Menara Batu Tua Di Gyeongju Ini Tersusun Dari 365 Batu, Penuh Simbol Kerajaan Silla

Kalau dilihat sekilas, Cheomseongdae memang hanya tampak seperti menara batu tua yang sederhana. Namun, bangunan di Gyeongju ini menyimpan susunan yang sarat makna, mulai dari 365 batu granit hingga lapisan yang dikaitkan dengan kekuasaan Ratu Seondeok.

Banyak orang mengenalnya sebagai observatorium tertua di Asia Timur. Yang membuatnya semakin istimewa adalah cara setiap bagiannya disusun dengan simbolisme yang kuat, bukan semata untuk berdiri sebagai bangunan, tetapi juga sebagai penanda ilmu pengetahuan, politik, dan budaya pada masa Kerajaan Silla.

Cheomseongdae dibangun pada masa pemerintahan Ratu Seondeok, sekitar tahun 632–647 Masehi. Pada periode itu, pengamatan langit punya peran penting dalam kehidupan kerajaan karena digunakan untuk menyusun kalender, membaca pergantian musim, serta mendukung pertanian dan stabilitas pemerintahan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa Kerajaan Silla mempelajari pergerakan langit dengan serius. Karena itu, Cheomseongdae kerap dipandang sebagai bukti awal kecanggihan ilmu astronomi di Korea kuno.

365 batu yang bukan kebetulan

Salah satu hal paling terkenal dari Cheomseongdae adalah jumlah batunya. Menara ini tersusun dari 365 batu granit yang melambangkan jumlah hari dalam kalender lunar.

Selain itu, bangunan ini memiliki 27 lapisan batu yang dipercaya merepresentasikan Ratu Seondeok sebagai penguasa ke-27 Silla. Susunan itu membuat Cheomseongdae bukan hanya bangunan astronomi, tetapi juga simbol identitas politik pada zamannya.

Di bagian tengah menara terdapat bukaan kecil yang diduga dipakai sebagai jalur masuk dengan bantuan tangga. Dari sana, para pengamat kemungkinan naik ke bagian atas untuk memantau pergerakan bintang dan benda langit lainnya.

Bentuk unik yang tetap bertahan lama

Dari kejauhan, Cheomseongdae terlihat seperti botol susu raksasa. Bagian bawahnya melebar, lalu menyempit di tengah sebelum membulat lagi di bagian atas.

Desain seperti ini diduga membantu bangunan tetap kokoh menghadapi gempa ringan dan perubahan cuaca ekstrem. Tingginya mencapai 9,17 meter dengan diameter dasar hampir 5 meter.

Yang menarik, batu-batu granit itu disusun tanpa mortar modern. Meski begitu, struktur ini masih berdiri tegak setelah melewati lebih dari 1.300 tahun.

Berada di jantung Gyeongju

Cheomseongdae berdiri di Gyeongju, kota yang dijuluki “museum tanpa dinding” karena hampir seluruh wilayahnya dipenuhi situs peninggalan Kerajaan Silla. Di kota ini, makam kuno, kuil Buddha, hingga reruntuhan istana tersebar di banyak titik.

Keberadaan menara ini ikut menguatkan citra Gyeongju sebagai pusat budaya Korea kuno. Pada malam hari, area sekitarnya terlihat menawan karena pencahayaan lembut yang menyorot susunan batunya.

Banyak wisatawan datang menjelang senja untuk menikmati suasana klasik di lokasi itu. Tidak sedikit fotografer juga memburu siluet menara dengan latar langit malam.

Diakui dunia dan terus dijaga

Cheomseongdae menjadi bagian dari kawasan bersejarah Gyeongju yang tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2000. Pengakuan itu diberikan karena kawasan tersebut menyimpan banyak peninggalan berharga dari Kerajaan Silla.

Di Korea Selatan, Cheomseongdae dianggap sebagai simbol kemajuan ilmu pengetahuan masa kuno. Karena itu, nilai historisnya terus dijaga lewat konservasi dan penelitian rutin.

Kini, observatorium tua ini tetap menjadi tujuan favorit wisatawan lokal dan mancanegara. Banyak pelajar datang untuk mempelajari astronomi tradisional Korea secara langsung, sementara pada musim semi kawasan sekitarnya makin hidup oleh bunga yang bermekaran.

Source: www.idntimes.com
Exit mobile version