Pasar HP murah sedang masuk fase yang makin sulit. Di tengah kebutuhan memori yang melonjak untuk industri kecerdasan buatan, ponsel di kelas harga rendah justru mulai kehilangan ruang karena pasokan komponen kian ketat dan biaya produksi ikut terdorong naik.
Tekanan ini paling terasa pada segmen yang selama ini jadi pintu masuk utama untuk internet. IDC menilai kondisi tersebut bukan sekadar perlambatan biasa, melainkan dampak dari pergeseran besar di industri chip memori, terutama DRAM, yang kini lebih banyak diserap kebutuhan AI.
DRAM makin diburu industri AI
Lonjakan permintaan datang dari data center dan pengembangan model bahasa besar atau Large Language Model. Kebutuhan memori untuk melatih model dan menjalankan layanan AI membuat pasokan DRAM yang sebelumnya banyak mengalir ke ponsel dan laptop ikut bergeser ke sektor lain.
IDC melihat perubahan ini sebagai gangguan struktural, bukan masalah sementara. Artinya, tekanan pada pasar smartphone murah tidak hanya muncul sesaat, tetapi mengikuti arah baru industri teknologi global.
Produsen chip memilih pembeli dengan daya bayar lebih tinggi
Di sisi pasokan, produsen seperti Samsung dan SK Hynix disebut lebih tertarik memasok memori ke perusahaan pengembang AI. Alasannya sederhana, sektor AI bersedia membayar jauh lebih mahal dibanding produsen ponsel yang harus menjaga harga tetap terjangkau.
Situasi itu membuat ponsel murah menjadi segmen pertama yang terkena imbas. Saat biaya komponen naik, ruang bagi produsen untuk mempertahankan harga rendah ikut menyempit.
Efeknya langsung terasa di HP kelas bawah
Dampak pergeseran pasokan itu sudah terlihat di ponsel yang dijual di bawah Rp 2 juta. Dua tahun lalu, kelas ini masih bisa menawarkan RAM 4 GB hingga 6 GB, penyimpanan 64 GB hingga 128 GB, serta layar HD+ sampai Full HD.
Sekarang, standar di harga terendah berubah jauh. Banyak ponsel baru di kelas tersebut hanya membawa RAM 2 GB hingga 3 GB dan penyimpanan 32 GB, sehingga pengalaman pakai ikut turun.
Penurunan spesifikasi itu juga membuat performa pemrosesan data melambat. Di saat yang sama, kualitas kamera ikut dipangkas dan fitur pendukung makin dibatasi agar harga tetap bisa dijaga.
Harga naik, pilihan makin sempit
Bagi pembeli yang ingin spesifikasi setara ponsel murah pada 2024, harga kini harus naik sekitar 30% hingga 40%. IDC bahkan melihat kemungkinan bahwa dalam 12 ke depan, ponsel pintar baru di bawah Rp 1,5 juta bisa hilang sepenuhnya dari katalog produk resmi.
Kalau skenario itu terjadi, segmen yang selama ini jadi tumpuan adopsi internet di negara berkembang akan makin tertekan. Pasalnya, justru di kelompok harga inilah banyak pengguna baru selama ini masuk ke ekosistem digital.
Sulit mengejar pasokan dalam waktu singkat
Masalah DRAM juga tidak mudah diselesaikan cepat. Membangun satu pabrik DRAM berteknologi canggih butuh investasi sekitar US$15 miliar hingga US$20 miliar, belum termasuk biaya peralatan dan penelitian.
Beban modal sebesar itu membuat banyak perusahaan enggan masuk. Sejarah industrinya juga keras, karena nama besar seperti Intel, Texas Instruments, dan IBM pernah mencoba tetapi keluar dari bisnis tersebut, sementara Qimonda dan Elpida juga bangkrut.
Di saat yang sama, pengembangan DRAM makin rumit karena teknologinya sudah mendekati batas fisik kemampuan komponen penyimpan daya. Selama industri AI masih rela membayar mahal untuk mengamankan pasokan memori, harga DRAM diperkirakan tetap tinggi dan tekanan pada HP murah belum akan mereda.
Dampaknya juga diproyeksikan paling berat di Afrika dan Timur Tengah, dua kawasan yang pengiriman smartphonenya diperkirakan anjlok lebih dari 20%. Dalam kondisi seperti ini, HP murah bukan hanya menghadapi kenaikan harga, tetapi juga pilihan produk yang makin terbatas.
Source: selular.id