pelantar.id – Menciptakan pendidikan yang berkualitas, salah satunya bisa dicapai dengan membangun budaya literasi di sekolah. Para guru dan siswa, harus membiasakan diri secara konsisten untuk aktif membaca dan menulis.

Hal itulah yang kini sedang digalakkan oleh pihak Sekolah Maitreyawira Batam. Salah satunya dengan memperingati Bulan Bahasa yang digelar di lingkungan Vihara Duta Maitreya, Seipanas, Batam, Selasa (30/10). Peringatan Bulan Bahasa juga disejalankan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Seperti dikatakan Pandita Liyas Masri, Ketua Yayasan Pancaran Maitri, yang menaungi Sekolah Maitreyawira Batam, peringatan Bulan Bahasa digelar dengan tujuan agar seluruh siswa dapat memaknai Sumpah Pemuda yang salah satu butirnya adalah Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Berbagai kegiatan diadakan selama acara tersebut berlangsung. Kegiatan yang rutin digelar setiap tahun, untuk pertama kalinya dikolaborasikan dengan seluruh siswa dari semua tingkatan yang ada. Siswa dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK secara bergantian menampilkan karya literasi mereka.

Ada siswa yang berpidato, mendongeng, membaca hingga menampilkan musikalisasi puisi. Kemudian, ada pula panggung drama, stand up komedi serta pameran hasil karya siswa berupa mading dari berbagai tingkat pendidikan

“Dengan semangat Sumpah Pemuda, mari tingkatkan budaya literasi dengan membiasakan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sebab, Bahasa Indonesia tak hanya menjadi identitas kita sebagai warga negara, tetapi juga sebagai kekayaan yang dimiliki bangsa ini,” katanya.

Penampilan seorang siswa dalam peringatan Bulan Bahasa di Sekolah Maitreyawira Batam, Selasa (30/10).
Foto: PELANTAR/Fathurrohim

Ketua Panitia Bulan Bahasa Sekolah Maitreyawira Batam, Nensy Suryati menambahkan, peringatan Bulan Bahasa tahun ini mengusung tema Untaian Kata dalam Karya Wujud Nyata Cinta Bahasa Indonesia. Tema itu sengaja diambil dengan tujuan untuk membumikan Bahasa Indonesia di Tanah Air.

Adapun kegiatan ini diselenggarakan dengan maksud ikut menyukseskan kegiatan literasi yang telah dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tiga tahun lalu.

“Mengingat masih rendahnya budaya literasi di Indonesia, kami ingin melakukan perubahan dengan memulainya dari peserta didik di sini,” ujarnya.

Nensy mengatakan, pihaknya juga bekerja sama dengan dua percetakan buku besar yakni Gramedia dan Erlangga yang membuka bazar buku-bukunya di sekolah tersebut. Sehingga korelasi antar Bulan Bahasa dan literasi singkron dengan adanya buku-buku pada saat kegiatan berlangsung.

Guru dan siswa semua tingkatan di Sekolah Maitreyawira dalam peringatan Bulan Bahasa, Selasa (30/10).
Foto: PELANTAR/Fathurrohim

Dalam pelaksanaan kegiatan itu, ia berharap seluruh peserta didik dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar di ruang publik. Mengingat pengaruh perkembangan zaman dan media sosial, penggunaan bahasa Indonesia banyak dicampur dengan bahasa asing agar terlihat kekinian, hal tersebut dikhawatirkan terbawa saat mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

“Kejadian seperti itu tentu saja beberapa kali terjadi, kebiasaan itu yang ingin kami ubah melalui Bulan Bahasa ini,” kata pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia ini.

Ia berharap kegiatan serupa terus digelar setiap tahunnya di Maitreyawira. Agar semua anak-anak dapat memahami kaidah bahasa Indonesia yang telah dideklarasikan melalui Sumpah Pemuda 90 tahun lalu yang mengakui bahwa negeri ini berbahasa satu, Bahasa Indonesia.

Menurut dia, sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan, memiliki peran sangat penting dalam upaya mengembangkan potensi generasi muda sejak usia dini. Karena itu, di sekolah perlu menjadikan kegiatan-kegiatan intelektual membaca dan menulis sebagai tradisi.

 

Reporter : Fathurrohim
Editor : Yuri B Trisna