Penulis: H.M Chaniago

Untuk mencurahkan segala gagasan, media apa saja bisa di gunakan. Tak terbatas pada Rupa, Bunyi ataupun Tulisan semataJimi Multazham.

Pelantar.id – Delapan tahun yang lalu duo sahabat lama sesama alumi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mendokumentasikan pertemuan mereka dengan judul Jimi+Malau Bla.. Bla.. Bla..

Video tersebut mencoba mengulas fenomena-fenomena hidup dua sahabat dari balik bingkai persepsi mereka masing-masing, selama menjalani hidup berkesenian puluhan tahun hidup yang tak berkesudahan

Video awal berdurasi 13 menit 58 detik itu dipublish pada 14 April 2011. Hanya dilike 520 orang dan dislike 8 orang. Namun siapa sangka, seiring waktu berlalu, di tengah rutinitas keseharian (kita anggap aja sibuk). Mereka muncul kembali menarik ingatannya tentang fenomena-fenomena masalampau.

Sosok pertama dari sahabat ini adalah Jimi Multazham, seniman sekaligus musisi independen tanah air. Beragam band yang di latar belakangi ragam warna musik tak terbendung masuk menghuni sekat kehidupannya. Aneka rupa faham pun merayu pria berperawakan tinggi keturunan Minang ini.

Titik baliknya ditemukan Jimi bahwa untuk mencurahkan segala gagasan, media apa saja bisa di gunakan. Tak terbatas pada Rupa, Bunyi ataupun Tulisan semata. Medium itu ada di mana pun. Ia serupa ide yang muncul dari setiap visual dan audio yang kita dapati di mana saja.

Tak ayal, beberapa lagu miliknya di band The Upstairs atau Morfem mengokohkan Jimi, setidaknya bagi saya pribadi, Jimi adalah sosok penulis lirik dengan pemilihan ide dan diksi yang menarik. Narasi yang Ia kembangkan kadang mengundang decak kagum “ajaib!”.

Baca Juga :   Terminator: Dark Fate Review dengan Twist yang Mengejutkan

Selain bermusik, Jimi juga menggunakan medium lain dalam berkesenian. Dikenal juga sebagai seorang perupa, penulis, produser dan bahkan sekarang menjadi sosok penjajal single speed (biker).

Sosok kedua, Ricky Malau. Pria asli Batak ini merupakan seorang seniman peran. Pernah bermain di beberapa film, terakhir adalah sebagai Rembo dalam Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (2019) karya sutradara Jhon DeRantau. Meski terbilang produktif di seni peran, Malau juga merupakan seorang perupa yang banyak menggambar sketsa.

 

Ngobryls dan Kebisingan Masalalu yang Terus Merongrong.

Tanggal 2 Februari 2019, sebuah video dipublikasikan di kanal YouTube Ngobryls: Jimi X Malau. Sosok sahabat lama ini kembali bercuap-cuap ria namun dengan konsep yang lebih artsy dari pada 2011 silam.

Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors tahun 70’an akhir menjadi bahan awal mereka menghibur penikmat YouTube yang bosan dengan acara-acara “Hebat” YouTuber tersohor macam Atta Halilintar, Ria Ricis, atau Gen Halilintar, atau artis-artis yang mendadak menjadi gembel/gelandangan hanya demi klik dan views semata.

Dalam video pertamanya setelah hilang dari peredaran jagat YouTube, mereka coba untuk menarik kembali ingatan masa lampau kala remaja-remaja Indonesia di era 70’an berkreasi menciptakan lagu, dengan lirik-lirik yang cukup puitis di masanya.

Tembang-tembang yang penuh diksi puitik itu menampilkan idola-idola remaja yang tentu berbeda dengan sekarang. Sekilas yang masa remajanya diisi oleh LCLR, memorabilia sekitak akan mengisi ingatan masa lampau itu. Sementara bagi kita yang lahir lepas dari masanya, ini serupa puing masalalu yang tercecer dan layak untuk jadi perbandingan, jika berkenan.

Baca Juga :   Taman Mini Dibuka Kembali, Pengelola Batasi Pengunjung

Lepas dari video tersebut, gambar tayang gerak ke-2 kembali diupload di bulan yang sama sekitar 8 bulan yang lalu. Diberi judul “Terbaik di Masa Lalu”, mengulas peristiwa kesenian dari era Tety Kadi, Titiek Shandora hingga yang lainnya.

Lepas itu, sebulan berselang dua video selanjutnya dipublikasikan membahas fenomena sosok Dilan dengan perbandingan film sejenis di masa lampau. Dilan notabenenya berlatar belakang 90’an tetapi dibuat di era milenial.

Kemudian video satu lagi lebih kepada pembahasan mereka selama menempuh pendidikan seni, dengan benang merah salah seorang dosen eksentrik mereka yang kelak di video terbaru dipublish 14 Oktober 2019, mereka undang langsung untuk membahas kembali puing masa lampau dengan cara kekinian.

25 video telah mereka publish di kanal YouTube resmi. 15.5K subscriber telah merapat, tapi siapa peduli. Kanal ini bukan ingin meraup click bait atau viewers miliaran. Tak ada adegan prank jadi gelandangan demi meraup keuntungan, tanpa memikirkan perasaan asli para gelandangan di negeri ini.

Konten yang mereka publish lebih kepada memorabilia dengan sisipan-sisipan kisah atau kehidupan maskulinitas kaum seniman urban, sembari memotret fenomena-fenomena kehidupan di balik bingkai masing-masing dua sahabat, yang juga dedengkotnya IKJ.

Link YouTube:

———
Foto: Sumber via Instagram.