pelantar.id – Pemerintah Kota Batam terus mengembangkan konsep pariwisata berbasis kemasyarakatan. Konsep ini diharapkan akan membuat wisatawan betah berlama-lama di Batam.

Pemerintah sudah menyiapkan Rp500 juta untuk melatih warga Tempatan mengelola rumah wisata atau homestay.

Lokasi pengembangan homestay yang menjadi prioritas di antaranya Pulau Belakangpadang dan sejumlah kampung tua yang ada di kota industri tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata mengatakan, dana Rp500 juta itu akan digunakan untuk melatih sedikitnya 40 warga dari beberapa titik destinasi wisata di Batam.
Anggaran pelatihan tersebut bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-fisik 2019

“Rencananya kami akan mengundang warga Belakangpadang dan dari beberapa kampung tua untuk pelatihan ini,” kata Ardi di Batam, Rabu (12/2/19).

Ardiwinata

Ardi mengatakan, warga bakal mendapat pelatihan tentang kepariwisataan, termasuk cara pengelolaan rumah sebagai tempat tinggal wisatawan dan perilaku dalam menghadapi turis yang datang ke wilayah mereka.

Baca Juga :   Hotel Karantina Corona Virus di China Runtuh

Menurut Ardi, wisata berbasis masyarakat dengan mengedepankan suasana natural alami sangat diminati wisatawan khususnya mancanegara. Para pelancong itu kerapkali merasa tertarik dengan aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Dengan tersedianya homestay di daerah-daerah tujuan wisata di Batam, Ardi yakin para wisatawan bakal “bertahan” lebih lama di kota ini. Jika kunjungan wisatawan semakin lama, maka hal itu akan berdampak ekonomis langsung bagi perekonomian masyarakat.

Selain pelatihan, lanjut Ardi, Pemko Batam mulai tahun ini juga akan memaksimalkan potensi kampung tua. Catatan pemerintah, saat ini setidaknya ada 37 titik kampung tua yang tersebar di Pulau Batam.

Tahap pertama, pemerintah akan menggelontorkan dana hingga Rp 35 miliar untuk kegiatan penataan di Kampung Tua Tanjungriau, Kecamatan Sekupang. Anggaran yang berasal dari program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) Kementerian Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (PUPR) itu bakal dipakai untuk mempercantik kawasan sehingga tumbuh menjadi daerah tujuan wisata berbasis kemasyarakatan.

Baca Juga :   Masih Amankah Menggunakan WhatsApp?

*****

Editor: Yuri B Trisna