Di sejumlah wihara, Waisak tidak hanya terlihat dari doa dan ibadah yang khidmat. Perayaannya juga ditandai oleh kebiasaan-kebiasaan yang punya simbol kuat, mulai dari warna pakaian sampai cahaya lampion.
Rangkaian tradisi itu membuat Waisak terasa lebih dari sekadar seremoni. Di balik setiap kebiasaan, ada pesan tentang kesucian, pengendalian diri, kebijaksanaan, dan perdamaian yang terus dijaga umat Buddha.
Salah satu yang paling menonjol adalah penggunaan cahaya dalam perayaan. Umat Buddha menyalakan lilin, dan bentuknya kerap menyerupai bunga lotus, sebagai lambang untuk mengusir kegelapan dunia.
Simbol lotus juga punya makna tersendiri karena dipahami sebagai bunga yang tetap indah meski tumbuh di air keruh. Dalam sejumlah perayaan, pelepasan lampion ikut menjadi bagian yang menarik perhatian, terutama di area candi.
Baju putih dan sikap yang dijaga saat Waisak
Selain simbol cahaya, pilihan busana juga menjadi bagian penting dalam suasana Waisak. Tidak ada aturan pakaian yang benar-benar khusus, tetapi umat dianjurkan mengenakan pakaian yang sopan dan tidak mencolok.
Banyak pemuka agama Buddha menyarankan baju putih karena warna ini dimaknai sebagai kemurnian dan kesucian. Pilihan itu dianggap selaras dengan semangat menyambut Waisak dengan hati yang bersih.
Di sisi lain, makna paling dasar dari Waisak justru terletak pada lima sila Buddha. Ajaran yang bersumber dari Tripitaka ini menjadi komitmen yang dijaga umat, bukan hanya saat Waisak, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Isi lima sila itu mencakup larangan membunuh, mencuri, melakukan pelecehan seksual, berbohong, dan mengonsumsi minuman keras. Karena itu, lima sila dipahami sebagai latihan pengendalian diri sekaligus dasar kebajikan.
Ritual yang menyentuh sisi batin
Ada juga tradisi yang dilakukan di wihara menjelang Waisak, yaitu memandikan patung Siddharta atau Sang Buddha. Prosesi ini biasanya diiringi doa dari biksu dan dijalankan sebagai bagian dari rangkaian ibadah.
Makna utamanya bukan sekadar membersihkan patung. Ritual itu dipahami sebagai cara menyucikan hati dan pikiran, sehingga umat yang ikut berpartisipasi juga sedang melatih batinnya sendiri.
Di beberapa tempat, umat juga mengibarkan bendera khas Buddha di depan rumah saat Waisak. Tradisi ini tidak selalu muncul di setiap perayaan, tetapi memiliki simbol yang kuat.
Bendera itu memuat lima warna, yaitu biru, kuning emas, merah tua, putih, dan jingga. Biru melambangkan pengabdian, kuning emas berarti kebijaksanaan, merah tua berarti cinta kasih, putih berarti kesucian, dan jingga melambangkan semangat.
Kelima warna tersebut disebut Prabhasvara, yang berarti bersinar. Selain menjadi penanda perayaan, bendera khas Buddha juga dimaknai sebagai simbol perdamaian antarumat beragama.
Di Indonesia, pusat perayaan Waisak nasional kerap dipusatkan di Candi Borobudur. Lokasi ini dipilih karena statusnya sebagai candi Buddha terbesar di dunia dan karena nilai spiritualitasnya yang tinggi bagi umat Buddha.
Selain tradisi yang terlihat secara fisik, Waisak juga diisi puja bakti dan meditasi bersama. Momen ini sering menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan menegaskan kembali nilai kebajikan yang dijaga sepanjang waktu.
Source: www.idntimes.com