Penulis: H.M Chaniago

Alam tidak rasis seperti manusia. Saat bencana terjadi, alam tidak peduli kau baik atau jahat, kaya atau miskin. Semua akan dipukul rataAndy Horowitz, dalam sebuah parafrase

Pelantar.id – Apa yang dilakukan manusia di muka bumi ini. Hanya singgah sebelum akhirnya mati? Benarkah sebagai khalifah? Menciptakan kedamaian? Saling menjaga kehidupan? Atau malah merusaknya? Tulis Moh. Faisol Muttaqin, di situs blog Kompasiana.

Narasi interogasi yang saya baca itu, perlahan membuat saya merenung dan teringat akan sekelompok tim peneliti gabungan dari Amerika Serikat dan Australia, dikomandoi Jenna Jambeck, Insinyur Lingkungan Hidup dari Universitas Georgia yang pernah menganalisis persoalan tingkat limbah plastik di lautan dunia.

Dari hasil penelitian mereka, Cina dan Indonesia adalah negara utama penghasil sampah plastik dan sampah lainnya yang menyumbat jalur laut global.

Hal ini dipertegas dalam sebuah laporan di The Wall Street Journal, yang menyatakan Indonesia dan Cina menyumbang lebih dari sepertiga detritus plastik di perairan mondial.

Bisa jadi apa yang pernah dituliskan Alia Marsha di laman Vice 2018 lalu, nyaris tak ada lagi sudut laut yang perawan di permukaan Bumi ini memang bentuk nyata dari kehancuran laut global dan Indonesia secara khususnya.

Kenyataannya memang, persoalan laut tak hanya mengenai sampah yang bertaburan serupa ubur-ubur atau jamur di musim hujan.

Problem lainnya adalah praktek oil dumping atau pembuangan limbah minyak kotor secara ilegal di lautan Indonesia yang terus-terusan terjadi sepanjang tahunnya.

Baru-baru ini, kejadian tahunan serupa kembali terjadi lagi di wilayah perairan Belakang Padang, Batam, Kepulauan Riau. Minggu (17/11) pagi, masyarakat pesisir sekitar, terkejut gumpalan hitam pekat membungkus area perairan mereka.

Pada dasarnya, sebagian masyarakat mengatakan telah terbiasa dengan tumpahan minyak tersebut, karena telah sering terjadi dalam setiap tahunnya, terutama kala musim angin utara bertiup ke perairan mereka. Hanya saja, kejadian kali ini terlihat cukup parah.

“Minyaknya cukup pekat dan tebal. Sedari pagi kami mengetahuinya, kejadian kali ini cukup memperparah kondisi laut Belakang Padang. Penyebarannya juga menyeluruh,” jelas Muhammad Suwardi, Penggiat Bank Sampah Bumi Bertuah yang telah lama hidup menetap di Pulau Belakang Padang.

Tumpahan minyak di perairan Belakang Padang ini terjadi pasca 4 hari selepas kedatangan Kepala Kementrian Kelautan dan Perikanan RI, Eddy Prabowo di Batam. Hal ini tentunya menjadi tamparan tersendiri akan dirinya yang baru saja menjabat di kementerian menggantikan menteri sebelumnya, Susi Pudjiastuti.

Sebelumnya, pada Agustus 2019 Mantan Mentri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan laut Indonesia begitu sangat sering terkontaminasi limbah minyak kotor.

Walhasil, karena seringnya kejadian Indonesia dan Filipina dinubuatkan sebagai negara yang lautnya menjadi tempat pembuangan libah minyak kotor oleh sekelompok orang dari kapal-kapal tertentu.

“Sebetulnya laut Indonesia terancam sudah lama, karena banyak praktek-praktek pembuangan oil di laut kita. Jadi Indonesia dan Filipina ini dikenal oleh kalangan pembuang limbah sebagai tempat pembuangan minyak kotor,” ungkap Susi pada konferensi pers bersama Pertamina di Jakarta, Kamis (1/8/2019), dikutip dari Tirto.Id.

Sementara itu, persoalan oil dumping khususnya di perairan Kepri tak hanya terjadi Pulau Belakang Padang semata. Pada awal April 2019 kemarin, perairan Batam tepatnya di kawasan pesisir Nongsa turut menjadi korban kejahatan lingkungan yang tak kunjung bisa terselesaikan.

Baca Juga :   Pemko Batam Pacu Kegiatan Vaksinasi Covid-19

Lokasi perairan yang identik dengan kawasan wisata tersebut mendadak terlihat kelam, hitam-pekat, seolah-olah memberi pertada akan suramnya perhatian pada masa depan perairan negeri ini.

Persoalan utama yang mengemuka tak hanya mengenai kerusakan ekosistem laut semata. Pasalnya, keadaan ini turut mempengaruhi perekonomian masyarakat nelayan dan petani rumput laut pesisir kawasan yang terdampak.

Pencemaran ekosistem laut oleh praktek oil dumping ini disebutkan Hazhary, Ketua DPD Pospera Provinsi Kepri tentunya berdampak serius dan buruk terhadap ekosistem kelautan.

“Ancaman utamanya tentu tak hanya dialami laut itu sendiri, nelayan dan petani budidaya rumput laut sekitar kawasan juga terpapar bahkan terancam gagal panen,” jelasnya saat kejadian minyak kotor membungkus perairan Belakang Padang.

Hazhary menambahkan, kejadian oil dumping di laut Kepri tak hanya sesekali, persis hampir setiap tahunnya selalu ada kejadian serupa, bahkan bisa dua kali dalam setahun.

Surya Makmur Nasution yang saat itu masih menjabat anggota Legislatif Provinsi Kepri, kala kejadian oil dumping di kawasan pesisir Nongsa, menjelaskan bahwa pencemaran laut oleh limbah minyak kotor ini cukup sangat memprihatinkan.

Persoalannya yang selalu terjadi setiap tahun sudah barang tentu mengganggu ekosistem laut yang telah parah akibat sampah plastik. Dan kenyataannya, semakin terus diperparah oleh praktek oil dumping, yang penyelesaiannya tak kunjung menuai hasil.

Bahkan saat dibersihkan, terkumpul 150 karung di kawasan Nongsa Village dan 45 karung di Turi Beach, kawasan Nongsa.

Disebutkan juga, semua pihak terkait, dari tingkat daerah maupun di tingkat pusat telah mengetahui kenyataan pahit yang dialami laut Indonesia di Kepri. Hanya saja, hingga kini pencemaran limbah minyak kotor terus terjadi.

“Saban tahun masyarakat Kepri menerima limbah ini, padahal semua pihak sudah tahu, ada apa ini?” kata Surya ketika dikonfirmasi Bobi Bani, wartawan Jawapos saat itu.

Hal lain, persoalan oil dumping di laut juga turut diperparah dengan kegiatan tank cleaning yang harus dilakukan pihak kapal sebelum kapal-kapal mereka masuk kawasan perairan Singapura.

Persoalannya di Singapura setiap kapal yang masuk ke wilayah perairan mereka, harus bersih atau steril dari sisa-sia oli bekas, kalau tidak, kapal tersebut akan terkena denda. Persoalan ini pemerintah Singapura memang cukup sangat tegas dibandingkan Indonesia.

 

Tak Hanya Kepri, Kasus Tumpahan Minyak Pernah Terjadi Juga di Montara, Balikpapan dan Karawang

Polusi yang ditimbulkan oleh tumpahan minyak laut baik sengaja maupun tidak, sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat pesisir pantai dan juga potensinya besar dalam merusak ekosistem kelautan.

Limbah minyak merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3). Sifat dan konsentrasinya dapat mencemarkan dan membahayakan kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.

Hasil penelitian menyebutkan, beberapa komponen minyak akan tenggelam dan terakumulasi lalu bersedimentasi serupa deposit hitam pada pasir dan bebatuan pantai.

Komponen hidrokarbonnya yang bersifat toxic berpengaruh besar pada proses reproduksi, perkembangan, pertumbuhan, dan perilaku biota laut; terutama plankton. Bahkan jika hal ini tidak benar-benar diperhatikan negara, tak ayal akan dapat mematikan ikan, dan menurunkan produksi ikan dalam negeri.

Baca Juga :   Penjara di Indiana Jadikan Kucing Sebagai Terapi Depresi dan Anxiety Napi

Fakhurdin dalam tulisannya berjudul “Dampak Tumpahan Minyak pada Biota Laut (2004) menyebutkan bahwa proses emulsifikasi ialah sumber mortalitas bagi organisme, terutama pada telur, larva, dan perkembangan embrio, karena pada tahap ini akan sangat rentan hidup di lingkungan tercemar.

Sementara itu persoalan tumpahan minyak di lautan Indonesia tak hanya terjadi Kepri semata. Sebelumnya beberapa kejadian besar pernah terjadi yakni di tiga kawasan yaitu; Montara, Balikpapan dan Karawang.

Montara

Terhitung satu dekade sudah kejadian ini berlalu, tepatnya tanggal 29 Agustus 2009. Dilansir dari situs The Oil Drum, bocornya minyak mentah yang melibatkan Petrolium Authority of Thailand Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP) ini ke Laut Timor (East Sea) turut menyebar ke laut Timor Indonesia.

Beberapa pihak lainnya selain PTTEP, juga ada yang terlibat, yaitu Australian Maritime Safety Authority (AMSA), Halliburton dan Sea Drill Norway.

Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kemenko Kemaritiman Purbaya Yudhi Sadewa dikutip dari Detik menyebutkan bahwa, persoalan ini tidak hanya sebatas tumpahan minyak semata.

Karena di dalam kasus ini AMSA turut menggunakan bubuk kimia Dispersant jenis Corexit 9872 A dan senyawa kimia lainnya yang cukup sangat beracun. Mereka menyemprotkan bubuk kimia tersebut demi menenggelamkan sisa tumpahan minyak Montara menuju dasar lautan.

“Akibatnya, 1 x 24 jam banyak sekali ikan besar dan kecil mati termasuk di kawasan kita (Indonesia),” ujar Purbaya, dikutip dari Detik melalui CNBC, Selasa (18/11/2019).

Teluk Balikpapan

Setahun yang lampau, tumpahan minyak pernah terjadi di Teluk Balikpapan. Kala itu hasil temuan pihak kepolisian menyebutkan bahwa tumpahan itu berasal dari PT Pertamina Persero.

Dikutip dari CNBC Indonesia, kebocoran terjadi akibat hantaman jangkar yang mematahkan pipa minyak. Sementara bahan bakar kapal (fuel oil) yang tumpah di perairan Teluk Balikpapan itu berada tidak jauh dari Refinery Unit V Balikpapan milik PT Pertamina (Persero).

 

Pesisir Pantai Karawang

Selang setahun, sedari 12 Juli 2019 Pertamina kembali bermasalah melalui insiden tumpahan minyak di pesisir Pantai Karawang, tepatnya di kawasan pemboran lepas laut milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ).

Kejadian itu dituliskan CNBC membuat wilayah operasi Pertamina terhenti. Timeline waktunya dituliskan: 14 Juli mulai dilakukan evakuasi pegawai. 15 Juli, Pertamina menyampaikan keadaan darurat kepada SKK Migas dan Kementerian ESDM.

Kemudian 16 Juli, disebutkan telah terdapat oil sheen atau lapisan minyak di permukaan laut. 17 Juli oil spill atau tumpahan minyak mulai terlihat di sekitar anjungan, dan 18 Juli tumpahan minyak mencapai pantai ke arah barat, 2 km.

Memang persoalan tumpahan minyak di tiga tempat tersebut berbeda kasus dengan polemik menahun oil dumping di perairan Kepri. Hanya saja secara nyata ini menunjukkan bahwa manusia adalah spesies terkuat, terdepan dan terhebat dalam melakukan pengrusakan terhadap keberlangsungan lingkungan hidup ke depannya.

 

Daftar negara produsen terbesar sampah plastik di lautan (Doc via Statista)