Harga emas dunia kembali bergerak di bawah tekanan dan berakhir di level US$ 4.821,2 per troy ons pada perdagangan Senin (21/4/2026). Kondisi ini menarik perhatian karena pelemahan terjadi saat ketegangan di Timur Tengah masih tinggi, sehingga pasar justru menunjukkan bahwa dorongan jual sudah lebih kuat dibanding dukungan dari faktor geopolitik.
Pergerakan emas juga tidak bisa dilepaskan dari kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak. Jika energi makin mahal, inflasi global berisiko ikut naik dan ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga acuan bisa makin sempit, sementara emas biasanya kurang menarik ketika prospek suku bunga bertahan tinggi karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.
Pasar mulai menghitung risiko konflik dan peluang diplomasi
Dalam kondisi geopolitik yang masih panas, emas biasanya mendapat dukungan sebagai aset lindung nilai. Namun kali ini, pasar tampak mulai memasukkan kemungkinan bahwa risiko konflik bisa mereda, sehingga sebagian pelaku memilih mengurangi posisi lindung nilai lebih cepat.
Bloombergtechnoz melaporkan bahwa pelemahan harga emas terjadi ketika dinamika di Timur Tengah kembali menghangat. Meski respons pasar tetap defensif, arah harga masih dipengaruhi harapan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memberi sinyal bahwa pembicaraan belum berhenti. Ia menyinggung berakhirnya gencatan senjata antara pihaknya dan Iran pada 22 April waktu setempat, sambil menegaskan bahwa negosiasi tidak akan dipaksakan dalam waktu singkat.
“Saya tidak akan tergesa-gesa dan membuat kesepakatan yang buruk. Kami punya waktu,” ujar Trump, seperti dikutip Bloomberg News. Pernyataan ini membuat pasar membaca bahwa ruang negosiasi masih ada, walaupun tanda-tanda meredanya tensi belum terlihat jelas.
Perhatian pasar bergeser ke arah komunikasi politik
Di tengah situasi tersebut, Trump juga menyebut Wakil Presiden AS JD Vance sedang menuju Pakistan untuk mendukung upaya dialog lanjutan dengan Iran. Langkah ini menambah fokus pasar pada perkembangan diplomatik yang bisa memengaruhi arah komoditas, termasuk emas.
Dari sisi Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan melalui Telegram bahwa dirinya telah berkomunikasi dengan pejabat Pakistan. Namun, ia belum menjelaskan apakah komunikasi itu berkaitan langsung dengan keterlibatan Iran dalam negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat.
Kondisi ini membuat pasar berada dalam fase menunggu. Ketegangan yang belum reda masih memberi alasan bagi investor untuk bertahan di emas, tetapi peluang dialog yang tetap terbuka membuat sebagian posisi aman mulai dilepas.
Minyak ikut memberi tekanan tambahan
Tekanan pada emas juga datang dari pasar energi. Harga minyak jenis brent naik 5,64 persen ke US$ 95,48 per barel, dan kenaikan ini memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi global bisa terdorong lebih tinggi.
Jika inflasi kembali menguat, bank sentral berpotensi menahan diri untuk tidak segera memangkas suku bunga. Bagi emas, situasi seperti itu cenderung kurang menguntungkan karena logam mulia ini tidak menghasilkan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Christopher Wong, Strategist di Oversea-Chinese Banking Corp, menilai pasar emas sangat ditentukan oleh persepsi risiko atas perkembangan geopolitik internasional. Ia menyebut aksi jual yang terjadi tetap mencerminkan kewaspadaan pasar, meski harapan terhadap pembicaraan masih belum hilang.
“Aksi jual terhadap emas mencerminkan risiko akibat perkembangan geopolitik. Namun masih ada harapan bahwa kedua pihak akan datang dalam pembicaraan berikutnya,” kata Wong, seperti dikutip Bloomberg News. Ia memperkirakan emas bergerak di kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.900 per troy ons untuk jangka pendek.
Wong juga menyoroti indikator Stochastic RSI 14 hari yang berada di angka 90, yang menunjukkan kondisi jenuh beli dan membuka peluang koreksi lanjutan. Dengan kombinasi sentimen geopolitik, ekspektasi suku bunga, dan harga minyak yang masih tinggi, arah emas dalam waktu dekat masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan negosiasi politik dan respons pasar terhadap risiko inflasi.