Pelantar.id – “Mau ke kiri apa ke kanan?” begitulah sekiranya pertanyaan mendasar yang sering disampaikan teman saya kala kami sering berbincang ringan dalam grup diskusi online beberapa tahun lalu.

Kini, tiga tahun telah berlalu selepas pertanyaan-pertanyaan di atas, narasi itu kembali mengusik pikiran. Namun tidak lagi tentang kiri dan kanan, menjadi Marxis atau Kapitalis, Koservatif atau Moderat.

Kali ini lebih kepada dua sisi yang sangat dekat dengan tempat saya hidup dan menetap. Persoalan utamanya adalah tentang perhelatan malam pergantian tahun di Bumi Tanah Melayu.

Dua perhelatan bertolak belakang disajikan Kota Batam kepada masyarakatnya. Ingin menyongsong keriuhan malam pergantian tahun dengan tembakan kembang api di langit kota, sembari mendengarkan grup musik The Titans bernyayi.

Baca Juga :   Data Bunuh Diri di Indonesia Tinggi, Gangguan Mental Bukan Penyakit Remeh

Atau, mendengarkan tausyah dan ceramah Ustad Abdul Somad (UAS) diiring doa kepada sang pemilik alam semesta, dan bersyukur atas rahmat yang diberikannya.

Pemerintah kota Batam jelas memberikan dua alternatif bertolak belakang bagi masyarakatnya, mau turut hadir dalam keriuhan duniawi semata, atau turut lebur dalam senandung doa kehariban sang khalik.

Bisa dikatakan perhelatan ini akan menjadi alternatif bagi masyarakat, jika tidak ingin ikut dalam keriuhan pesta kembang api di Dataran Engku Putri, bisa hadir di Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah mengikuti ceramah ustad kondang.

“Masyarakat dipersilakan memilih mana yang baik bagi mereka, karena itu adalah hak masing-masing,” terang Efrius, Kabag Humas Pemko Batam menjelaskan kepada wartawan.

Baca Juga :   Tolak Anugrah Kebudayaan, Eka Kurniawan: Sejauh Mana Negara Peduli pada Sastra dan Budaya?

Semua pilihan kini diberikan kepada kita, ibarat pertanyaan kawan saya itu, “mau ke kiri apa kanan?”, atau memilih tidak sama sekali, diam di rumah menganggap malam pergantian tahun adalah hal yang biasa. Semua pilihan adalah hak kita.

Penulis: H.M Chaniago