Mesin Hipersonik Jepang Lolos Uji, Jalur Ke AS Bisa Dipangkas Jadi 2 Jam pada 2040-an

Jepang sedang menyiapkan lompatan besar di dunia penerbangan dengan mesin hipersonik yang dibidik untuk membawa perjalanan antarbenua ke level baru. Target yang paling mencuri perhatian adalah rute Jepang ke Amerika Serikat yang disebut bisa ditempuh hanya dalam dua jam.

Dorongan ini datang dari tim peneliti gabungan JAXA, Waseda University, University of Tokyo, dan Keio University. Mereka menargetkan komersialisasi pada 2040-an, meski jalan menuju pesawat penumpang masih panjang dan penuh tantangan teknis.

Uji mesin di fasilitas JAXA

Mesin hipersonik Mach 5 itu baru saja melewati uji di fasilitas Japan Aerospace Exploration Agency. Pengujian dilakukan di Kakuda Space Center, yang menjadi salah satu tahap penting dalam program yang sudah dikembangkan sejak 2013.

Dalam uji tersebut, tim mensimulasikan kondisi pada ketinggian sekitar 15 mil atau hampir 80.000 kaki. Ini jauh di atas ketinggian jelajah pesawat komersial besar yang biasanya berada di kisaran 35.000 sampai 41.000 kaki.

Pada lingkungan ekstrem seperti itu, kendaraan harus tahan terhadap gelombang kejut dan suhu yang bisa mencapai 1.832 derajat Fahrenheit. Karena itu, pengujian difokuskan pada perlindungan termal, permukaan kendali, dan performa pembakaran ramjet.

Mengapa ambisi ini dianggap besar

Hipersonik berarti melaju lima kali kecepatan suara, atau sekitar 3.836 mph. Angka itu membuat proyek ini melampaui era supersonik yang selama ini paling dikenal publik lewat Concorde.

Concorde sendiri sempat menjadi simbol penerbangan cepat sebelum pensiun pada 2003. Pesawat itu bisa melaju 1.350 mph dan terbang dari New York ke London dalam waktu kurang dari tiga setengah jam.

Di sisi lain, teknologi hipersonik selama ini lebih sering dikaitkan dengan rudal atau perjalanan antariksa. Artemis II pernah mencapai lebih dari 17.000 mph saat peluncuran, sementara pesawat ulang-alik juga menembus kecepatan hipersonik saat re-entry.

NASA X-15 bahkan sudah membuktikan penerbangan hipersonik berawak pada 1960-an dengan kecepatan 4.520 mph. Namun, kendaraan itu tetap berstatus pesawat eksperimental, bukan alat transportasi penumpang.

Jalan ke pesawat komersial masih panjang

Mesin yang sedang dikembangkan ini tidak hanya dibidik untuk penerbangan cepat di atmosfer. Jika proyeknya berhasil, mesin yang sama juga berpotensi dipakai untuk membawa kendaraan ke ruang angkasa bila dipasangi mesin roket.

Tahap uji berikutnya kemungkinan melibatkan pemasangan pesawat ke sounding rocket untuk demonstrasi di dunia nyata. Meski begitu, pengembangan penuh pesawat ini diperkirakan masih bisa memakan waktu hingga 20 tahun.

Target jangka panjang itu menempatkan Jepang di tengah perlombaan hipersonik yang lebih luas. Amerika Serikat juga terus mengembangkan teknologi hipersonik, termasuk untuk kebutuhan militer, sementara perusahaan swasta ikut bekerja bersama pemerintah untuk memperkuat kemampuan domestik di bidang tersebut.

Stratolaunch menjadi salah satu contoh terbaru. Pada 2025, perusahaan itu menyelesaikan dua penerbangan uji sukses untuk Talon-A2, kendaraan hipersonik yang dapat digunakan kembali, yang mencapai kecepatan hipersonik dan mendarat dengan selamat.

Namun Talon-A2 tidak dirancang untuk penggunaan komersial. Situasi itu membuat proyek Jepang menonjol karena tidak hanya mengejar kecepatan, tetapi juga membidik masa depan penerbangan penumpang yang lebih cepat dari apa pun yang pernah ada di jalur komersial.

Exit mobile version