Penulis: H.M Chaniago

Gundala Putra Petir adalah sosok pahlawan super Indonesia, rekaan Harya Suraminata (Hasmi). Dalam kehidupannya, Gundala bagi Hasmi adalah sumber kebahagiaan, sumber harapan yang disematkan pada sosok patriot itu.

Tahun tahun 1981, kebahagiaan Hasmi meningkat, ketika Gundalanya mendapat popularitas di tengah ekspansi komik-komik asing di tanah air. Meski begitu, Hasmi tetaplah Hasmi, sosok komikus asal Yogyakarta bernama lahir Isman Surasa Dharmaputra (karena sakit, kemudian diganti dengan Harya Suraminata) ini tetap berpenampilan sederhana.

Gundala versi Hasmi adalah sosok jenius bernama Sancaka, yang bekerja menjadi seorang peniliti dan pencari serum anti-petir. Ide dasarnya Hasmi dalam menciptakan komik ini disebutkan berasal dari tokoh Jawa, Ki Ageng Selo, yang dalam Kitab Babad Tanah Jawi memiliki kesaktian menangkap petir.

Dari rujukan beberapa sumber literasi, disebutkan bahwa Ki Ageng Selo atau Ki Ageng Ngabdurahman dalam babad Jawa dikisahkan pernah menangkap petir ketika sedang bertani. Petir itu kemudian berubah wujud menjadi seorang kakek tua yang kemudian ia persembahkan sebagai tawanan pada Kesultanan Demak.

Baca Juga :   Catatan Utang RSUD Batam Jadi Sorotan BPK

Dari sosok itulah Gundala-nya Hasmi menjadi superhero lokal, yang kemudian mendapat tempat di hati para fans sejatinya. Bahkan dalam sejarah komik tanah air, Gundala memiliki peranan penting sebagai karakter superhero terpopuler di tanah air.

Di tangan Hasmi, Gundala digambarkan sekilas mirip dengan karakter superhero dari DC Comics, The Flash. Namun itu juga tak sepenuhnya, karena ia ingin menampilkannya sesuai dengan kearifan lokal, sehingga tidak diciptakan untuk berlari sekilat cahaya. Bagi Hasmi cukup secepat mobil.

Sementara itu, ketika Joko Anwar memilih mengadaptasi Gundalanya Hasmi menuju layar perak dengan judul Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot, filmmakers yang terkenal dengan film pertamanya berjudul Janji Joni ini memilih memperkenalkan Sancaka (Gundala) sebagai anak seorang buruh pabrik, yang harus ditinggal mati bapaknya karena berjuang melawan ketidakadilan kaum kapitalis dan juga penghianatan antar sesama kaum buruh.

Secara latar dan cerita, Gundalanya Joko Anwar memang banyak berbeda dengan Gundala versi Hasmi. Bahkan hal ini sendiri memang telah jauh hari disampaikannya sebelum film mulai ditayangkan. Meski begitu, beberapa hal yang menarik dalam film ini adalah terdapat beberapa simbolisasi ke-Indonesia-an yang ia selipkan dalam beberapa adegan.

Baca Juga :   KPU Karimun Verifikasi Berkas Bacaleg Enam Partai

Jika lebih jeli, kita akan sadar bahwa lewat filmnya ini, Joko Anwar sedang berusaha menyindir beberapa tingkah atau cara orang Indonesia dalam konotasi yang cukup miris. Sedikit bocoran, budaya KKN yang mendarah daging, terkhususnya Korupsi dan Kolusi baik di tubuh parlemen maupun rakyat biasa.

Meskipun begitu, dalam beberapa hal film ini memang tak luput dari kritikan, terutama perihal timeline yang masih samar. Bagi saya pribadi latar waktunya jika melihat tepat kisah diadaptasi adalah Jakarta puluhan tahun pasca tidak lagi menjadi ibu kota. Jakarta tua yang semakin kumuh dan kacau, dan tak terawat.

Hal lainnya adalah, perihal beberapa fragmen yang tidak realistis terutama ketika Sancaka kecil yang hidup tanpa orangtua dan bekerja sebagai seorang kuli angkut pelabuhan yang notabenenya adalah pekerjaan orang dewasa, ditambah lagi dengan tubuh kecilnya yang harus mengangkat bobot karung terlihat sangat jauh dari ukuran tubuhnya.

Baca Juga :   BP Batam Bentuk Tim untuk Kelola Pengaduan Masyarakat

Atau mungkin jika dipaksakan untuk realistis atau mengundang perasaan lirih, dalam hal ini mungkin Joko Anwar sedang mengajak kita ke dalam gambaran kehidupan miris eksploitasi terhadap anak-anak, yang ini mungkin menjadi pertimbangannya pribadi.

Terakhir, beberapa adegan dalam film terlihat sangat begitu dipaksakan, dan mungkin terkesan terburu-buru. Alasannya hanya Joko Anwar yang lebih paham, tetapi bagi saya pribadi beberapa sosok yang seharusnya memiliki peran lebih banyak malah menjadi biasa-biasa saja, dan sosok pahlawan super lainnya yang ia selipkan juga seolah-olah terkesan sangat terlalu dipaksakan tampil dalam adegan film.

Harusnya porsi ini ia tampilkan di post credit scene after movie atau jika memang ditampilkan sekilas di dalam film, lebih baik tidak menampilkan wajahnya utuh, atau memang Joko Anwar sengaja penampilkannya agar wajah artis cantik tersebut menjadi daya tarik yang ditunggu dalam film selanjutnya.

 

Foto: tokopedia