“Ketika memang semua selesai, itu bukan salahmu atau semuanya. Itu salahku, karena waktu tidak mengizinkannya”Arini (Love for Sale 2, 2019)

Pelantar.id – Babak baru Love for Sale akhirnya muncul di akhir Oktober 2019. Jika di film pertamanya Arini (Della Dartyan) menjadi sosok yang sering dipadankan sebagai Summer Finn dalam film 500 Days of Summer sebagai manic pixie dream girl yang menghilang saat sedang sayang-sayangnya.

Maka dalam Love for Sale 2 jangan berharap kamu akan disuguhkan dengan drama panjang tentang seorang pria yang terlalu lama sendiri dan butuh sandaran hati. Love for Sale 2 tidak lagi berkisah tentang Richard (Gading Martin) dan Arini, melainkan berganti ke sosok Ican (Adipati Dolken) yang sedang mencarikan jodoh untuk Ibunya.

Aku ingatkan di awal, film ini bukanlah sekedar drama romantis dalam balutan komedi, tetapi menjelma sebagai drama keluarga dalam balutan patah hati. Hanya saja, di dalam film yang patah hati bukan pasangannya Arini, melainkan Ibunya.

Eksplorasi Sinematografi Lebih Luas

Credit: Visinema Pictures

Jika pada film sebelumnya Love for Sale lebih banyak menggunakan close up shot yang menggambarkan kesendirian Richard dan ekspresinya yang hampa, maka di Love for Sale 2 sekat yang seakan menciptakan suasana sepi dan butuh diisi tidak lagi hadir.

Andi Bachtiar Yusuf selaku sutradara mulai memperlihatkan dunia yang lebih luas dari sekadar ruko dan rumah Richard. Kita diajak menelusuri seluk beluk lingkungan komunal multi etnis yang berlatar di bagian timur Jakarta.

Baca Juga :   Digital, Antara Gaya dan Kebutuhan Hidup

Saat film dimulai, kamu akan disuguhi dengan one-shot angle yang membawa penonton seakan menjadi pihak ketiga yang hadir sebagai seorang tamu dalam sebuah pesta pernikahan beradat Minang dari keluarga Sikumbang.

Gaya pengambilan gambar ini cukup jarang ditemui dalam film-film Indonesia, entah karena tidak diminati penonton atau memang director of photography yang lebih banyak mengedepankan ekspresi ketimbang eksplorasi.

Aku pribadi cukup puas menikmati keseluruhan sinematografi film, dengan lebih banyak bermain di medium shot dan sesekali diselingi dengan extreme close up yang memperlihatkan ekspresi Arini dan Ican.

Emosi dalam film juga lebih terasa, khususnya ketika dialog antara Arini dan Ibunya Ican berlangsung, ada kesenduan yang berhasil ditangkap sinematografer di fragmen ini.

Tokoh Utama Bukanlah Tokoh Utama

Credit: Visinema Pictures

Gaya bercerita penulis skenario sempat membuat Aku terkecoh sebelum menonton Love for Sale 2, karena ada ekspektasi tinggi kalau adegan drama romantis antara Ican dan Arini akan hadir sebagai fan service selama film berlangsung. Nyatanya, tokoh utama dalam film ini bukanlah Ican, melainkan Ibunya, yaitu Rosmaida (Ratna Riantiarno).

Rosmaida menjadi tokoh sentral yang sangat keibuan, yang masih memegang teguh budaya Minang dengan anak-anak dan teman-temannya sebagai tokoh pelengkap yang membuat alur cerita berjalan sesuai kehendak Sang Ibu.

Baca Juga :   Go-Jek Mulai Berlakukan Tarif Baru

Diceritakan dalam film ini, kalau Rosmaida sangat risau dengan anak keduanya, Ican, yang tidak kunjung menikah padahal telah menginjak usia 30 tahun. Ican begitu keras, menganggap kalau pernikahan bukanlah hal yang mudah dan harus disegerakan.

Hingga akhirnya suatu momen yang menggemparkan di gang rumahnya, membuat Ican akhirnya luluh dan mencarikan ‘jodoh’ yang bisa menemani Ibunya.

Akting Total dari Semua Pemeran Pendukung

Credit: Visinema Pictures

Awalnya Aku skeptis melihat daftar pemain pendukung yang bertaburan di Love for Sale 2, khususnya peran Buncun yang diperankan Bastian Steel.

Maklum, karena Aku baru sekali melihatnya berakting di layar lebar, sehingga ada perasaan menghakimi sebelum menonton. Meskipun begitu, ekspektasiku dibantai habis-habisan, karena akting Bastian Steel, Aryo Wahab, dan semua pemeran pendukung di film tampil total!

Kamu bisa melihat tokoh lainnya seperti karyawan di toko penjahit Sikumbang Tailor milik keluarga Ican yang memiliki scene tidak terlampau banyak, tetapi berhasil meyakinkan penonton kalau mereka memang warga sekitar yang kenal baik dengan lingkungannya.

Pun kehadiran sosok Richard di awal film juga sedikit banyak memberikan penonton ruang untuk flashback ke film sebelumnya, sehingga film dapat bergerak maju dalam universe milik Love for Sale.

Baca Juga :   Singapura Siapkan Jalur Terpisah untuk Pelancong Bisnis dengan Masa Tinggal Singkat

Sisi Baik Arini yang Tidak Diketahui Sebelumnya

Credit: Visinema Pictures

Jika di film sebelumnya Arini digambarkan sebagai sosok jahat yang menghilang begitu saja, maka dalam Love for Sale 2 akan terlihat sisi Arini yang terlihat baik tanpa tendensi dibuat-buat.

Penonton diajak untuk mengetahui sisi lain Arini yang sebelumnya terlihat misterius, berikut dengan alasannya mengambil pekerjaan di ‘Love Inc’ sebagai pasangan bayaran, hingga histori keluarga Arini yang ternyata memang memiliki darah Minang yang diceritakan kepada Ibunya Ican.

Selain itu, penulis skenario juga menampilkan adegan saat Arini tergesa-gesa pergi dari rumah, yang pada film sebelumnya tidak terjawab. Arini pada akhirnya hanyalah orang baik yang memiliki dilema di hatinya, antara mengikuti profesionalitas kerja atau bertahan karena cintanya yang begitu besar pada keluarga Sikumbang.

Aku sendiri agak deg-degan saat salah satu scene, ketika Ican menanyakan tentang Arini kepada pemilik Restoran Padang yang diperankan Roy Marten.

“Apa jangan-jangan Arini berbohong lagi?”

Sepanjang film ini, Aku jadi memiliki sikap netral ketika menonton. Setelah mengetahui tentang Arini dan alasannya, serta keluarga Ican yang penuh permasalahan. Aku jadi memahami satu hal. Ternyata, tidak ada yang baik atau jahat dalam film ini, karena tokoh antagonis sebenarnya bukanlah Arini, melainkan waktu itu sendiri.

*****

Penulis: Pradana F. Zumario

Instagram: @wordgenic