Tekanan harga pangan di Jawa Timur belum mereda, dan gejolaknya masih terasa di berbagai komoditas utama. Di tengah kondisi itu, Wiwin Sumrambah dari Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim menilai pasar sedang menanggung beban dari banyak arah sekaligus.
Salah satu yang paling disorot adalah naiknya kebutuhan pangan di lapangan. Menurut Wiwin, permintaan yang lebih besar, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis melalui Dapur SPPG, membuat harga makin sensitif ketika pasokan tidak stabil.
Harga masih bergerak naik
Data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok atau Siskaperbapo Jawa Timur menunjukkan sejumlah bahan pokok masih mengalami kenaikan selama Mei 2026. Beras premium tercatat berada di kisaran Rp14.870 per kilogram, sementara minyak goreng kemasan premium menyentuh Rp21.714 per liter.
Harga daging sapi paha belakang juga belum turun dan berada di level Rp124.156 per kilogram. Di saat yang sama, cabai dan minyak goreng masih menjadi komoditas yang fluktuasinya cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Efek global ikut terasa di dapur rumah tangga
Wiwin melihat tekanan harga tidak hanya datang dari dalam daerah, tetapi juga dari situasi global. Ia menilai kondisi geopolitik dunia ikut mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak, lalu berimbas ke ongkos produksi dan distribusi pangan.
Dari titik itu, dampaknya merembet ke harga kebutuhan pokok di pasar. Ketika biaya angkut dan produksi naik, ruang bagi harga untuk turun juga makin sempit.
Cuaca ekstrem ganggu produksi petani
Selain faktor biaya, cuaca juga menjadi masalah yang tidak ringan. Wiwin menyebut kondisi beberapa bulan terakhir tidak menentu dan ikut memukul hasil pertanian.
Situasi itu membuat produksi petani terganggu dan pasokan menjadi lebih rapuh. Saat pasokan tidak stabil, lonjakan permintaan akan lebih cepat mendorong harga bergerak naik.
Inflasi pangan masih memberi tekanan
Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di provinsi itu. Pada April 2026, inflasi tahunan Jawa Timur tercatat 2,85 persen.
Di periode yang sama, beras, minyak goreng, tahu, tempe, dan tomat masih mengalami kenaikan harga. Sebelumnya, BPS Jawa Timur juga mencatat inflasi Maret 2026 sebesar 0,39 persen, dengan cabai dan daging sebagai pemicu utama.
Bagi Wiwin, rangkaian data itu menunjukkan gejolak harga pangan belum sepenuhnya reda. Karena itu, ia mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat agar tekanan harga tidak makin menekan rumah tangga.
Dorongan agar pasar dan keluarga ikut diperkuat
Fraksi PDI Perjuangan meminta Pemprov Jatim menyiapkan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga. Langkah ini dinilai penting agar gejolak di pasar tidak terus membebani masyarakat.
Wiwin juga mendorong pemerintah daerah memperluas bantuan bibit tanaman pangan kepada masyarakat. Bantuan itu, menurut dia, tidak seharusnya berhenti di petani saja, tetapi juga bisa menyasar warga umum agar ikut menanam kebutuhan pangan sendiri.
Sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan, PDI Perjuangan mengembangkan program Posko Pangan di Kabupaten Jombang. Melalui program itu, kader partai dan masyarakat menanam berbagai tanaman pangan alternatif pengganti beras di lahan yang disiapkan.
Wiwin menekankan bahwa ketahanan pangan perlu dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar. Dengan begitu, masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar saat harga pangan masih bergerak naik.
Source: pdiperjuangan-jatim.com