Laba BRI Tembus Rp15,5 Triliun, Kredit Kencang Di Atas Target Saat Pemulihan Menguat

Sinyal pemulihan BRI terlihat dari dua sisi sekaligus: laba yang tetap tumbuh dan penyaluran kredit yang justru melampaui target awal. Di awal kuartal I-2026, bank pelat merah ini membukukan laba bersih Rp15,5 triliun, naik 13,74 persen secara tahunan.

Dorongan terbesar datang dari mesin pembiayaan yang masih kencang bergerak, terutama di segmen mikro dan konsumer. Di saat yang sama, struktur pendanaan juga tetap kuat karena porsi dana murah masih dominan.

Kredit bergerak lebih cepat dari target

Penyaluran kredit BRI mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Laju itu berada di atas target tahunan yang sebelumnya dipatok di kisaran 7 hingga 9 persen.

Segmen mikro dan konsumer menjadi penggerak utama ekspansi tersebut. KUR senilai Rp47,09 triliun disalurkan kepada 947 ribu nasabah, sementara FLPP mencapai Rp17,13 triliun untuk 125 ribu nasabah.

Pendapatan bunga ikut terdorong

Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan bunga BRI naik 5,94 persen menjadi Rp52,83 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga turun 9,31 persen menjadi Rp12,68 triliun.

Kombinasi itu membuat ruang laba perseroan makin lebar. BNI Sekuritas yang dikutip Suara.com menyebut pendapatan bunga bersih ikut terkerek 11,9 persen menjadi Rp40,2 triliun, sejalan dengan kenaikan Net Interest Margin sebesar 30 basis poin.

Biaya dana menurun, efisiensi membaik

Turunnya biaya dana menjadi salah satu faktor penting di balik penguatan hasil bisnis BRI. Cost of Fund juga tercatat turun ke level terendah sejak akhir 2023.

Kondisi ini menunjukkan ekspansi kredit berjalan bersama efisiensi pendanaan. Bagi bank dengan basis nasabah luas seperti BRI, kombinasi tersebut memberi ruang lebih besar untuk menjaga profitabilitas.

Risiko masih perlu dijaga

Meski penyaluran kredit melaju agresif, kualitas aset tetap menjadi perhatian. Rasio biaya kredit berada di level 3,1 persen, sementara NPL gross naik menjadi 3,31 persen.

NPL net tercatat 1,01 persen. Angka-angka ini menunjukkan pertumbuhan masih harus diimbangi dengan pengawasan risiko yang ketat agar kualitas portofolio tetap sehat.

Dana pihak ketiga dan aset masih kuat

Dari sisi pendanaan, BRI menghimpun Dana Pihak Ketiga sebesar Rp1.555 triliun. Komposisi dana murah mencapai 68,1 persen dan menjadi penopang penting bagi biaya pendanaan perseroan.

Total aset BRI per Maret 2026 juga tumbuh 7,2 persen secara tahunan menjadi Rp2.205 triliun. Pertumbuhan aset ini memperlihatkan kapasitas intermediasi perseroan masih terus berkembang seiring ekspansi kredit dan penghimpunan dana.

Minat investor ikut menguat

Di pasar modal, saham BBRI turut menarik perhatian investor global. BlackRock, Goldman Sachs, dan Invesco Ltd tercatat melakukan akumulasi pembelian pada akhir April 2026.

Bloomberg Technoz melaporkan BlackRock menambah kepemilikan hingga 2,65 miliar saham atau setara 1,75 persen. Sejumlah analis juga menilai valuasi BRI masih atraktif dengan rasio Price-to-Book Value 1,4 kali, yang disebut sebagai level terendah dalam satu dekade terakhir.

Sucor Sekuritas bahkan memproyeksikan target harga saham BBRI bisa mencapai Rp5,200 per lembar dalam 12 bulan ke depan. Proyeksi itu disusun dengan asumsi kualitas kredit dan likuiditas membaik pada 2026.

Exit mobile version