Gol yang dicetak Maksim Stjopin membuat HJK kembali pulang dengan rasa kecewa setelah hanya bermain 2-2 melawan Ilves di Töölö. Mantan pemain HJK itu justru menjadi sosok paling menentukan dalam laga yang sempat membuka jalan bagi klub ibu kota untuk meraih tiga poin.
Hasil ini terasa makin menyakitkan karena HJK sebenarnya beberapa kali berada dalam posisi untuk mengunci pertandingan. Namun, peluang yang muncul tidak cukup dimaksimalkan, dan tim tamu tetap mampu menemukan celah saat momentum mulai bergeser.
Ilves datang berani, HJK sempat tersentak
Sejak awal, Ilves tidak bermain pasif. Mereka langsung memberi tekanan dan membuat HJK waspada, lalu membuka keunggulan lewat situasi bola mati.
Sapuan Alfie Cicale justru jatuh tepat ke arah Stjopin, yang kemudian melepaskan voli ke sudut bawah gawang. Gol itu menjadi yang kedua bagi Stjopin musim ini dan sekaligus menunjukkan betapa tajamnya Ilves saat mendapat ruang.
Setelah tertinggal, HJK memang lebih sering menguasai permainan. Masalahnya, dominasi itu belum cukup berubah menjadi ancaman yang benar-benar mematikan di depan gawang lawan.
Tekanan HJK belum cukup tajam
Secara umum, HJK masih sering memegang kendali dan membangun serangan dari penguasaan bola. Tapi kualitas penyelesaian akhir mereka belum sesuai harapan, dan tempo serangan yang terlalu lambat juga membuat lawan tidak terlalu sering dipaksa bertahan dalam tekanan tinggi.
Sebelum laga ini, HJK bahkan tercatat sebagai salah satu tim dengan jumlah tembakan tepat sasaran per laga paling sedikit di liga. Itu ikut menjelaskan kenapa permainan mereka kerap terlihat rapi di tengah, tetapi buntu saat masuk area berbahaya.
Pertahanan HJK sebenarnya masih tergolong stabil. Kebobolan mereka masih berada di jalur yang kurang lebih sejalan dengan musim-musim juara dalam sepuluh tahun terakhir, tetapi masalah utama justru muncul di sisi lain lapangan.
Gol penyeimbang belum cukup mengubah arah laga
Menjelang turun minum, tekanan HJK akhirnya membuahkan hasil. Brooklyn Lyons-Foster menyambar bola pada menit ke-43 setelah Ilves gagal membersihkan situasi di kotak penalti.
Gol itu membuat laga kembali terbuka dan memberi HJK peluang untuk membalikkan keadaan di babak kedua. Harapan itu sempat terlihat nyata ketika awal paruh kedua menghadirkan kesempatan terbaik mereka.
Liam Möller mengirim Teemu Pukki dalam lari terobosan, tetapi Otso Virtanen bergerak cepat dan merebut bola dari kaki sang penyerang. Momen itu menjadi salah satu titik paling penting, karena peluang tersebut tampak sebagai jalan paling jelas bagi HJK untuk unggul.
Stjopin kembali menghukum mantan klubnya
Saat HJK belum mampu memanfaatkan peluang emas, Ilves justru kembali menemukan celah. Serangan balik mereka berjalan efektif, dan Stjopin lagi-lagi berada di posisi yang tepat untuk menyelesaikannya.
Teemu Hytönen membawa bola jauh ke depan, menunggu pergerakan Stjopin, lalu mengirim umpan yang membuka ruang tembak. Stjopin kemudian melepas sepakan melewati dua pemain HJK dan mengarahkannya ke tiang jauh untuk membuat skor menjadi 2-1.
Gol kedua itu menegaskan peran besar Stjopin dalam laga ini. Di saat HJK terus mencari ritme yang lebih tajam, Ilves justru memanfaatkan setiap momen yang muncul dengan lebih efisien.
Pukki sempat menjaga harapan, lalu kartu merah menutup cerita
HJK belum menyerah dan terus menekan hingga akhir. Tujuh menit sebelum laga usai, Teemu Pukki bergerak ke arah gawang dan Mads Borchers menuntaskan peluang itu untuk mengubah skor menjadi 2-2.
Namun, upaya mengejar kemenangan akhirnya terganggu ketika Mihailo Bogićević menerima kartu kuning kedua dan harus keluar lapangan. Situasi itu praktis menutup ruang HJK untuk mencari gol penentu.
Bagi HJK, hasil imbang ini terasa seperti kehilangan dua poin lagi di kandang. Dari lima pertandingan liga terakhir, mereka hanya menang sekali, dan tren itu belum cukup memberi tanda bahwa tim sudah keluar dari masalah awal musim.
Gambaran yang lebih besar juga belum berpihak pada mereka. Dalam perbandingan 10 musim terakhir, HJK biasanya sudah mengumpulkan 17 hingga 22 poin pada fase seperti sekarang ketika musim berakhir sebagai juara, sedangkan kali ini mereka baru memiliki 12 poin, sama seperti pada fase yang sama di musim 2024 dan hanya satu poin lebih baik dibanding musim 2019.
Source: www.hs.fi