dan menentukan. Provinsi Tanah Papua selain merupakan gugusan yang strategis secara geostrategis politik, sosial, ekonomi, budaya, maka Tanah Papua juga menjadi wilayah perbatasan yang diperhitungkan oleh masyarakat global dan dunia internasional. Dengan demikian harus senantiasa ditumbuhkan dan diselenggarakan pendekatan kemanusiaan, kebudayaan, keadaban, kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran. Pendekatan ini mesti selalu dengan semangat kultural dan dialogis dalam suasana persahabatan dan persaudaraan sejati.***