pelantar.id – Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun meresmikan proyek konstruksi untuk pengeboran minyak lepas pantai PT Karimun Sembawang Shipyard (KSS) di Teluk Paku Kelurahan Pasir Panjang Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, Rabu (29/8). Proyek senilai Rp 3,9 triliun itu menjadi harapan baru cerahnya industri kemaritiman di Kepulauan Riau.

Nurdin mengatakan, saat ini indeks perekonomian Provinsi Kepri cenderung naik dan sudah mencapai posisi 8 presen. Beberapa hari lalu, ia juga baru meresmikan proyek di sejumlah galangan kapal yang ada di Kota Batam.

“Kemudian hari ini kita baru saja meresmikan proyek baru di PT Karimun Sembawang Shipyard, yakni konstruksi untuk anjungan lepas pantai atau pengeboran minyak. Kita lihat di luar sana banyak saingan apa lagi skala internasional dan banyak pilihan. Tapi klien ini lebih memilih perusahaan di tempat kita,” kata Nurdin.

Baca Juga :   Apple dan Singapura Bermitra untuk Insiatif Penggunaan Apple Watch Bagi Warganya

Pengorder konstruksi anjungan lepas pantai ini dari Amerika Serikat. Alasan mereka memilih PT KSS karena kualitasnya yang dinilai cukup bagus, kemudian tepat waktu dan mengutamakan keselamatan.

“Artinya kita sudah mampu bersaing dengan mancanegara. PT KSS ini pun bisa dikatakan telah memberi kontribusi kepada negara ini, menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dan memang saat ini Kepri unggul di bidang maritim,” katanya.

Gubernur Kepri, Nurdin Basirun

Menurut Nurdin, kondisi industri galangan kapal di Kepri sudah mulai bangkit, yang berdampak kepada faktor perekonomian ikut membaik.

“Kita sudah sepakat semua dengan teman-teman pengusaha dan pemerintah, agar pertumbuhan ekonomi Kepri yang kemarin terpuruk, untuk triwulan kedua ini sudah mendekati 8,8 persen. Alhamdulillah kita bisa didorong,” katanya.

Baca Juga :   Pemerintah Berlakukan Regulasi IMEI, Bagaimana Nasib HP BM?

Branch Manager PT KSS, Sutrisno Susilo mengatakan, proyek anjungan lepas pantai tersebut merupakan orderan dari perusahaan Transocean Internasional asal Amerika Serikat. Bobot proyek mencapai 17.900 ton dan akan dikerjakan selama setahun penuh, atau berakhir hingga September 2019.

“Nilai pasti dari proyek ini saya tidak ingat. Tapi kisarannya kalau dirupiahkan mencapai Rp3,9 triliun. Dengan jumlah tenagar kerja yang dibutuhkan mencapai 920 orang. Saat ini baru ada 620 pekerja, yang memang telah menjadi pekerja di PT KSS,” kata Sutrisno.

PT KSS rencananya akan kembali merekrut para pekerja PT KSS yang sebelumnya sudah habis kontrak.

Reporter : Abdul Gani
Editor : Yuri B Trisna