oleh: Rivaldi Ihsan

pelantar. id – Budaya arak-arakan merupakan suatu peristiwa wajar yang maklumi masyarakat Indonesia. Arak-arakan menjadi tontonan dan penanda akan adanya suatu momen perayaan penting bagi masyarakat setempat.

Peristiwa arak-arakan juga momentum penanda, bahwa akan ada perihal situasi kegembiraan atau kesedihan seperti; arak-arakan pesta perkawinan, arak-arakan suporter sepak bola, dan arak-arakan konvoi komunitas sepeda motor, dan arak-arakan menghantarkan jenazah ke liang kubur menggunakan atribut serba berwarna hitam atau pun berwarna putih.

Setiap etnis di Indonesia tentu memiliki pertunjukan budaya arak-arakan dengan sajian konsep yang beraneka ragam, baik dari segi artistik visual, kostum, atribut, dan musiknya. Biasanya arak-arakan itu bersifat sementara, dilaksanakan pada bagian awal sebagai pembukaan pada suatu perayaan tertentu.

Arak berarti berjalan bersama-sama dengan beriringan, sedangkan arak-arakan berarti iring-iringan orang atau pawai (KBBI). Ada suatu peristiwa menarik yang rutin dilakukan oleh masyarakat Nagari Sicincin Kabupaten Padang Pariaman.

Peristiwa itu ialah perayaan memperingati hari lahir Nabi Muhammad biasa disebut Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirayakan pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam tahun Hijriyah. Mauluik nama sebutan familiar dalam bahasa Minang.

Mauluik itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu mauluik ketek dan mauluik gadang.
Pertama, mauluik ketek atau perayaan kecil Maulid Nabi Muhammad yang diadakan satu kali dalam satu tahun oleh setiap suku yang berada di korong/kampung Nagari Sicincin.

Mereka biasanya menyiapkan berbagai macam kue, beserta nasi dan lauk. Lalu mereka membawanya ke surau masing-masing sebagai wujud rasa syukur untuk memeriahkan perayaan mauluik ketek. Kedua, perayaan Mauluik Gadang atau perayaan besar Maulid Nabi yang diadakan secara besar, meriah, semarak, dan mewah dari pada Mauluik ketek.

Baca Juga :   Kominfo Lakukan Uji Coba Blokir Ponsel Black Market

Pelaksanaan perayaan Mauluik Gadang membutuhkan biaya yang cukup besar, sehingga donatur utama perayaannya berasal dari masyarakat setempat dan orang-orang Nagari Sicincin yang berada di Perantauan.

Masyarakat perantau menjadi donatur sumbangan terbesar untuk perayaan Mauluik Gadang. Mereka juga sering menyempatkan diri berlibur sejenak dari rutinitas pekerjaan di tanah rantau serta mengunjungi kampung halamannya hanya untuk menonton perayaan Mauluik Gadang di Nagari Sicincin.

Pada hari perayaan Mauluik Gadang pertunjukan arak-arakan gandang tasa diisi dari setiap korong Sicincin, korong Ladang Laweh, korong Bari, Korong Pauuh. Mereka melakukan pertunjukan arak-arakan dari korong masing-masing untuk menuju titik berkumpul di masjid Raya Pauuh Sicincin.

Pada saat arak-arakan sedang berlangsung, gandang tasa menjadi bagian penanda memperingati perayaan Mauluik Nabi, pada akhirnya menciptakan suasana kerumunan serta menjalin interaksi di antara pemain gandang tasa dan penonton pertunjukan masyarakat Nagari Sicincin.

Prosesi pertunjukan arak-arakan gandang tasa di mulai pada 14.00 wib di sepanjang jalan raya Sicincin. Dan tidak lupa pertunjukan arak-arakan itu membawa pohon yang memiliki ranting.

Pada ranting pohon diselipkan uang kertas dengan nominal sepuluh ribu hingga uang seratus ribu rupiah. Selain itu, juga dihiasi oleh tanaman hasil dari pertanian. Nama lain dari pohon itu disebut dengan istilah Tabuik.

Baca Juga :   Memaknai Tugu Nol Kilometer di Aceh

Tabuik ialah nama benda atau artefak yang menjadi fokus utama dalam setiap pertunjukan gandang tasa (mengutip, Asril pengamat seni). Posisi tabuik biasanya di depan dipegang oleh satu atau dua orang kemudian dibelakangnya disusul oleh pemain gandang tasa.

Alur proses pertunjukan arakan-arakan gandang tasa di mulai dari korong Bari kemudian disusul korong Sicincin, lalu berjumpa di terminal Sicincin. Di terminal inilah dua kubu itu mulai melakukan atraksi pertunjukan arak-arakan gandang tasa.

Atraksi itu berupa permainan gandang tasa secara bergantian, sesekali bermain secara bersamaan. Dan tidak lupa, gerakan tubuh berjoget mengikuti irama gandang tasa sambil melontarkan ucapan Oyak, oyak, oyak. Selanjutnya, korong Bari dan korong Sicincin melanjutkan perjalanan menuju masjid Raya Pauh, kemudian bertemu diperempatan jalan dengan korong Ladang Laweh dengan iringan gandang tasa juga, serta membawa arak-arakan Tabuik berlambang seekor burung terbang dirantingnya berisi uang.

Ensambel gandang tasa menjadi ciri khas dari identitas masyarakat Sicincin, serta menjadi pembeda dengan perayaan Mauluik Gadang Nabi Muhammad SAW dengan perayaan maulid daerah lainnya. Peristiwa pertunjukan arak-arakan gandang tasa mauluik gadang merupakan bagian dari peristiwa budaya di Nagari Sicincin.

Pertunjukan arak-arakan itu terdapat nilai-nilai kekeluargaan, nilai kebersamaan, nilai rasa saling memiliki atas kepemilikan budayaanya. Partisipasi para perantau dan masyarakat Nagari Sicincin merupakan wujud dari pelestarikan dan keberlangsungan seni budayanya.