pelantar.id – Sejak memutuskan berhenti mejadi karyawan di salah satu hotel di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, setahun lalu, Nazarudin kini merentang jalan sukses dalam hidupnya. Dari karyawan, sekarang ia sudah bisa menggaji dua karyawan.

Pria 41 tahun itu awalnya tak menyangka, keputusannya keluar dari pekerjaan yang sudah dilakoninya selama 20 tahun lebih, membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik. Secara ekonomi, pendapatannya meningkat tajam. Jika selama ini ia hanya mendapatkan maksimal Rp2,5 juta per bulan, kini ia mampu meraih minimal Rp9 juta setiap bulannya.

Ia memutuskan banting stir, dari karyawan hotel menjadi perajin. Hal itu dilakukannya, selain tuntutan ekonomi juga untuk mengembangkan minat seni dan hobi terhadap kerajinan tangan yang tertanam dalam dirinya. Maka ia mulai mengutak-atik benda-benda yang berasal dari limbah rumah tangga. Kemudian ia fokus pada limbah dari laut; kerang-kerangan.

Awalnya, ia menghasilkan produk gantungan kunci dari cangkang siput. Gantungan kunci itu dibuatnya sebagai souvenir pada pesta pernikahan adik kandungnya di awal tahun 2018. Ternyata, para tamu undangan menyuka souvenir tersebut. Mereka mulai memesan kepadanya untuk dibuatkan.

“Alhamdulillah, dari awalnya coba-coba, sekarang sudah mulai rutin buat kerajinan, dengan ciri khas kulit kerang,” cerita Nazar ditemui usai mengisi materi di Balai Pertemuan Desa Pongkar Kecamatan Tebing, Kamis (20/9).

Nazar terus mengembangkan kreasinya. Ia belajar secara otodidak. Internet menjadi media yang membantunya terus berkembang dan mencari ide-ide segar untuk produknya. Saat ada pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran di Kecamatan Kundur, ia memberanikan diri ikut dalam pameran yang diselenggarakan panitia. Kerajinan tangannya laris manis. Banyak pengunjung yang membeli dan memesan dalam jumlah besar kepadanya. Nazar semakin semangat.

Nazar memperlihatkan proses pembuatan bingkai yang dihiasi dengan kulit kerang saat mengisi materi di Balai Pertemuan Desa Pongkar Kecamatan Tebing, Kamis (20/9).
Foto: PELANTAR/Abdul Gani

Warga Gang Awangnor Kelurahan Baran Barat, Kecamatan Meral ini lantas menerima orderan dari sejumlah pejabat di Pemerintah Kabupaten Karimun. Souvenir-souvenir buatannya kerap dijadikan buah tangan di acara-acara pemerintahan. Jika ada pameran produk UKM, ia juga selalu diminta ikut mengisi, dengan membawa nama Karimun.

Baca Juga :   3.389 Petugas Kesehatan Diterjunkan untuk Suntik Vaksin Campak di Kepri

“Secara ekonomi, memang belum nampak, masih jauh di bawah gaji saya ketika bekerja di hotel. Tapi saya jalan terus. Alhamdulillah, Allah menunjukkan jalan dan memudahkan langkah saya,” katanya.

 

Saat baru memulai usahanya, paling banter ia mendapat pemasukan sekitar Rp1,5 juta sampai Rp2 juta, kini Nazar sudah bisa mengantongi hingga Rp9 juta bersih. Tingginya orderan mulai membuatnya kewalahan memenuhi pesanan pelanggan. Saat Hari Raya Idul Fitri lalu, ia pun dikejar-kejar dealine. Semua pesanan harus sudah selesai sehari sebelum Lebaran.

Nazar mengebut sejak awal Ramadan. Ia baru bisa istirahat penuh di malam takbiran, setelah semua pesanan selesai dikerjakannya. Berbagai macam pesanan yang dikerjakan mulai dari hiasan dinding, kaligrafi, kaca, pot bunga berhiaskan kulit kerang, bingkai foto, rak piring gantung dan lainnya.

“Capek, tapi sangat puas. Pelanggan juga senang dengan hasil kerja saya” kata dia.

Bahan baku kulit kerang ia dapatkan dari beberapa penjual kerang di sekitaran Kolong Kecamatan Karimun, dan bekerja sama dengan beberapa rumah makan penyedia makanan siap saji. Selain itu juga mencari relasi penjual kulit kerang sampai ke pulau-pulau hingga ke Pulau Burung-Riau. Setiap kulit kerang yang dikumpulkan dia beli seharga Rp3.000 per kilogram.

Sempat pada suatu hari kerang tak masuk di Karimun, sehingga Nazar kehabisan bahan untuk berkreasi. Ia lantas memutuskan untuk mencari sendiri kulit kerang ke wilayah pesisir sekitar Pelambung Kecamatan Tebing. Ia juga pernah mencoba menggunakan kulit remis, yang dicarinya dengan cara menyisir beberapa pantai di Karimun.

Baca Juga :   Pilwako Tanjungpinang, Syahrul dan Lis Saling Klaim Menang

“Untungnya pelanggan tidak komplain dan mengaku senang dengan hasil pekerjaan saya. Sebenarnya, pelanggan juga tidak mematok harus dari kerang, dengan remis bisa juga. Itu saya buat alternatif, untuk kaligrafi membuat dengan menggunakan kulit kambing,” katanya.

Menurutnya, untuk membuat aneka kerajinan tangan itu tak butuh modal besar. Pengalamannya, ia hanya mengeluarkan modal mulai Rp100 ribu sampai Rp500 ribu. Dari modal tersebut, ia bisa meraup untung hingga jutaan rupiah. Untuk meminimalisir modal keluar, ia juga kerap melakukan eksperimen. Misalnya untuk lem perakat, ia mencampur beberapa bahan dengan hasil yang tak kalah bagus dengan lem buatan pabrik.

Untuk tingkat kerumitan dan lama proses pembuatannya, Nazar membutuhkan waktu dalam hitungan menit atau bahkan detik. Hanya saja butuh waktu sekitar empat hari menunggu proses pengeringan atau tergantung cuaca. Mengenai pemasaran, Nazar memanfaatkan media sosial facebook dan memasarkan kepada teman-teman dekatnya. Setiap orang yang membantu memasarkan dan menghasilkan pembeli, dia berikan komisi 10 persen dari harga penjualan.

Produk kerajinannya dibanderol dengan harga terjangkau dan relatif lebih murah dibanding dengan perhiasan yang dijual di toko-toko. Seperti bingkai foto dijual di bawah Rp100 ribu, gantungan kunci Rp3.000, kaligrafi Rp450 ribu, rak piring gantung Rp2.500.000 dan lainnya. Semua kerajinan tangan itu berciri khas kulit kerang meski bahan dasarnya terdapat triplek, kayu atau bahan lainnya.

Nazar berkeinginan bisa membuka showroom untuk memamerkan seluruh hasil kerajinan tangannya. Ia berharap ada program bantuan dari pemerintah dan swasta untuk mengembangkan usaha ini. Nazar pun tak pelit ilmu. Di setiap kesempatan, ia sering memberi pelatihan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang ingin menggeluti usaha kerajian tangan.

 

 

Reporter : Abdul Gani
Editor : Yuri B Trisna