Pelantar.id – Harapan ditemukannya obat kanker selalu ditunggu oleh penderita kanker. Saat ini sekelompok peneliti di Inggris menemukan obat penghancur tumor dalam enam penyakit kanker berbeda.

Obat baru ini disebut dapat memperpanjang kelangsungan hidup penderita kanker atau untuk penderita stadium lanjut. Obat kanker tersebut diberi nama Tisotumab vedotin (TV).

Cara kerja obat ini adalah dengan menggunakan pendekatan Trojan Horse atau kuda Troya, sebuah pendekatan menghancurkan tumor dari dalam. Obat ini menggabungkan obat yang digunakan dalam kemoterapi dengan antibodi.

“Yang sangat menarik tentang perawatan ini adalah bahwa mekanisme kerjanya benar-benar baru, bertindak seperti kuda Troya untuk menyelinap ke sel kanker dan membunuh mereka dari dalam,” kata pemimpin penelitian dari Institute of Cancer Research, Profesor Johann de Bono, dikutip dari Independent yang dikutip dari CNN indonesia.

Baca Juga :   7 Syarat untuk Memutuskan Lockdown di Indonesia

Penemuan obat ini sudah dilakukan dengan melakukan serangkai ters pada manusia. Buktinya Tisotumab dapat bekerja atau mampu mengecilkan tumor pada pasien.

Tes tersebut dilakukan pada penderita kanker kandung kemih, ovarium, paru-paru, dan leher rahim. Percobaan tahap pertama melibatkan hampir 150 pasien dengan berbagai jenis kanker yang resistan terhadap obat.

Dalam uji coba itu, memang tidak semua pasien langsung merespons pengobatan. Tetapi, efek obat ini pada beberapa orang muncul dalam rata-rata 5,7 bulan hingga 9,5 bulan.

Sebanyak 27 persen pasien kanker kandung kemih dan 26,5 persen pasien kanker serviks merespons obat ini. Pada kanker esofagus dan paru-paru sebanyak 13 persen pasien menanggapi obat ini. Sedangkan, pada kanker prostat tak ada yang merespons obat ini.

Baca Juga :   Thailand Berencana Buka Wisata Phuket 1 Oktober

Seperti dikutip dari situs farmasi Pharmaphorum, obat Tv ini sedang diujicobakan pada jenis kanker lainnya seperti usus, pankreas, paru-paru sel skuamosa, kepala dan leher. Obat ini juga memasuki uji coba fase II sebagai pengobatan lini kedua untuk kanker serviks. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Lancet Oncology.

sumber: cnnindonesia

foto ilustrasi