Kusuma Buah Bertahan Hampir 20 Tahun, Pembeli Muda Kini Lebih Sering Bayar Pakai QRIS

Perubahan cara belanja pelanggan membuat warung buah kecil di Yogyakarta ini ikut berubah. Kusuma Buah, yang sudah berjalan hampir 20 tahun, sekarang tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung, tetapi juga pesanan lewat aplikasi dan pembayaran non-tunai.

Di warung yang berada di Jalan Kusumanegara itu, pengemudi ojek online kini jadi pemandangan biasa. Diana, pemiliknya, menyesuaikan cara melayani tanpa meninggalkan pola jualan sederhana yang sejak awal menjadi andalan usaha keluarga tersebut.

Cara bertahan di tengah kebiasaan baru pembeli

Langkah paling terasa adalah masuknya QRIS BRI ke dalam transaksi warung. Diana memasangnya sekitar tiga sampai empat tahun terakhir setelah melihat makin banyak pelanggan, terutama pembeli muda, yang menanyakan pembayaran online.

Meski begitu, uang tunai belum benar-benar hilang dari keseharian warung. Pelanggan lama masih lebih sering membayar cash, sedangkan mahasiswa yang menjadi salah satu pembeli utama justru lebih akrab memakai QRIS.

Bagi Diana, penambahan metode bayar itu tidak mengubah identitas warung sebagai usaha tradisional. Justru, pilihan itu membuat warung tetap mudah diakses oleh pelanggan dengan kebiasaan belanja yang berbeda-beda.

Pesan antar ikut membuka jalan penjualan

Sebelum QRIS hadir, layanan pesan antar lebih dulu masuk ke Kusuma Buah. Penggunaan layanan itu dimulai saat masa pandemi Covid-19, berawal dari GrabFood.

Setelah itu, warung tersebut ikut mendaftar ke platform lain secara bertahap. Saat Shopee membuka ShopeeFood di Indonesia pada April 2020, Kusuma Buah juga bergabung, dan belum lama ini warung itu masuk ke GoFood.

Kehadiran beberapa layanan pesan antar membuat penjualan tidak hanya bergantung pada pelanggan yang datang ke toko. Perubahan itu juga terlihat dari semakin seringnya pengemudi ojek online singgah ke warung untuk mengambil pesanan.

Lokasi strategis jadi modal sejak awal

Usaha ini dirintis Diana bersama suaminya sejak 2007. Sejak awal, warung itu memang beroperasi di Jalan Kusumanegara, meski sempat berpindah dari sisi jalan yang berbeda ke lokasi sekarang.

Posisinya dinilai menguntungkan karena dekat dengan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Universitas Teknologi Yogyakarta, dan Pamela Supermarket. Jalan tersebut juga ramai dilalui pengguna jalan, sehingga pembeli dari sekitar maupun orang yang sedang lewat lebih mudah mampir.

Di Yogyakarta, Diana tinggal di rumah kontrakan yang juga dipakai sebagai tempat usaha. Warung buah itu menjadi satu-satunya usaha yang dijalankan pasangan tersebut sejak mulai dirintis hampir dua dekade lalu.

Buah segar, jus, dan stok yang cepat berputar

Kusuma Buah tidak hanya menjual buah segar, tetapi juga menyediakan aneka jus buah. Dua jenis jualan ini saling melengkapi karena buah yang dijual di warung juga menjadi bahan dasar jus.

Pola itu membantu stok bergerak lebih efisien. Buah yang belum habis dijual satuan masih bisa diolah menjadi minuman, sehingga tidak cepat terbuang.

Diana menjaga kesegaran dagangan dengan memperbarui stok setiap hari. Suaminya mengambil pasokan langsung dari Pasar Gamping dan tidak menyetok dalam jumlah besar agar perputaran uang tetap cepat.

Harga buah juga mengikuti kondisi pasar yang berubah-ubah. Saat musim panen, harga biasanya lebih murah karena stok melimpah, sedangkan saat pasar tidak stabil harga bisa berubah setiap hari.

Warung kecil yang menyesuaikan arah pasar

Kisah Kusuma Buah menunjukkan bahwa usaha rumahan bisa bertahan lama jika mau menyesuaikan cara kerja dengan kebiasaan pelanggan. Cara jualan tradisional tetap dipertahankan, tetapi kanal pembayaran dan distribusi dibuat lebih mengikuti kebutuhan pembeli.

Alfi, salah satu pengguna QRIS, mengaku tetap membawa uang tunai saat bepergian. Namun untuk belanja biasa, ia lebih sering memakai QRIS, meski koneksi internet yang tidak stabil kadang membuat transaksi lebih lambat atau gagal.

Data BRI mencatat jumlah merchant mencapai 323,7 ribu dengan volume transaksi Rp67,9 triliun, tumbuh 26,5 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, transaksi QRIS mencapai Rp30,5 triliun dengan jumlah transaksi 253 miliar.

Baca Juga

Back to top button