Modal Rp10 Ribu Bikin Tring Menjangkau 6 Juta Pengguna, Anak Muda Ikut Merapat ke Emas Digital

Minat masyarakat terhadap emas digital lewat aplikasi Tring milik PT Pegadaian terus terlihat kuat. Dalam waktu 6 bulan, jumlah penggunanya sudah menembus lebih dari 6 juta, menandakan layanan ini cepat diterima, terutama di kalangan pembaca yang akrab dengan kanal digital.

Daya tarik utamanya ada pada akses yang sederhana. Lewat Tring, masyarakat bisa mulai membeli emas dari Rp10.000, sehingga investasi emas jadi lebih mudah dijangkau oleh investor pemula dan pengguna muda.

Pegadaian memang sedang mendorong digitalisasi sebagai jalur utama pertumbuhan layanan. Dari lebih dari 20 juta nasabah yang dimiliki, perusahaan menargetkan 70 persen pengguna aktif bisa beralih ke Tring agar transaksi dan edukasi investasi menjangkau lebih banyak orang.

Digital jadi pintu perluasan layanan

Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Produk Pegadaian Selfie Dewiyanti menegaskan bahwa kanal digital menjadi kebutuhan penting. Alasannya sederhana, jangkauan outlet fisik tetap terbatas meski Pegadaian sudah memiliki lebih dari 4.030 outlet.

Karena itu, penguatan layanan digital diposisikan sebagai cara untuk mempercepat literasi sekaligus akuisisi nasabah. Langkah tersebut juga ditopang oleh infrastruktur teknologi informasi serta kerja sama dengan berbagai perbankan di Indonesia agar layanan lebih stabil dan mudah diakses.

Anak muda masuk radar utama

Sasaran pertumbuhan Pegadaian semakin mengarah ke generasi muda. Perusahaan menyebut Gen Z sudah mencakup sekitar 50 persen dari total nasabah, sehingga pendekatan yang sederhana, cepat, dan serba digital menjadi semakin relevan.

Tring pun diposisikan sebagai pintu masuk yang ramah untuk kalangan ini. Modal awal yang kecil membuat emas digital tidak terasa jauh dari kebutuhan harian, sekaligus membuka peluang bagi orang yang baru mulai mengenal investasi.

Edukasi tidak hanya lewat aplikasi

Pegadaian juga memakai cara lain untuk mendekat ke komunitas muda. Aktivitas yang dipilih dekat dengan minat mereka, mulai dari musik, olahraga, hingga kegiatan berbasis komunitas.

Salah satu program yang menonjol adalah Pegadaian Golden Run dalam rangka HUT ke-125 perusahaan. Ajang lari itu dimulai pukul 05.00 WIB dan tidak sekadar menjadi kegiatan olahraga, tetapi juga media edukasi serta interaksi dengan masyarakat.

Pendekatan semacam ini dianggap membantu penyampaian pesan investasi emas tanpa harus bergantung penuh pada komunikasi formal di kantor layanan. Dengan begitu, literasi keuangan bisa menyebar lewat cara yang lebih akrab dan ringan diterima.

Arah transformasi yang lebih luas

Transformasi Pegadaian tidak berhenti pada urusan transaksi digital. Perusahaan juga menjalankan program sosial Pegadaian Peduli dengan menyalurkan donasi Rp1,25 miliar kepada lima yayasan di Indonesia.

Kegiatan itu juga melibatkan atlet berkebutuhan khusus, menunjukkan upaya menjaga kedekatan Pegadaian dengan berbagai kelompok masyarakat. Di sisi lain, perusahaan mulai membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas dengan menyesuaikan jenis pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing.

Direktur Human Capital Pegadaian Tribuana Tunggadewi mengatakan kebijakan tersebut masih dirintis. Ia mencontohkan, individu dengan keterbatasan fisik tetapi punya kemampuan komunikasi yang baik bisa ditempatkan di contact center atau fungsi lain yang sesuai.

Di tengah dorongan digitalisasi itu, emas tetap ditempatkan bukan hanya sebagai simpanan. Dalam kondisi tertentu, aset ini juga bisa digadaikan untuk membantu kebutuhan likuiditas, sehingga memberi ruang yang lebih fleksibel bagi masyarakat dalam mengelola keuangan.

Source: finansial.bisnis.com
Exit mobile version