Klaim mesin jet baru dari China kembali memancing perhatian karena rancangan ini disebut bisa membawa pesawat melesat sampai Mach 6 tanpa perlu berpindah mode operasi. Jika benar, pendekatan tersebut akan memangkas kerumitan yang selama ini melekat pada penerbangan berkecepatan sangat tinggi.
Yang menarik, mesin ini bukan sekadar mengejar dorongan besar, tetapi juga mencoba menyederhanakan cara kerja pesawat saat menembus rentang supersonik hingga hipersonik. Di titik inilah banyak mesin jet konvensional mulai kehilangan efisiensi karena aliran udara di dalam mesin semakin sulit dikendalikan.
Mengapa pendekatan ini dianggap penting
Selama ini, pesawat berkecepatan ekstrem umumnya tidak bisa bertumpu pada satu sistem dorong dari awal sampai akhir. Saat kecepatan naik, karakter aliran udara berubah dan mesin harus menyesuaikan cara kerjanya agar tetap stabil.
Contoh yang sering dijadikan pembanding adalah SR71 Blackbird, pesawat yang mampu melampaui Mach 3 atau lebih dari 2.000 mph. Mesin yang dipakai pesawat itu tidak sepenuhnya mengandalkan turbojet biasa, karena jenis mesin tersebut mulai kewalahan ketika masuk ke kecepatan supersonik tinggi.
Untuk mengejar kecepatan yang lebih jauh, Lockheed Martin memakai sistem hibrida. Turbojet dipakai dulu untuk mencapai sekitar Mach 2, lalu mesin berpindah ke mode ramjet agar aliran udara berkecepatan tinggi tetap bisa dimanfaatkan.
Apa yang diklaim China
Menurut laporan South China Morning Post, China menyebut mesin barunya mampu bekerja dari landasan pacu sampai Mach 6 tanpa pergantian mode. Dengan kata lain, satu mesin disebut cukup untuk menggantikan rangkaian sistem yang selama ini lebih rumit.
Mesin itu masih berstatus prototipe, tetapi sudah disebut “experimentally verified”. Status ini menunjukkan bahwa konsep dasarnya telah diuji, meski belum berarti siap dipakai secara operasional.
Daya tarik utamanya ada pada penyederhanaan desain. Bila konsep ini berkembang lebih jauh, bobot bisa ditekan, kompleksitas mekanis berkurang, dan proses transisi antar-mode yang biasa jadi titik sulit dalam penerbangan cepat bisa dihilangkan.
Teknologi di balik desain kontra-rotasi
Mesin tersebut dikenal sebagai contra-rotary ramjet engine, dan pengembangannya disebut telah berlangsung selama 30 tahun. Dukungan institusional baru datang pada 2009, yang menandai dorongan serius terhadap riset ini.
Inti perancangannya ada pada kompresor kontra-rotasi. Dalam sistem ini, bilah turbin tekanan rendah dan tekanan tinggi berputar berlawanan arah sehingga mesin bisa menjaga kecepatan relatifnya ketika aliran udara berubah.
Pendekatan itu ditujukan untuk mengatasi kelemahan turbojet tradisional. Mesin konvensional sulit memperlambat udara masuk agar tetap stabil dan efektif, sedangkan putaran yang saling berlawanan juga membantu menekan kecepatan rotasi turbin dan mengurangi gaya sentrifugal ekstrem pada bilah.
Masih jauh dari tahap penggunaan nyata
Meski klaim Mach 6 terdengar besar, jalan menuju penerapan operasional tetap panjang. Penerbangan hipersonik tidak hanya soal tenaga dorong, tetapi juga soal ketahanan material di bawah panas ekstrem.
Pada kecepatan setinggi itu, mesin dan komponen pesawat akan menghadapi stres termal serta mekanis yang berat. Karena itu, rancangan seperti ini harus sangat presisi agar tetap stabil saat beroperasi di lingkungan yang keras.
Jika desain ini berhasil keluar dari tahap eksperimen, potensinya memang besar. Namun untuk saat ini, mesin jet kontra-rotasi China lebih tepat dipandang sebagai langkah penting dalam perlombaan teknologi penerbangan tinggi, terutama karena menjanjikan efisiensi, kestabilan, dan kemampuan bertahan di kondisi ekstrem yang selama ini jadi hambatan utama.