pelantar.id – Mendengar seseorang dikarantina, mungkin di antara kita beranggapan bahwa orang tersebut telah terinfeksi penyakit menular. Jawabannya belum tentu.

Penunjukkan Natuna sebagai daerah karantina untuk 238 WNI asal Wuhan telah membawa keresahan warga Kepri terutama warga Natuna. Mendengar karantina, warga takut terinfeksi corona.

Masyarakat memang perlu waspada, namun sebaiknya tidak paranoid. Dilansir dari CNN, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo memastikan WNI yang dipulangkan dari Kota Wuhan tidak terinfeksi virus corona.

Meskipun begitu, tetap perlu dilakukan karantina untuk observasi lebih lanjut terhadap ratusan WNI itu.

Perlu dipahami mengapa harus dilakukan karantina? karena karantina diangap menjadi langkah preventif untuk menghindari masyarakat dari berbagai penyakit berbahaya yang menyebar. Meskipun nyatanya dikatakan sehat, namun para WNI tersebut berada dilingkungan penyakit menular.

Apa itu Karantina?

Dilansir dari hellosehat, Karantina adalah tindakan memisahkan dan membatasi orang-orang yang telah memiliki kontak dengan penyakit menular (belum tentu juga tertular penyakit) untuk mengetahui apakah mereka akan terkena penyakit tersebut atau tidak.

Istilah karantina sering digunakan pada dua keadaan: (1) isolasi terhadap orang atau barang sebelum dimasukkan ke wilayah yang baru, dan (2) pemisahan individu yang sakit dengan yang sehat.

Baca Juga :   Hotel Karantina Corona Virus di China Runtuh

Seseorang yang memiliki kontak dengan penyakit menular punya kemungkinan untuk terinfeksi, meskipun bisa juga tidak. Untuk itu ratusan WNI yang tiba dari Wuhan tersebut tetap harus dikarantina meskipun pemerintah memastikan mereka tidak terinfeksi, pasalnya mereka tinggal di wilayah di mana penyakit menular menyebar.

Dalam proses karantina, mereka akan dipisahkan dari keramaian, disediakan tempat khusus/ruang tertentu untuk diinapkan sementara.

Karantina juga bertujuan untuk melihat dan mengevaluasi adanya risiko penularan penyakit berbahaya hingga menetukan langkah apa yang dapat dilakukan untuk melindungi masyarakat dari penyebaran penyakit menular yang berbahaya.

Apa saja yang dilakukan saat karantina?

Sistem karantina identik dengan “pengasingan” terhadap seseorang atau suatu benda sebelum masuk ke negara atau wilayah lain karena diduga mengidap penyakit menular.

Selama karantina berlangsung, kondisi kesehatan orang yang dikarantika akan terus dipantau petugas kesehatan. Mereka juga menjalani serangkaian pemeriksaan medis seperti tes darah atau tes lainnya yang bisa menunjang diagnosis.

Baca Juga :   Wisata Pulau Komodo Dibuka Kembali pada 15 Juni 2020

Proses karantina berlangsung hingga risiko penularan dianggap sudah menurun atau risiko penyakitnya untuk berkembang sudah menurun.

Namun sebaliknya, apabila ditemukan gejala penyakit menular, orang tersebut akan diisolasi. Isolasi adalah memisahkan orang yang terserang penyakit menular dari orang yang sehat dan tidak terkontaminasi.

Prosedur Isolasi dan Karantina

Menurut Peraturan Kesehatan Internasional, ada sejumlah prosedur yang perlu diperhatikan saat memutuskan untuk melakukan isolasi dan karantina:

1. Individu yang terisolasi harus ditempatkan secara terpisah dari individu yang dikarantina.
2. Status kesehatan individu yang terisolasi dan dikarantina harus dimonitor secara teratur, untuk menentukan apakah mereka terus membutuhkan isolasi atau karantina.
3. Jika seseorang yang dikarantina diyakini terinfeksi penyakit menular maka ia harus segera dibawa ke ruang isolasi.
4. Isolasi dan karantina mesti segera diakhiri ketika individu negatif mengidap penyakit menular.
5. Kebutuhan individu yang tengah diisolasi dan karantina juga perlu diperhatikan, seperti disediakan makanan, pakaian, dan lainnya.
6. Tempat isolasi dan karantina pun juga harus dijaga dan higienis.