Oleh: H.M Chaniago

Pelantar.ID – Puluhan lembar kertas bergambar, lengkap dengan tulisan atau sekadar coretan berformat cetakan hitam putih terhampar begitu saja di samping kepingan compact cassette dan compact disc kala itu di sebuah studio di Batuaji.

Kertas-kertas fotocopy yang telah dijilid dan dirapikan serupa buku atau kumpulan catatan kecil itu di bawa langsung dari Bandung oleh dua orang yang mengatasnamakan diri mereka Alzheimergrind, duo blast beat noise punk band dari Bandung.

 

Kala itu mereka ke Batam dalam rangka persinggahan sementara tour musik bertema “Pura-Pura Sea Tour” menuju beberapa negara di Asia.

Sehingga demi menyambung nafas keuangan selama tour berjalan, mereka sengaja membawa beberapa merchandise musik. Salah satunya adalah kumpulan kertas yang biasa disebut zine.

Ada beragam zine yang mereka bawa dari hasil karya para Ziner (penggiat zine) di kota Kembang. Beberapa di antaranya adalah: (catatan: tanpa huruf kapital), Hey Rembulan, Toilet Zine, Blastmind X Kampaksquad, dan Zineku. Harga yang mereka patok juga menarik, yakni rata-rata Rp. 5000, dan saya membelinya sebanyak enam zine.

 

Sejarah Zine

Mengenang sejarah perkembangan zine ini sendiri, angan saya kembali menuju tulisan-tulisan Stephen Duncombe dalam buku berjudul Notes From The Underground: Zines and The Politics of Alternative Culture yang pernah saya baca beberapa tahun silam, dan sialnya di bawa kabur ke kota lain oleh seorang kawan.

Pada sebuah ulasan dalam buku, Duncombe pernah menuliskan se-paragraf kalimat berbunyi, “Orang aneh, kutu buku, kuper serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungan adalah karakter orang-orang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang, lewat zine-zine mereka.” tulisnya dalam buku suci yang membahas segala lini tentang zine ini.

Secara garis besar, kutipan dari se-paragraf kalimat di atas menjelaskan awal mulanya zine berkembang di dunia barat. Ia dibentuk oleh sejarah panjang media alternatif di Amerika Serikat yang mana disebutkan lahir pada circa 30’an.

Di masa itu, Duncombe melegitimasikan zine berakar dari sekumpulan penggemar karya fiksi ilmiah atau bahasa milenialnya Science Fiction (Sci-fi). Karena kecintaan mereka akan karya-karya sci-fi ini, kemudian muncul media alternatif yang disebut fanzine (zine sendiri adalah abreviasi dari fanzine), sebagai cara untuk berbagi cerita-cerita fiksi ilmiah, opini serta berkomunikasi di antara perkumpulan penggemar sci-fi saat itu.

Baca Juga :   Samaira Mehta, Programmer Cilik yang Bikin Google-Microsoft Jatuh Hati

Tak dinyana, 40 tahun berselang, di pertengahan circa 70-‘an, pengaruh besar keberadaan fanzine tersebut menakhlikkan terjadinya gelombang media alternatif yang sama di ranah D.I.Y musik punk, ia menyebar dan kokoh dalam lingkup komunitas di antara para fans musik punk rock. Zine pun semakin jauh melalang-buana tanpa harus menghiraukan media-media musik mainstream yang penuh gimmick menyebalkan.

Terhitung ada beberapa nama yang melegenda kala itu: Maximum Rock N’ Roll, Profane Existence, atau Punk Planet (legenda zine dari skena CBGB). Bahkan menjalar ke wilayah skenal lokal negeri kita, penggiat zine dalam negeri pasti akan mengenal Brainwashed, Mindblast, Morbid Noise, Tigabelas Zine hingga terbaru bernama Salah Cetak Zine.

Nama-nama di atas adalah media alternatif yang pernah menebar propaganda aksi kreatifitas ranah bawah tanah dengan konsep D.I.Y yang tak lekang oleh tatanan mayor yang kala itu sangat bergelora ria di atas permukaan tanah.

Jauh dari hiruk pikuk konsep mayor, zine melalui jejaringan bawah tanahnya menyuarakan suara-suara yang tak didendangkan media-media arus utama, dan bahkan hingga ke ranah politik yang tak tersentuh media mayor, dengan tagline menyerebak kala itu “the zines are allright!”.

Sementara itu, masih Stephen Duncombe dalam studi analisisnya yang kita anggap cukup komprehensif tentang ‘zines’. Sejarah dan lika-liku perkembangan media alternatif ini ia gambarkan dengan leluasa. Pembahasan tentang muatan nilai dan propaganda yang biasa diserukan oleh para penggiatnya tak luput dari perhatian Duncombe.

“Karena secara historikal, zines lahir dan besar dari kreasi perorangan, komunitas atau scene yang tidak mendapatkan suara di arus utama,” ujar teman saya yang membawa kabur buku keren ini, tatkala kami membahasnya berdua di tahun 2013 silam.

Muatan Propaganda Pada Isi dan Kebebasan Berekspresi

Zine memiliki ragam rupa dan orientasi muatan pada isi. Beberapa tema diangkat oleh sang kreatornya, selaras dengan kehendak bebas dalam berkarya yang ingin ia suarakan.

Tema-tema personal, gaya hidup, seni, musik, fiksi ilmiah, budaya, sosial, politik, sampai keagamaan pun semua ada dalam zine. Sudah barang tentu dengan perspektif yang tidak lazim atau dalam artian di luar kadar zona mainstream atau sedikit sarkas dan satire.

Ketika semua tulisan dan isi dari zine itu selesai dikreasikan, rata-rata para kreator biasanya akan mencetak dalam bentuk roman yang sederhana, kebanyakan tradisional atau konservatif, karena untuk pemasarannya juga lebih untuk kalangan sendiri atau khusus.

Baca Juga :   Kepri Janjikan Kemudahan Birokrasi Investasi

Hal ini menujukkan bahwa media alternatif ini merupakan sebuah bentuk perlawan kultural, yang bahkan terkadang lebih sangat politikal dari pada media-media arus utama, seperti koran atau majalah terkenal.

Dewasa ini saat saya mencoba membahasnya kembali dengan teman-teman di skena musik lokal Batam, apakah zines masih cukup esensial di jaman sekarang dalam menebar propagada perlawan terhadap media arus utama, tatkala kita mungkin lebih suka membaca atau memuat tulisan di Multiply atau Blogspot atau status pribadi media sosial.

Seorang teman saya dari skena musik lokal Batam menjawab, bahwa hal ini masih bisa dikondisikan, dalam artian penyelarasan konsep zine dan sikap budaya internet juga wajib dipertimbangkan.

“Bisa saja zine kembali hidup, walau tidak harus melalui selebaran fotocopy seperti gaya lama. Setidaknya nafas counterculture itu masih ada ketika ia beralih ke internet,” terang Ganjar, salah seorang penggiat musik di skena lokal Batam.

“Intinya zine itu menurut aku gunanya kalo di skena yang paling utama adalah utk promosiin band-band dan gigs. Selain itu bisa juga memuat tulisan yg isinya ide-ide yg ndak diobrolkan pas nongkrong atau dibahas oleh media arus utama. Jadi di dalamnya juga ada muatan literasi” terangnya lagi.

Meski pun begitu, seperti yang saya temui di Batuaji melalui duo musisi Alzheimergrind. Di beberapa tempat seperti zine yang mereka bawa dari kota asal, Bandung, menunjukkan bawah zine berkonsep ortodok hingga sekarang masih ada yang tetap bertahan, bahkan semakin tumbuh dengan adanya pagelaran ‘Festival Zine Bandung’.

Hal lainnya, mungkin beberapa penggiat zine mencoba mengikuti perkembangan dunia internet, sebagian dari zine berevolusi manata rupa menjadi lebih baik ke arah yang lebih profesional dalam artian tampilan, baik dalam bentuk zine atau newsletter, mereka terlihat lebih variatif, berukuran tebal dan berwarna, seperti: Ripple, Wasted Rockers, dan beberapa lagi yang lainnya.

“Intinya, selalu ada ruang dan waktu untuk berkarya dan menampilkan karya dengan cara yang berbeda, tanpa harus terpaut aturan manajemen yang baku,” pungkas Ganjar yang dalam waktu dekat band indie-pop nya Midnight Clay akan launching EP Album.

Jadi, apa anda tertarik untuk mencoba menggalakkan kembali zine ini, untuk merayakan kebebasan berekspresi dalam konsep media alternatif di luar media yang selama ini mendominasi?