Pelantar.id – Baru baru ini satu media baru launching perdana di Batam. Surya Kepri.

Surya Kepri memberanikan diri menjadi media online yang sekaligus memproduksi berita dalam bentuk cetak berupa koran mingguan.

Langkah yang cukup berani mengingat media cetak saat ini sedang tertatih memasuki senja kala dengan menurunnya jumlah pembaca koran.

Surya Kepri bukan satu satunya media baru yang hadir di Kepri belakangan ini, sebutlah Berita7, kabarbatam, batamtoday, barakata.id, batamclick, katabatam, gowest.id dan pelantar.id sendiri.

Bermunculannya berbagai media daring ini karena sudah bergantinya tren menyajikan berita. Misalnya untuk generasi milenial yang ‘meletek’ alias melek teknologi yang cenderung memilih mendapatkan informasi dari internet daripada koran dan televisi.

Namun kecendrungan ini tampaknya kurang diperhatikan para pemilik media-media baru di daerah. Target pembaca medianya saat ini siapa?

Baca Juga :   Kenaikan Harga Rumah di Kepri Tertinggi di Indonesia

Menyesuaikan target pembaca akan beriringan dengan gaya penyajian bahasa juga.

Walaupun media online berjamuran tetapi tutur bahasanya masih sangat surat kabar (kaku), kurang SEO friendly, malah tidak jarang beritanya mirip satu sama lain.

Berbeda dengan media cetak, tidak bisa dipungkiri bagi media online selagi masih bermain di lapangan Google, artinya pemain akan tetap ikut aturan mainnya.

Artikel-artikel yang SEO friendly tetap harus ada, analisa SEO tetap harus dilakukan.

Membangun media tanpa menentukan siapa target pembaca akan berdampak pada keberlangsungan pasar media itu. Apalagi, Investasi untuk menjalankan sebuah media online tidak sedikit.

Walaupun tidak mencetak koran tetap saja mereka harus bayar hosting, domain, gaji karyawan, pajak perusahaan, BPJS, operasional kantor, dan lain lain. Sering kali tidak sebanding dengan pemasukan.

Berbeda dengan media nasional dengan sebaran berita yang lebih luas, seperti media – media baru;  Asumsi, Narasi TV, opini.id, tirto.id, Geotimes dan Mojok.co sudah mengerti dari awal dengan siapa mereka berkomunikasi. Menggunakan bahasa yang cocok untuk generasi masa kini.

Baca Juga :   Sejarah Santa Claus, Berawal dari Uskup yang Murah Hati

Jelas sasaran mereka adalah milenial 20 sampai dengan 40 tahun. Di mana mereka adalah pasar empuk para pengiklan dengan gaya hidup yang konsumtif.

Dengan gaya bahasa dan komunikasi yang sesuai dengan target market maka mampu meningkatkan traffic dan advertiser pun tidak ragu beriklan.

Beberapa solusi untuk media baru mungkin adalah segmentasi media. Sebuah media yang memiliki segmentasi berita yang terarah lebih memiliki kredibilitas yang tinggi dibanding media dengan berita umum, setidaknya di mata Google sebagai mesin pencari terbesar didunia.

Contohnya Asumsi dan Opini.id yang fokus kepada politik, jalantikus.com yang fokus di gadget dan games.

Solusi kedua adalah akurasi berita. Saat ini kecepatan berita dan kuantitas bukan jadi satu satunya tolak ukur dalam menjaring traffic.

Baca Juga :   Kementerian Lingkungan Hidup akan Bawa Aplikasi ASAP Polri ke Tingkat Dunia

Para pembaca milenial sudah mulai mencari berita berita yang lebih in depth, lengkap dengan visual menarik seperti infografik atau animasi.

Akurasi dan kualitas berita bisa menjadi kekuatan dan pembeda dari media yang lainnya.

Eksistensi di media sosial seperti Facebook, Instagram dan YouTube juga bisa mengalirkan traffic ke situs media. Tentunya dengan presentasi yang kreatif dan menarik kepada target pembaca.

Semua ini tentu kembali kepada kebijakan masing masing media. Apakah nyaman dengan cara lamanya, atau berani mengambil resiko dengan berinvestasi ke inovasi inovasi baru sehingga mempunyai ciri khas sendiri.

 

Oleh: Adam Zulfikar (Co founder TMA Group)