pelantar.id – Pemerintah optimistis berbagai kebijakan dan kondisi ekonomi tahun ini bisa lebih mendukung peningkatan kinerja industri manufaktur. Apalagi, beberapa komitmen investasi sudah dikantongi pemerintah. 

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah setidaknya sudah menyiapkan paket kebijakan terabaru yakni, paket kebijakan ke-16. Salah satu insentif fiskal yang disiapkan dalam paket tersebut, yaitu libur pajak (tax holiday) bagi industri berorientasi ekspor.

“Kemarin banyak paket-paket belum selesai, tapi harapannya setelah selesai ini, maka tahun 2019 bisa meningkat (kinerja industri manufaktur),” katanya di Jakarta, Minggu (3/2/19).

Keyakinan Airlangga tak lepas dari sudah dikantonginya beberapa komitmen investasi.  Di antaranya, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dan perusahaan asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan sudah berkomitmen akan mengalirkan investasi, masing-masing senilai US$5,4 miliar dan US$3,5 miliar untuk membangun industri petrokimia di Indonesia.

Kemudian, Pegatron Corporation, yang merakit ponsel iPhone juga akan membangun pabrik di Batam pertengahan Februari 2019. Perusahaan manufaktur elektronik asal Taiwan itu bakal berinvestasi mencapai US$1 miliar. 

Baca Juga :   Kisah Kanibalisme dari Tanah Batak Toba

Berbeda dengan Airlangga, Ketua Tim Ahli Wakil Presiden, Sofjan Wanandi mengatakan, industri manufaktur akan kembali tertekan pada tahun ini karena masih ada ketidakpastian dari ekonomi global. Hal ini merujuk pada belum pulihnya harga sejumlah komoditas di pasar internasional hingga belum ada penyelesaian dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. 

“Ini membuat investasi tidak masuk (ke Indonesia), kemudian didukung oleh luar negeri yang ada masalah ekonomi, seperti harga komoditas menurun dan perang dagang,” katanya. 

Sofjan Wanandi

Ia memperkirakan, kinerja industri  manufaktur Indonesia yang melambat pada 2018 akan kembali tertekan pada tahun ini. Tahun lalu, industri manufaktur hanya tumbuh 4,07 persen dari sebelumnya yang mencapai 4,74 persen pada 2017.

Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global belakangan juga membuat berbagai lembaga ekonomi global menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Misalnya, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas laju perekonomian dunia dari 3,7 persen menjadi 3,5 persen pada tahun ini. 

Baca Juga :   Sah, Gerindra-Demokrat Berkoalisi Lawan Jokowi

Sofjan memperkirakan, kondisi ekonomi di dalam negeri juga belum mendukung pemulihan laju pertumbuhan industri. Apalagi, tahun ini Indonesia akan menggelar kontestasi politik dalam rangka pemilihan legislatif dan presiden.

“Ada (perhelatan) tahun politik yang mencapai setengah dari tahun ini, akan habis banyak waktu di sini. Jadi saya lihat, belum bisa tumbuh dengan sangat baik, mungkin kisarannya sama saja, 4 persenan,” katanya. 

Meski demikian, Sofjan menyatakan, pemerintah tetap berupaya untuk memaksimalkan laju pertumbuhan industri manufaktur. Hal ini dilakukan dengan mempercepat masuknya investasi, khususnya ke sektor hulu.

Tujuannya, agar Indonesia memiliki kecukupan modal dan bahan baku untuk kemudian menggerakkan sektor hilir. Untuk meningkatkan realisasi investasi di sektor hulu industri, maka pemerintah bakal lebih gencar memberikan insentif fiskal melalui paket-paket kebijakan yang sudah dirumuskan.

*****

Sumber: CNN Indonesia.com
.