Perdagangan saham di Indonesia menutup sesi Rabu dengan nada lebih tenang setelah tekanan dari pasar global mulai mereda. Di saat yang sama, pelemahan harga minyak memberi ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset berisiko, termasuk saham-saham di Asia dan dalam negeri.
IHSG akhirnya menguat 35,36 poin atau 0,50 persen ke posisi 7.092,47. Indeks LQ45 juga ikut naik 1,18 poin atau 0,17 persen ke level 682,76.
Kenaikan itu tidak berdiri sendiri karena bursa-bursa Asia juga bergerak positif. Nikkei naik 228,20 poin atau 0,38 persen ke 59.513,12, Shanghai menguat 48,01 poin atau 1,17 persen ke 4.160,17, Hang Seng bertambah 315,17 poin atau 1,22 persen ke 26.213,78, dan Straits Times naik 6,77 poin atau 0,14 persen ke 4.927,38.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menilai penguatan di kawasan ini dipicu meredanya tensi konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong minat beli di saham-saham Asia, termasuk di Indonesia.
Minyak turun tajam, sentimen pasar ikut berubah
Di pasar komoditas, harga minyak mentah terkoreksi cukup dalam dan menjadi salah satu penopang utama perbaikan sentimen. Pada perdagangan hari ini pukul 17.00 WIB, harga minyak WTI turun 8,86 persen ke 93,21 dolar AS per barel, sementara Brent melemah 7,75 persen ke 101,36 dolar AS per barel.
Pelemahan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa AS akan menghentikan sementara upayanya membantu kapal-kapal yang terdampar keluar dari Selat Hormuz. Pernyataan tersebut dibaca pasar sebagai sinyal adanya kemajuan menuju potensi kesepakatan dengan Iran.
Trump juga menyebut rencana membahas situasi Iran dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan puncak pada 14-15 Mei 2026 mendatang. Investor menangkap langkah itu sebagai upaya menurunkan risiko geopolitik yang lebih luas.
Rupiah menguat, bursa domestik ikut mendapat dukungan
Dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Strateginya mencakup intervensi pasar, penguatan likuiditas, dan pengetatan pembelian valuta asing.
Rupiah lalu bergerak menguat 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.387 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu. Penguatan mata uang domestik ini ikut membantu menjaga sentimen pasar saham tetap positif.
Sepanjang perdagangan, IHSG dibuka menguat dan bertahan di zona hijau sejak sesi pertama hingga penutupan sesi kedua. Kondisi itu menunjukkan pasar cukup percaya diri menyambut meredanya tekanan eksternal, terutama dari komoditas energi dan ketegangan geopolitik.
Sektor dan saham yang paling bergerak
Dari sebelas sektor, delapan di antaranya tercatat menguat. Sektor transportasi dan logistik memimpin kenaikan dengan 2,02 persen, disusul barang baku yang naik 1,67 persen dan barang konsumen primer yang menguat 1,28 persen.
Tiga sektor lainnya justru melemah. Sektor keuangan turun paling dalam 0,90 persen, lalu kesehatan melemah 0,65 persen dan energi turun 0,31 persen.
Di daftar saham yang mencatat kenaikan terbesar, nama DEFI, RICY, PYFA, ABDA, dan HALO muncul di barisan teratas. Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan terbesar ialah YPAS, BOBA, PIPA, ASLI, dan CASA.
Aktivitas perdagangan juga terpantau ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 2.479.250 kali. Volume perdagangan mencapai 37,07 miliar lembar saham dengan nilai Rp17,71 triliun, sedangkan jumlah saham yang naik mencapai 341, saham turun 290, dan 186 saham tidak bergerak.
Penguatan yang terjadi di Jakarta mengikuti arah yang sama dengan pasar Asia, yang sama-sama mendapat dorongan dari meredanya tekanan global. Dengan minyak yang terkoreksi dan rupiah yang menguat, sentimen di bursa domestik mendapat ruang bernapas lebih lega pada penutupan perdagangan Rabu.
Source: www.antaranews.com




