Pelantar.id – Operasi Caesar merupakan cara melahirkan dengan mengeluarkan bayi melalui sayatan dari perut sang ibu, bukan dari vagina. Melahirkan dengan operasi caesar sebenarnya lebih diprioritaskan untuk ibu hamil yang tidak bisa melahirkan secara normal atau sedang mengalami prosedur darurat.

Namun saat ini para ibu cenderung memilih caesar meskipun ia bisa melahirkan secara normal. Alasannya adalah banyak yang takut merasakan sakit ketika melahirkan secara normal, dan ingin melahirkan pada tanggal-tanggal tertentu (contoh: 11/12/13 atau 10/10/10). Biasanya, operasi ini dilakukan setelah minggu ke-38 pada masa kehamilan.

Bila Anda memutuskan untuk caesar sebaiknya dipertimbangkan secara tepat, terutama pertimbangan secara medis. Dokter tentunya akan memeriksa dan memastikan kesiapan kesehatan Anda. Bila tekanan darah dan level gula darah yang tinggi pada ibu, akan sangat berisiko jika persalinan dilakukan secara nornal atau pervaginam.

Mungkin dalam kondisi itu operasi caesar bisa menjadi alternatif. Nah, sebelum melewati operasi caesar para ibu juga perlu melakukan persiapan. Dilansir dari dream. co. id berikut persiapan yang perlu Anda lakukan agar proses caesar berjalan dengan lancar, aman dan nyaman.

– Pembiayaan atau pengurusan asuransi

Merencanakan operasi caesar berarti harus menyiapkan dana yang lebih besar daripada persalinan normal. Pastikan sudah melakukan survei biaya persalinan dan sesuaikan biaya dengan anggaran yang ada. Akan sangat membantu jika Anda memiliki asuransi kesehatan.

Lakukan konfirmasi terlebih dulu jika pembayaran dilakukan pihak asuransi. Jangan sampai saat operasi dilakukan, Anda atau suami masih harus direpotkan dengan mengurus administrasi.

– Inisiasi menyusui dini (IMD) dan ASI eksklusif

Penerapan IMD sangat tergantung pada kondisi ibu dan bayi setelah persalinan. Ada yang bisa menjalani IMD secara optimal setelah operasi tapi ada juga yang tak bisa. Bisa jadi karena kondisi ibu atau bayi yang tak stabil sehingga membutuhkan tindakan medis yang lebih penting.

ASI juga terkadang tak selalu langsung keluar setelah bayi lahir. Rasa nyeri setelah operasi caesar kadang membuat ibu stres dan menghambat produksi ASI.

Baca Juga :   Non Binary: Bukan Perempuan, Bukan Laki-laki, Lalu Gender Mereka Apa?

Kondisi ini juga harus dibicarakan dengan dokter. Anda bisa meminta khusus konselor laktasi atau bidan pendamping untuk dibimbing saat menyusui setelah persalinan.

– Bantuan selama pemulihan

Tak seperti persalinan normal, ibu yang menjalani operasi caesar membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama. Rasa sakitnya jugalebih terasa. Untuk itu pastikan setelah operasi, ada yang membantu ibu di rumah untuk mengurus bayi dan dirinya.

Bisa dari kerabat, keluarga atau merekrut babysitter atau asisten rumah tangga. Masa-masa tersebut sangat krusial bagi ibu. Jangan sampai ibu merasakan kesakitan luar biasa atau kelelahan yang malah memicu depresi pascapersalinan.

 

Tips Setelah Menjalani Operasi Caesar

Melahirkan secara normal dan caesar memiliki plus minus tersendiri. Seorang wanita yang melahirkan secara normal, akan merasakan sakit pada saat proses persalinan saja. Namun setelah beberapa jam dari proses persalinan, dia sudah mampu berinteraksi dengan keluarga dan sudah bisa kembali melakukan rutinitas dalam waktu beberapa hari.

Berbeda dengan caesar, saat persalinan mereka tidak akan merasakan sakit. Tapi rasa sakit itu akan dirasakan setelahnya. Mereka juga tidak bisa beraktivitas seperti biasa selama masa pemulihan sekitar empat hingga enam minggu untuk sembuh total.

Dilansir dari alodokter.com, berikut ini adalah hal-hal penting yang harus Anda ketahui usai menjalani operasi caesar.

-Hindari aktivitas berat seperti bersepeda, lari, angkat beban, aerobik, sit-up, dan olahraga lainnya selama enam minggu, hingga mendapatkan persetujuan dari dokter.

-Latihan berjalan. Usai operasi Caesar, Anda akan merasakan sakit ketika berjalan. Meski begitu, usahakan untuk berjalan sedikit demi sedikit.

-Tidur yang cukup. Ketika tubuh sudah merasa lelah, beristirahatlah.

-Jangan mengangkat barang-barang yang lebih berat dari bayi Anda sampai dokter mengizinkannya. Anda akan mengalami pendarahan pada vagina. Sediakan pembalut, dan jangan gunakan tampon tanpa persetujuan dokter.

-Tanyakan kepada dokter, kapan Anda bisa mulai menyetir mobil dan berhubungan seks.

-Setelah operasi, buang air besar menjadi tidak teratur. Hindari mengejan ketika sembelit.

Baca Juga :   LOP Batam Rayakan Hari Ibu dengan Peragaan Busana

-Ketika batuk atau mengambil napas dalam-dalam, taruh bantal pada luka sayatan di perut Anda. Hal itu bisa mengurangi rasa nyeri pada sayatan.

-Luka sayatan pada perut juga harus Anda perhatikan. Bersihkan luka tiap hari dengan air hangat dan sabun, namun hindari produk pembersih, seperti hidrogen peroksida, karena bisa memperlambat penyembuhan luka. Setelahnya keringkan dengan handuk bersih. Balut luka dengan kain kasa jika luka basah atau bergesekan dengan pakaian. Ganti kain kasa tiap hari. Usahakan daerah sekitar luka selalu dalam keadaan kering.

Risiko Operasi Caesar

Meskipun terbilang aman prosedur ini tetap berisiko dan berpotensi menyebabkan komplikasi dibanding dengan melahirkan normal, baik untuk sang ibu maupun bayinya.
Berikut adalah beberapa risiko yang bisa terjadi saat menjalani operasi Caesar, di antaranya:

-Rasa sakit setelah operasi. Anda mungkin mengalami rasa sakit pada luka sayatan dan adanya ketidaknyamanan di perut Anda. Infeksi, terutama infeksi pada luka bekas operasi, infeksi saluran kemih, dan infeksi pada dinding rahim.

-Pembekuan darah di kaki atau paru-paru.

-Kehilangan banyak darah.

-Efek setelah pembiusan yaitu mual, muntah, dan sakit kepala.

-Timbulnya luka bekas sayatan dan jaringan parut. Hal ini tidak bisa Anda hindari usai menjalani operasi. Sayatan akan menimbulkan luka pada perut. Biasanya setelah beberapa tahun, luka tersebut akan tersamarkan.

Cedera pada organ lain. Hal ini dapat terjadi selama operasi.
Kematian. Namun hal ini sangat jarang terjadi. Kemungkinannya hanya sekitar 2 dari 100.000 ibu yang meninggal akibat operasi caesar.

-Risiko jangka panjangnya adalah leher rahim terhalang dengan tumbuhnya plasenta di dalam rahim, kondisi ini biasa disebut plasenta previa. Selain itu bisa juga mengalami gangguan plasenta seperti plasenta akreta yang dapat menyebabkan pendarahan hebat setelah melahirkan.

-Tidak hanya sang ibu, bayi pun kemungkinan akan mengalami beberapa kondisi seperti cedera saat persalinan dan gangguan pernapasan jika bayi dilahirkan sebelum usianya mencapai 39 minggu.

Editor: Quinna Bening