Amar Bank memulai kuartal I/2026 dengan dorongan yang cukup kuat dari sisi pendanaan dan kualitas aset yang tetap terjaga. Di tengah ekspansi kredit yang cepat, bank ini justru berhasil menekan risiko kredit, sementara laba bersihnya naik menjadi Rp71,11 miliar.
Kinerja tersebut memberi sinyal bahwa pertumbuhan Amar Bank tidak hanya ditopang oleh penyaluran pembiayaan yang agresif, tetapi juga oleh pengelolaan neraca yang makin rapi. Dari sisi modal, ruang untuk ekspansi lanjutan juga masih sangat lebar.
Kredit dan aset melesat
Hingga Maret 2026, kredit Amar Bank tercatat mencapai Rp4,16 triliun. Angka itu naik 30,62% secara tahunan dari Rp3,18 triliun, sehingga menjadi motor utama kenaikan aset perseroan.
Sejalan dengan itu, total aset bank ikut naik 34,72% year on year menjadi Rp6,93 triliun. Amar Bank menilai ekspansi kredit yang solid ikut memperluas pangsa pasar pada segmen-segmen dengan imbal hasil tinggi.
Kenaikan pembiayaan juga membuat aktivitas operasional bergerak lebih aktif. Saat kredit tumbuh lebih cepat, ruang bagi laba ikut terbuka lebih besar.
Pendapatan inti ikut menguat
Dari sisi kinerja operasional, Amar Bank membukukan pendapatan operasional Rp527,76 miliar. Angka ini tumbuh 13,82% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bunga bersih atau net interest income juga naik 15,58% menjadi Rp370,20 miliar. Kombinasi dua pos pendapatan ini menjaga tren laba tetap positif di awal tahun.
Laba bersih bank pun mencapai Rp71,11 miliar pada kuartal I/2026. Capaian itu naik 5,37% dibandingkan Rp67,49 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama Amar Bank Vishal Tulsian mengatakan capaian tersebut mencerminkan strategi bank dalam memperkuat basis pendanaan, menjaga kualitas kredit, dan memperluas hubungan dengan nasabah. Ia menilai profitabilitas itu ditopang oleh struktur pendanaan yang berkelanjutan.
Dana pihak ketiga melonjak
Perbaikan paling mencolok datang dari sisi pendanaan. Dana pihak ketiga Amar Bank naik 115,52% secara tahunan menjadi Rp2,91 triliun dari Rp1,35 triliun pada kuartal I/2025.
Lonjakan dana pihak ketiga ini ikut memperbaiki rasio loan to deposit ratio atau LDR menjadi 142,56%. Setahun sebelumnya, LDR bank berada di 235,04% pada periode yang sama.
Pergerakan tersebut menandakan struktur pendanaan Amar Bank menjadi lebih seimbang. Kondisi ini penting karena memberi bantalan likuiditas yang lebih baik untuk menopang ekspansi kredit berikutnya.
Risiko justru menurun
Di saat pembiayaan tumbuh kencang, kualitas kredit Amar Bank membaik. Rasio non-performing loan atau NPL turun menjadi 0,86% dari 1,48% pada Maret 2025.
SVP Finance Amar Bank David Wirawan menilai penurunan NPL menunjukkan penyaluran kredit dilakukan secara selektif dan prudent. Ia juga menyebut disiplin risiko tetap dijaga lewat penguatan proses analisis dan pengelolaan portofolio kredit.
Artinya, percepatan kredit tidak dibiarkan berjalan tanpa kontrol. Bank tetap menempatkan pengendalian risiko sebagai bagian dari strategi pertumbuhan.
Modal masih sangat kuat
Dari sisi permodalan, Amar Bank mencatat capital adequacy ratio atau CAR sebesar 99,17%. Posisi ini jauh di atas ketentuan minimum regulator dan memberi ruang besar bagi ekspansi lanjutan.
Modal yang sangat kuat itu membuka peluang bagi bank untuk terus berinvestasi pada teknologi, pengembangan produk digital, dan penguatan manajemen risiko. Bagi bank yang sedang memperbesar pembiayaan, bantalan modal seperti ini menjadi penopang penting.
Untuk tahun ini, perseroan memusatkan perhatian pada tiga area utama. Fokusnya ada pada retail dan UMKM, pengembangan ekosistem embedded banking & financing, serta dukungan terhadap industri kreatif.
Dengan pendanaan yang makin kuat, kualitas aset yang tetap terjaga, dan modal yang besar, Amar Bank memasuki fase pertumbuhan dengan fondasi yang lebih nyaman. Kondisi itu membuat ruang ekspansi bank masih terbuka lebar tanpa harus mengorbankan pengendalian risiko.
Source: finansial.bisnis.com