Larangan Aksi Pro-Palestina Masih Dikaji Starmer, Kebebasan Bersuara Jadi Taruhan

Sorotan paling tajam dalam perdebatan ini bukan hanya soal demonstrasi pro-Palestina, tetapi juga sejauh mana pemerintah Inggris mau membatasi bahasa yang dianggap melampaui batas. Keir Starmer kini berada di titik sensitif setelah membuka kemungkinan pelarangan sebagian aksi dan memberi sinyal bahwa frasa “globalise the Intifada” dapat berujung proses hukum.

Pernyataan itu langsung menempatkan kebebasan berekspresi berhadapan dengan isu keamanan publik dan kekhawatiran anti-Semitisme yang terus membesar. Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi kritik karena dinilai semakin keras terhadap aktivisme pro-Palestina selama perang Israel di Gaza.

Starmer mengatakan pembatasan bahasa dalam demonstrasi pro-Palestina perlu diperketat. Dalam wawancara dengan BBC, ia bahkan menyebut bahwa dalam kondisi tertentu aksi unjuk rasa bisa dilarang sepenuhnya.

Meski begitu, Starmer tetap menegaskan dukungannya pada kebebasan berbicara dan demonstrasi damai. Namun, ia menilai slogan “globalise the Intifada” berada di luar batas dan perlu ditindak lebih tegas.

Sikap itu bukan muncul dari ruang hampa. Sebelumnya, Starmer sudah menyebut slogan tersebut sebagai “extreme racism” dan mengatakan para penggunanya “should be prosecuted”.

Nada keras itu sejalan dengan komentar Kepala Kepolisian Metropolitan, Sir Mark Rowley, yang menyebut orang yang memakai frasa tersebut “likely to be arrested”. Bagi pendukung slogan itu, kalimat tersebut dipahami sebagai ajakan memperluas gerakan pro-Palestina secara global, sedangkan para pengkritik melihatnya sebagai pemicu kebencian dan kekerasan.

Tekanan politik terhadap Starmer ikut meningkat setelah serangkaian insiden anti-Semitisme. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah penusukan dua pria di Golders Green, kawasan di London utara yang memiliki komunitas Yahudi besar.

Seorang warga negara Inggris berusia 45 tahun yang lahir di Somalia kemudian ditahan dalam proses pengadilan awal pada Jumat dengan tuduhan percobaan pembunuhan. Peristiwa itu ikut memperkuat rasa waswas di kalangan warga setempat dan menambah kerasnya tuntutan agar pemerintah bertindak.

Starmer sendiri telah mengunjungi lokasi serangan dan sebuah layanan ambulans sukarelawan Yahudi pada Kamis. Dalam kunjungan itu, sebagian warga menegurnya karena menilai pemerintah belum cukup melindungi mereka.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah warga juga melontarkan kecaman terhadap unjuk rasa pro-Palestina yang berlangsung di berbagai kota di Inggris. Starmer mengatakan ia sudah membahas langkah lanjutan dengan pihak kepolisian dan menyebut larangan terhadap sebagian aksi bisa dianggap tepat dalam keadaan tertentu.

Di saat yang sama, otoritas Inggris menaikkan tingkat siaga keamanan ke level “severe”, level kedua tertinggi. Keputusan itu diambil sebagian karena serangan di Golders Green, dan langsung menambah tekanan pada pemerintah di tengah perdebatan yang makin tajam.

Kritik terhadap cara pemerintah dan kepolisian menangani aktivisme pro-Palestina juga terus menguat. Salah satu titik panasnya terjadi ketika polisi Inggris menangkap lebih dari 500 orang dalam vigil massal di pusat London bulan lalu, saat aksi itu digelar untuk memprotes larangan terhadap kelompok kampanye Palestine Action.

Seorang demonstran dalam vigil tersebut mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Inggris kini telah “descended into a non-democratic situation”. Ia menilai situasi itu berbahaya bagi kebebasan berpendapat, sementara pemerintah tetap harus menjawab tuntutan keamanan yang kini makin mendesak.

Exit mobile version