Konsensus pasar justru masih melihat ruang naik yang besar untuk BBCA, meski sahamnya sedang tertekan dan sempat menyentuh area Rp6.000. Target rata-rata analis berada di Rp8.912 per saham, dengan target tertinggi mencapai Rp10.900.
Optimisme itu muncul di tengah pergerakan harga yang belum lepas dari tekanan sepanjang tahun ini. Pada perdagangan Selasa, 13 Mei 2026, saham PT Bank Central Asia Tbk ditutup di Rp6.100 dan masih mencatat pelemahan 32,22 persen secara tahunan.
Di sisi lain, tekanan jual asing belum benar-benar mereda. Pada 13 Mei 2026, investor asing mencatat net foreign sell Rp91,76 miliar saat nilai transaksi BBCA mencapai Rp898,1 miliar dengan volume 1,47 juta lot.
Pola serupa juga terlihat pada perdagangan sebelumnya. Pada 8 Mei 2026, net foreign sell mencapai Rp34,71 miliar ketika saham ditutup di Rp6.175, lalu sehari sebelumnya arus keluar asing lebih besar lagi sebesar Rp83,12 miliar saat harga berada di Rp6.225.
Tekanan paling besar terjadi pada akhir April 2026. Dalam perdagangan 30 April 2026, BBCA mencatat net foreign sell hingga Rp690,95 miliar dengan nilai transaksi Rp1,78 triliun, sementara saham ditutup di Rp5.850.
Pergerakan harga masih rapuh
Secara year to date, BBCA sudah turun 24,46 persen atau 1.975 poin sejak awal 2026. Saham yang sempat bergerak di area 8.000 itu kini bertahan di kisaran 6.100 dan belum menunjukkan pemulihan yang meyakinkan.
Pada perdagangan 13 Mei, BBCA sempat bergerak di rentang Rp6.025 hingga Rp6.200 sebelum akhirnya parkir di Rp6.100. Frekuensi transaksinya tercatat 26.545 kali dengan rata-rata harga perdagangan Rp6.095.
Dalam tiga bulan terakhir, pergerakan harga juga cenderung turun bertahap dari area 7.000 menuju kisaran 6.000. Kondisi ini membuat saham bank berkapitalisasi jumbo itu masih aktif diperdagangkan, tetapi tekanan jual belum hilang.
Fundamental masih jadi alasan pelaku pasar menahan sikap
Meski harga saham melemah, manajemen BBCA sebelumnya menyampaikan bahwa fundamental bisnis perusahaan tetap berjalan normal. Hingga kini belum ada pernyataan resmi terbaru dari perseroan terkait pergerakan harga saham di pasar reguler.
Sikap pasar terhadap BBCA juga belum sepenuhnya berubah negatif. Saham ini masih masuk radar investor karena posisi bisnisnya yang besar dan struktur kepemilikan yang tetap kuat.
Data kepemilikan menunjukkan PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pemegang saham utama dengan porsi 54,94 persen atau sekitar 67,72 miliar saham. Porsi publik nonwarkat tercatat 42,15 persen dan free float berada di level 42,45 persen.
Di daftar pemegang saham utama, investor asing institusi juga masih terlihat. Government of Norway tercatat menggenggam sekitar 1,03 persen saham BBCA atau setara 1,26 miliar saham per 8 Mei 2026.
Analis tetap menempatkan target jauh di atas harga sekarang
Dari sisi riset, hampir seluruh analis masih memberi pandangan positif. Sebanyak 35 analis merekomendasikan buy untuk BBCA, sementara dua analis memilih hold dan tidak ada yang memberi sell.
Target harga rata-rata analis berada di Rp8.912 per saham. Dengan posisi saat ini di Rp6.100, target itu masih mencerminkan ruang kenaikan sekitar 46 persen.
Rentang proyeksi analis juga cukup lebar. Target terendah berada di Rp5.500, sedangkan target tertinggi tetap di Rp10.900.
Dengan tekanan asing yang belum berhenti, harga yang masih tertahan di area 6.000, dan konsensus analis yang tetap positif, BBCA masih menjadi salah satu emiten perbankan yang banyak diperhatikan pasar. Pergerakan berikutnya akan menentukan apakah saham ini mampu keluar dari fase pelemahan yang sudah berlangsung sejak awal tahun.
Source: www.kabarbursa.com