Bank-bank besar dan digital kini bergerak ke arah yang sama setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25%. Mereka berusaha mempertebal dana murah agar biaya dana tidak melonjak lebih cepat dari pendapatan bunga.
Dorongan itu muncul karena persaingan likuiditas di industri perbankan makin ketat. Imbal hasil instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI tetap tinggi, sehingga bank harus lebih hati-hati saat menghimpun dana dan menetapkan harga kredit.
CASA jadi fokus utama
Di tengah situasi itu, current account savings account atau CASA kembali menjadi tumpuan. Dana murah dinilai paling efektif untuk menjaga margin bunga tetap stabil saat cost of fund berada di bawah tekanan.
CIMB Niaga menjadi salah satu bank yang menaruh perhatian besar pada dana transaksi. Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut rasio CASA perseroan saat ini berada di kisaran 72–73%, dan penguatan CASA sudah menjadi fokus dalam beberapa tahun terakhir.
Bank itu melihat tekanan biaya dana kian besar setelah BI Rate naik dan imbal hasil SRBI masih tinggi. Di sisi lain, permintaan kredit belum pulih sepenuhnya, sehingga pertumbuhan loan dinilai bisa berlangsung lebih ringan.
Untuk menjaga struktur pendanaan tetap efisien, CIMB Niaga mengandalkan CASA berbasis transaksi. Sumber dana tersebut berasal dari rekening operasional, payroll, dan layanan cash management.
Likuiditas dijaga sambil tetap selektif
Bank Syariah Indonesia juga membaca kebijakan BI sebagai langkah pre-emptive dan forward looking. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan keputusan itu penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, dan kepercayaan pasar.
Dari sisi internal, BSI menyebut likuiditas perseroan masih terjaga baik. Hingga Maret 2026, dana pihak ketiga BSI mencapai Rp376,80 triliun, tumbuh 18% secara tahunan, sementara total CASA tercatat Rp236,2 triliun.
Pada sisi pembiayaan, BSI tetap menjaga pertumbuhan dengan selektif. Hingga Maret 2026, pembiayaan BSI mencapai Rp329 triliun atau naik 14,39% secara tahunan, dengan NPF gross membaik menjadi 1,8% dari 1,88%.
BSI juga menegaskan evaluasi harga dana dan pembiayaan akan dilakukan bertahap. Penyesuaian itu akan melihat kondisi pasar, profil risiko, serta daya tahan sektor usaha dan nasabah.
Bank lain ikut menyesuaikan langkah
Bank Mandiri juga menyambut kenaikan suku bunga acuan tersebut. Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan langkah BI mencerminkan komitmen menjaga stabilitas pasar keuangan dan inflasi tetap terkendali.
Bank Mandiri menyebut penyesuaian suku bunga kredit maupun simpanan akan dilakukan secara terukur. Perseroan menempatkan langkah itu dalam kerangka menjaga fungsi intermediasi tanpa mengganggu peran sebagai mitra strategis pemerintah.
Sementara itu, Bank Neo Commerce menghadapi tekanan yang serupa dengan fokus pada likuiditas dan kualitas aset. Chief Financial Officer BNC Sufen Triantio mengatakan posisi likuiditas perseroan masih sangat memadai dengan loan to deposit ratio sebesar 52,38% pada kuartal I 2026.
BNC juga menyiapkan modal CASA yang cukup untuk mempertahankan daya saing biaya dana. Pada kuartal I 2026, CASA ratio bank digital itu tercatat 30,34%.
Persaingan dana murah kian penting
Di tengah kenaikan BI Rate, bank kini harus menyeimbangkan pertumbuhan bisnis, kualitas aset, dan stabilitas pendanaan. Karena itu, banyak bank memperkuat sumber dana murah sambil menyesuaikan pricing secara bertahap.
Langkah tersebut dipakai untuk menahan agar margin bunga tidak bocor saat persaingan likuiditas makin sengit. Pada saat yang sama, bank tetap berusaha menjaga kualitas pembiayaan dan daya tahan nasabah agar fungsi intermediasi tetap berjalan.
Source: finansial.bisnis.com