pelantar.id – Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala richter yang terjadi di Kota Palu, Sulawesi Tengah membuat kota tersebut mengalami lumpuh total, Jumat (28/9) sore. Layanan telekomunikasi dan listrik terputus. Objek vital termasuk Bandara Mutiara Sis Al Jufri pun ditutup hingga 29 September 2019.

Pascagempa, wilayah Kota Palu juga diterjang tsunami dengan ketinggian air mulai 50 cm hingga 1,5 meter. Beberapa laporan bahkan menyebut ketinggian air ada yang mencapai 3 meter di sejumlah wilayah pesisir. Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 5 orang korban hilang akibat tsunami tersebut.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purbo menyatakan, berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, kelima orang itu hilang di Pantai Talise.

Baca Juga :   Telkomsel-Citibank Kampanye Live Large, Manjakan Gaya Hidup Kaum Urban

“Satu keluarga berisi 5 orang dilaporkan hilang karena tsunami di Pantai Talise. Kami masih terus update informasi dari BPBD,” kata Sutopo kepada wartawan, Jumat malam.

Ia mengatakan, tsunami menghantam Palu usai Gempa Magnitudo 7,4 menerpa Donggala, Sulawesi Tengah. Episenter gempa 26 Kilometer Utara Kabupaten Donggala. Beberapa bangunan rusak akibat gelombang gempa. Penduduk kota pun panik hingga berkumpul di jalanan daerah setempat untuk mencari aman.

“Saya diberi tahu suami, gempa terjadi saat maghrib, dan kota lumpuh saat ini, SMS itu yang dikirimkan. Saya minta dia segera pulang, tapi tidak bisa,” ujar Ratih yang menerima kabar dari suaminya yang sedang berada di Palu seperti dilansir dari Antara.

Seorang anak melintas di depan rumah yang roboh akibat gempa di Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat, (28/9). Gempa berkekuatan 7,7 SR mengguncang Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pada pukul 17.02.
Foto: ANTARA/HO/BNPB-Sutopo Purwo N

Warga Palu lainnya, Afrianti yang berhasil dihubungi melalui pesan pendek mengatakan kondisi Kota Palu sementara ini lumpuh, namun getaran gempa sudah tidak terasa, berbeda saat petang tadi.

Baca Juga :   Legenda 212 Wiro Sableng dan Klaim GNPF Ulama

“Lampu di sini padam, aliran listrik mati dan tidak ada penerangan lampu. Kami hanya memanfaatkan lilin untuk penerangan sementara, rumah kami sudah rusak,” katanya.

Kendati lokasi rumah berada di kompleks BTN Pengawu berjarak 10 kilometer dari Kota Palu, namun guncangannya sangat terasa hingga menghancurkan rumah-rumah di kompleks setempat.

“Kami semua berada di luar rumah, khawatir terjadi gempa susulan. Alhamdulillah, kami semua selamat,” tulisnya.

Sementara Perum LPPNPI Unit PIA Wilayah Makassar, AirNav Indonesia telah mengeluarkan Surat NOTAM nomor HO737/18 perihal AD Closed, lokasi Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, ditutup sampai tanggal 29 September pukul 19.20 WIB.

 

 

Editor : Yuri B Trisna

Baca Juga :   Teh Daun Kopi, Cara Usir Kolesterol Usai Lebaran